Jadi Kota Seribu Hotel

Rumah - - Lintas Kota -

Kapan terakhir ke Jogja? Jangan kaget dan jangan bingung jika tempat yang Anda kunjungi terakhir kali sudah berubah drastis akibat berdirinya sebuah bangunan tinggi dengan banyak kamar dan seorang door boy siaga di depannya. Di Jogja, tempat seperti itu bernama hotel.

Tak harus dibangun di Malioboro atau Prawirotaman yang kesohor sebagai kawasan penginapan wisata, hotel di Jogja sudah merangsek ke seantero penjuru kota. Coba telepon pakde atau bulik Anda di Jogja, pastikan apakah rumahnya masih tetap di lokasi lama atau sudah pindah karena sudah disulap menjadi hotel.

Jangan heran juga kalau menginap di sebuah “boutique hotel” yang bersebelahan dengan toko bahan bangunan. Belum lagi menghitung jenis hotel dengan kelas “guest house” atau “homestay” yang tinggal menyulap rumah kosong menjadi rumah yang disewakan. Kalau mau saya bisa antar Anda di “guest house” yang semerbak dengan bau kotoran peternakan ayam di sebelahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah hotel khusus di Yogyakarta hingga awal 2014 tercatat 339 hotel, terdiri atas 43 hotel berbintang dan 356 hotel nonbintang. Memang akhirnya Pemerintah Kota Yogyakarta mengeluarkan Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 77 Tahun 2013 tentang Moratorium Pemberian Izin Pembangunan Hotel yang diberlakukan mulai 1 Januari 2014 hingga 31 Desember 2016. Namun sebanyak 104 permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) hotel baru tetap diproses karena diajukan sebelum moratorium pembangunan hotel diberlakukan.

Hebat kan? Jogja tak pudar pamornya sebagai daerah tujuan wisata nomor wahid di Tanah Air ini. Namun tak selalu demikian perasaan warga yang terdampak langsung pembangunan dan utilisasi besar-besaran itu. “Jogja Asat” alias “Jogja kering” adalah “hashtag” popular sepanjang tahun 2014 yang muncul akibat kekeringan sumur warga sekitar hotel yang air tanahnya tersedot oleh hotel. Puluhan tahun mereka nyaman menyedot air dari sumur di rumahnya, tanpa pernah asat, sebelum era hotel tiba.

Protes dengan tema “Jogja Asat” selain “Jogja Ora Didol” (Jogja Tidak Dijual) ini terekam dalam mural-mural di dalam kota Jogja. Bentuk protes kreatif lain tentang sumur kering di sekitar bangunan hotel ini juga bisa disaksikan, misalnya, di Youtube dalam bentuk film pendek berjudul “Belakang Hotel”. DOK. TRIBUN JOGJA (23 MARET

2015)

Spanduk penolakan pembangunan apartemen di Sleman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.