Cerdik Menyiasati Dana yang Minim

Tanpa mengurangi keasrian dan kenyamanannya, konsep rumah kebun yang diimpikan berubah jadi rumah tumbuh karena terbatasnya biaya. Apa saja upaya yang dilakukan?

Rumah - - Rumah Kita - TEKS JOHANNA ERLY WIDYARTANTI erly@tabloidrumah.com FOTO TAN RAHARDIAN

Memiliki rumah di sebuah kompleks di pinggir kota yang padat di wilayah Jakarta Selatan, mendapat kaveling di bagian pojok, halaman sempit tak punya taman, merasa terasing dan tak gaul, itulah yang dialami pasangan Beny Waluyo Dwiyanto dan Dwi Pujiastuti, pasangan muda, pada awal pernikahan mereka.

Merasa tak nyaman karena jauh dari angan mereka akan sebuah rumah tinggal, akhirnya keduanya mulai berpikir untuk pindah rumah. Namun, apa daya, hanya kaveling (lahan kosong) yang mereka miliki. Itu pun letaknya masuk ke gang dan jauh dari keramaian kota. Belum lagi, anggaran untuk membangun rumah pun terbatas. “Bisa jadi rumah enggak ya dengan dana segini? kata Dwi mengisahkan kegalauan yang dialaminya saat itu.

Tak putus asa, usaha terus dilakukan dengan mencari info sebanyak mungkin, dengan bertanya ke banyak orang serta googling internet, yang mengantarkan perkenalannya dengan arsitek idolanya—Yu Sing—melalui dunia maya. Lokasi yang berjauhan dan kesibukan, menjadi alasan utama sehingga segala komunikasi hanya dilakukan melalui internet ( e-mail) dan telepon. Namun, itu sangat maksimal karena sampai membuahkan hasil dan deal membangun rumah dengan desain yang dibuat sang arsitek idola, bersama rekan arsiteknya, Yopie Herdiansyah. “Pertama yang suka banget tuh ketika Yu Sing bilang ‘sangat cukup’ ketika saya bilang dana saya hanya 200 juta-an,” ujar Dwi, begitu biasa dia disapa. Ibu satu anak ini pun mengisahkan, memang kala itu Yu Sing sedang ada program membangun rumah murah. Meski akhirnya total biaya yang keluar sampai rumah ini bisa ditinggali ada over budget, itu karena, Dwi dan suami sendiri yang mengganti beberapa material untuk elemen- elemen tertentu dengan pilihan mereka sendiri.

MATERIAL BEKAS

Pencarian material memang dilakukan sendiri oleh pasangan ini. “Karena dana kami terbatas, mau enggak mau, material bekaslah yang bisa kami beli,” ujar Dwi. Lagi-lagi, internet membantunya menemukan pusat-pusat penjualan material bekas (kayu), namun berkualitas.

“Semua kusen rumah menggunakan kayu jati bekas. Kami beli di daerah Tanah Abang,” ujar Beny menimbrung pembicaraan kami. Bahkan, daun pintu unik yang digunakan untuk pintu utama ternyata berasal dari kayu bekas juga. “Kalau pintu itu dari kayu bekas bantalan rel kereta. Sudah berlubang-lubang dari awalnya, enggak kami apa-apain,” ujar Dwi menambahkan.

SERBAEKSPOS

Ingin mendapat kesan alami dan keuntungan dari kealamian itu, semua elemen didominasi dengan material ekspos. Dinding memanfaatkan bata ekspos. Lantai pun dibiarkan tetap tampil dengan warna semen tanpa lapisan keramik atau pelapis lantai lainnya.

“Beberapa bata ekspos, akhirnya kami cat dengan warna putih. Itu karena kami ingin kesankan agak terang. Kalau cokelat semua kok kesannya gelap,” ujar Dwi. Dengan dominasi konsep ekspos ini, maka keuntungan yang didapat menurut Beny adalah mereka bisa menghemat biaya semen dan cat ( finishing). “Kami hanya perlu coating, dan itupun hanya di awal pasang. Sampai sekarang kami belum perlu meng- coating ulang karena masih bagus kondisinya,” ujarnya.

LUBANG VENTILASI

Tak hanya material ekspos yang membuat bangunan ini irit. Dinding rumah juga hanya sebagian yang benar-benar dibuat dari bata (tembok). Separuh bagian (dari tengah ke atas) dibuat dari susunan roster. Lubang-lubang roster ini selain menjadi jalannya udara juga meloloskan cahaya matahari ke dalam rumah. Terlihat sangat cantik karena lubang pada roster jadi semacam bingkai bagi setiap cahaya yang masuk.

Tak hanya di dinding, atap datar yang menggunakan bahan aspal merek Onduline dan plafon GRC ini, di beberapa bagian dibiarkan “terbuka” dengan penutup polikarbonat transparan yang memasukkan cahaya. “Rumah jadi terang, hanya nyalain lampu di sore menjelang malam,” ujar Beny.

Teras menjadi ruang transisi penyambut tamu yang pertama. Suasananya sejuk dikelilingi vegetasi hijau di sekitarnya.

Ruang keluarga dicapai dengan menuruni 9 anak tangga dikelilingi dinding kombinasi antara dinding acian, batu alam, dan bata ekspos.

Daun pintu dari kayu bekas bantalan rel kereta. Terlihat unik dengan cacat di beberapa bagiannya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.