Keramik, Jiwa dan Napas Hunian

Bagi sang pemilik, keramik bukan hanya jadi elemen pengisi interior yang apik. Keramik juga menjadi alasan utama ketika memilih hunian miliknya.

Rumah - - Rumah Kita - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

AL”. Begitulah inisial yang tercantum di bagian bawah setiap keramik buatannya. Inisial ini adalah kepanjangan dari Ayu Larasati (28), si empunya karya. Sehari-hari, ibu satu anak ini mengolah lempung (tanah liat) menjadi sebuah karya cantik berupa cangkir atau mangkuk beragam motif. Keramik-keramik ini dihasilkan di garasi rumah miliknya yang ia sulap menjadi studio mini.

“Dari awal mencari rumah saya selalu fokus ke garasi, apakah bisa saya jadikan studio keramik atau tidak nantinya,” ungkap Ayu saat diwawancara Tabloid RUMAH di kediamannya di kawasan Bekasi. Itulah sebabnya, ia memilih rumah ini, karena ukuran garasinya cukup luas dibandingkan garasi rumah lainnya.

Ada alasan lain mengapa Ayu memilih rumah ini sebagai pilihan hunian sekaligus studio keramik, yakni sirkulasi udara yang baik. Ini memang pertimbangan utama Ayu ketika memilih tempat bernaung karena menurut Ayu, saat proses pembuatan keramik dibutuhkan banyak udara agar lempung dapat cepat kering. Sirkulasi udara yang baik juga dapat menggiring debudebu—yang dihasilkan oleh tanah liat—ke luar rumah.

“Saat lempung kering, maka ia akan menghasilkan debu yang bisa menimbulkan penyakit, makanya perlu banyak bukaan agar rumah tetap segar,” ujar Ayu menambahkan.

Tidak hanya itu, hunian dengan banyak bukaan dipilih karena wanita berparas elok ini juga menyukai udara dan cahaya alami yang dapat membawa kesegaran ke dalam ruangan.

STUDIO SEBAGAI RUANG BERMAIN

Garasi—yang jadi pertimbangan utama Ayu—adalah hal yang paling terlihat saat memasuki rumah ini. Garasi ini terbuka lebar dan dipenuhi oleh rak-rak berisi cangkir dan mangkuk yang baru setengah jadi. Garasi ini adalah “ruang bermain” Ayu, tempat ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya hanya dengan segumpal tanah liat.

Di bagian tengah ruang terdapat mesin putar yang digunakan Ayu untuk mengolah keramik. Mesin ini pernah ia gunakan saat tinggal di Toronto. Sebelum hijrah ke Jakarta, Ayu juga aktif membuat keramik di Toronto. Berpegang pada prinsip –tidak ingin membuang barang yang ia miliki—Ayu pun membawa mesin putar tersebut ke Jakarta.

“Waktu di Toronto saya tinggal di apartemen yang ketika membuka jendela dihadapkan pada gedung apartemen lainnya, jadi sangat senang bisa punya studio sendiri yang bukaannya lebar,” Ayu bercerita.

RUMAH “DO IT YOURSELF”

Ayu memaknai hunian sebagai sebuah wadah bernaung yang harus memenuhi unsur nyaman, sederhana, dan personal. Tiga hal inilah yang membuat Ayu dan suami, Budi Akbar Nurbani (30), mendekorasi huniannya dengan cara mereka, dengan tangan mereka.

Contohnya rak-rak lemari di area studio, yang dibuat sendiri oleh Budi. “Rak kayu ini suami saya yang buat. Kalau memang mudah kami akan buat sendiri,” tutur Ayu diselingi tawa. Tidak hanya itu, penataan interior pun Ayu kerjakan seorang diri dengan mengandalkan rasa seni yang ia miliki. Jadi, tidak heran kalau mereka menyebut hunian mereka ini dengan julukan “Rumah Do It Yourself” karena segala hal tentang rumah ini memang mereka kerjakan sendiri.

DIHIASI BARANG BEKAS DAN KERAMIK

Untuk menghadirkan unsur personal, Ayu menggunakan barangbarang yang memiliki kenangan dan kesan mendalam baginya. Kebanyakan barang-barang tersebut justru bukan barang baru, melainkan barang bekas yang ia dapatkan dari tempat sampah.

“Saya tidak bisa melihat barangbarang dibuang begitu saja. Apalagi, barang tersebut masih berfungsi, meski agak sedikit rusak,” ujar wanita yang pernah mengenyam pendidikan di Toronto, Kanada.

Ayu menambahkan, saat ia tinggal di Toronto, warga di sana kerap membuang barangbarang yang mengalami rusak ringan. Dengan seizin suami, ia memungut benda-benda tersebut, memperbaikinya, lalu ia bawa ke Jakarta. Bahkan, pasangan ini kerap kali menjual kembali barang-barang yang mereka perbaiki.

“Malah sering banget barang yang sudah diperbaiki kita jual lagi ke orang-orang, karena mereka pikir itu barang baru,” ujarnya diselingi gelak tawa.

Selain barang bekas yang diperbaiki, ada pula beberapa barang baru seperti rak kayu solid, meja makan kayu jati, dan kursi bergaya rastik di ruang makan. Ia menemukan barang-barang ini dari hasil hunting di Jakarta, Surakarta, dan Kanada.

Keramik hasil olahan tangan Ayu juga tampak menghias interior rumah mungil ini. Sebelum terjual, Ayu memang memajangnya di beberapa sudut di ruang keluarga kecilnya. Desain keramik yang menarik berpadu dengan furnitur apik, menambah keelokan hunian ala Ayu dan Budi ini.

Tampilan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Permainan warna solid pada lemari penyimpanan membuat ruang tampil tak monoton.

Sofa ini adalah sofa pemberian sang ibunda yang sudah tidak terpakai. Ayu menyisipkannya di sudut ruang keluarga mininya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.