Penuh Kreasi Sendiri di Sana-sini

Apakah mendekor isi rumah itu mahal? Dian Saptikasari—pemilik rumah di bilangan Pondok Gede, Jakarta Timur— membantah hal tersebut mentahmentah. Nyatanya, hasil kreasinya yang mengisi seluruh pelosok rumah berhasil memuaskan hati.

Rumah - - RUMAH KITA - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com FOTO TAN RAHARDIAN

Ada yang bilang, tampilan sebuah rumah dapat mencerminkan kepribadian sang penghuninya. Jika hal tersebut benar adanya, maka hanya satu kata yang bisa benar-benar menggambarkan pasangan Anjar Wiyoso (40) dan Dian Saptikasari (39) ini: kreatif.

Ya, hal itu bisa terlihat jelas dari penataan apik yang Tabloid RUMAH temukan ketika pertama menginjak bangunan seluas 160m2 ini. Sebagai contohnya, di bagian teras—area “penerima” di eksterior rumah— kami melihat partisi tiang putih tak beraturan yang menjadi pemisah tak masif antara taman dengan area tersebut. Di dalam area semiterbuka tersebut, kami pun menemukan gambar kupu-kupu tertanam cantik dalam pijakannya. Tentunya, tak akan bisa ditemukan dalam rumah klaster pada umumnya, bukan?

Interiornya pun tak kalah unik, penuh dengan aksen cantik di setiap sudut. Mulai dari ruang tamu berwarna-warni, area dapur penuh pernak-pernik, hingga taman vertikal bertembok biru. Sang istri, Dian Saptikasari, atau yang akrab disapa dengan Ika, merupakan “biang keladi” dari keunikan rumah yang berada di belahan timur Jakarta tersebut.

“Sebenarnya, saya senang sekali bereksplorasi dengan dekorasi rumah. Entah itu sebenarnya terlihat bagus atau malah tabrak sanasini. Malahan, suami saya yang cenderung agak datar-datar aja. Pas pulang ke rumah, dia kaget deh,” ujar Ika sembari tertawa renyah.

Ika pun mengakui bahwa penataan interior di rumah yang telah ia huni lebih dari 4 tahun ini tak menguras kocek secara berlebihan. “Maklum, waktu itu kan masih pasangan muda, dananya juga masih terbatas, kan?” tambah Ika. Namun, ternyata, dengan kreasinya tersebut, rumah ini malah terlihat unik dan lebih nyaman ditinggali.

AWALNYA, PINDAH KARENA TERPAKSA

“Sebenarnya, kami pindah ke sini karena daerah rumah kami yang dulu, yaitu di Jatiwaringin, sering

banget dilanda banjir. Kalau hujan, pasti banjir deh!” tukas wanita yang berprofesi sebagai Program Assistant ini. Ia pun menambahkan, meskipun air limpahan banjirnya tak sampai masuk ke rumah, namun aksesnya tergenang oleh air, bahkan tingginya mencapai setengah ban mobil.

Akibat alasan itulah, Anjar dan Ika memutuskan untuk mencari hunian dengan lokasi yang lebih aman dan jauh dari banjir. Kebetulan, saat itu Anjar dan Ika melihat sebuah perumahan yang baru dibangun di daerah Pondok Gede, Jakarta Timur. Ika mengakui, ia langsung jatuh cinta dengan lokasi perumahan tersebut. Jalanannya dipenuhi pepohonan rindang dan jauh dari keramaian.

Selain lokasinya, Ika pun menjelaskan, lahan yang berada di area hoek ini langsung menarik hatinya. “Jadi, rumah ini merupakan bangunan satu-satunya yang berada di hoek, namun tidak memanjang ke samping, melainkan memanjang ke arah belakang. Jadi, tipe bangunannya paling kecil, tapi tanahnya lebar. Kan enak kalau begini. Lebih baik kecil, nanti juga bisa diubah-ubah kalau sudah mulai menghuni rumahnya, kan?” jelas Ika.

