Berkompromi dengan Kekuatan

Rumah - - Belanja - @dekardha dian@tabloidrumah.com

Dulu, saat ingin membeli sepatu, kita akan berpikir berapa lama sepatu itu akan bertahan kita pakai. Dulu, saat ingin membeli piring, kita timbang-timbang dulu, pilih yang bahannya tebal, sehingga tidak mudah pecah. Dulu, bila ingin membeli lemari kita sangat teliti mengetukngetuk material kayunya dan memeriksa engselnya, untuk meyakinkan bahwa bahannya memang kuat dan engselnya tidak mudah rusak. Itu dulu. Sekarang, tidak selalu begitu. Apakah orang sekarang mengabaikan kekuatan? Tidak juga. Kekuatan penting, namun ada hal lain yang juga penting, seperti keindahan, kepraktisan, atau konsistensi ukuran. Kemudian kita pun berkompromi dengan kekuatan.

Jadi, saat membeli sepatu, piring, atau lemari, pertimbangannya tidak cuma “kuat atau tidak”. Melainkan ada pertimbangan tampilannya trendi atau tidak; tempat belinya jauh atau dekat; kalau beli banyak, ukurannya sama atau tidak, dsb.

Begitu pun dengan bahan bangunan. Sekalipun banyak orang meyakini bahwa bata merah juara dalam hal kekuatan, penjualan material alternatif terus menanjak. Alasannya macam-macam. Bisa karena pengerjaannya lebih cepat, hasilnya lebih rapi, atau bisa jadi karena setelah dihitung-hitung, harga akhirnya lebih ekonomis. Tentunya kekuatan tetap jadi pertimbangan, hanya saja pertimbangannya lebih realistis, disesuaikan dengan kebutuhan, dan dikompromikan dengan hal-hal lain. Bagaimanapun, material untuk rumah memang harus kuat, dong.

Made Mardiani Kardha

Editor in Chief

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.