PEMBANGUNAN DISESUAIKAN DENGAN BUJET

Dalam mengisi layout rumah, Anjar dan Ika tidak lantas memaksakan keadaan dana yang terbatas. Ketimbang mengisinya secara penuh, Anjar dan Ika memutuskan untuk membangunnya perlahan sesuai kondisi keuangan yang dimiliki. “Sebenarnya, master

plan keseluruhannya sih sudah ada, cuma ya menunggu adanya dana.

Ketika sudah ada, langsung deh kami bikin satu per satu,” ucapnya antusias.

Perubahan demi perubahan pun dilakukan pada bangunan yang semula bertipe paling kecil dibandingkan bangunan di sekelilingnya itu. Salah satunya adalah penambahan ruang makan yang tadinya tidak memiliki lahan sama sekali. Lalu, lambat laun, Anjar dan Ika pun memutuskan untuk membuat teras, yang khusus ditujukan untuk anjing peliharaan mereka. Di sana pun, ditaruh tenda khusus berwarna jingga untuk kedua anjing manis tersebut. “Tapi, lucunya, kalau sedang ada saya dan suami saya, mereka malah inginnya tidur di dalam rumah,” ujar Ika.

Selanjutnya, Ika mengungkapkan keinginannya untuk membangun balkon di lantai dua. “Maunya sih balkon atas itu jadi area duduk santai. Ingin lebih difungsikan saja sih,” tambah Ika.

KOMBINASI IDE BERSAMA SANG AYAH

Ketika ditanya perihal arsitek yang membantu Ika merancang rumahnya ini, Ika sontak menjawab, bahwa master plan- nya didesain oleh sang ayahanda. “Tapi ya itu tadi, kami mencicil pembangunan dari master plan tersebut, karena keterbatasan dana. Baru punya dana segini, ya sudah kami bangunnya seperti ini dulu,” kata Ika menegaskan.

Namun, dari segi desain, Ika menyatakan bahwa ia banyak mengombinasikan ide yang dirancang oleh sang ayahanda, dengan ide-ide yang ia miliki. “Masalahnya, Bapak kan arsitek zaman dulu, jadi ya idenya disesuaikan dengan ide saya. Jadinya, kami diskusi dulu. Saya maunya seperti apa, lalu saya konsultasikan ke Bapak, bagusnya memakai material apa, dan dipasang di mana,” ujarnya bercerita.

Untuk interior, Ika mengungkapkan bahwa sang ayah menyerahkan semuanya pada keinginan anak perempuannya tersebut.

“Tadinya, saya ingin memiliki interior rumah minimalis, seperti di rumah-rumah masa kini. Namun, ternyata suami saya menyukai desain vintage dan klasik. Saya pun suka mengoleksi pernakpernik. Alhasil, konsep minimalis yang tadinya ingin kami usung pun langsung buyar,” ujar Ika.

Uniknya, selain menggunakan koleksi pernak-pernik yang dimiliki, sebagian dari dekorasi rumah ini merupakan hasil kreasi Ika. “Rasanya, hampir tidak ada bidang atau ruang kosong di rumah saya. Saking isengnya, banyak dari dekorasi ini saya buat sendiri, seperti mengecat ulang kursi, berkreasi dengan dinding, hingga mengakali sofa. Meskipun, kadang-kadang, tanpa persetujuan suami saya, sih, hehe...” ujar Ika sembari tersenyum simpul. Ika menambahkan pula, material yang dipakai untuk mengisi interior rumah ini pun tidaklah mahal. Semua serba terjangkau. Bahkan, sebagian bantal dan karpet yang berada di rumah ini merupakan produk hasil karya Ika dan sang ibunda, dengan nama merek mom_ and1.

Alhasil, meskipun tanpa bantuan desainer ataupun dekorator, rumah milik Anjar dan Ika ini terasa sangat

homy dan fresh. Yang terpenting, dengan bujet terbatas, setiap rumah pun bisa disulap menjadi nyaman, unik, cantik, dan menjadi cerminan sang pemilik hunian.

Nuansa padu padan jingga didapat dari salah satu bidang dinding dan kain penutup sofa yang unik.

Tampilan area terdepan rumah tampak apik dan asri, berkat perpaduan taman nan hijau, dengan teras berpartisi putih.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.