MARK MAGEE SOSOK DI BALIK IKEA INDONESIA

Nama IKEA di Indonesia memang tengah “berkibar” kencang. Sejak awal dibuka, retail furnitur asal Swedia ini selalu dipadati pengunjung, terutama di akhir pekan. Lantas, siapakah yang menjadi sosok di belakangnya?

Rumah - - Halaman Depan - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

S uara tawa renyah menyeruak hebat dari ruangan itu, ruangan kantor bernuansa putih, dengan interior homy yang mengisinya. Suara itu lahir dari bibir seorang pria asing berbadan tinggi tegap. Kemeja putih dan jeans yang membalutnya, membuat pria ramah ini tetap terlihat kasual, meskipun ribuan kesibukan telah “mengantri” dengan sabar. Namun, cara bicara nan lantang, serta logat Inggris yang kental, membuat kesan berwibawa tak lantas hilang dari penampilannya pagi itu.

Wajar saja, pria bernama Mark Magee ini merupakan sosok penting di balik berdirinya IKEA— retail furnitur besar asal Swedia— di Indonesia. Retail yang dibangun di Alam Sutera, Tangerang, ini memang tengah hangat diperbincangkan. Pasalnya, sejak retail ini diluncurkan dan dibuka untuk umum, sejumlah 1.750.000 pengunjung sudah memadati bangunan seluas 35.000m2 tersebut.

Tak heran. Bagi Mark—demikian pria asal Britania Raya ini akrab disapa—para pengunjung akan merasa kesulitan untuk tidak mencintai IKEA. Kedatangan setiap pengunjung, selalu saja diwarnai oleh rona wajah riang dan ceria, dengan tangan yang siap menggenggam pernak-pernik rumah favoritnya. “Mereka akan berpikir, Ah, inilah yang saya butuhkan untuk rumah saya!” ujar Mark antusias.

MENGANDALKAN HASIL RISET

Mark menjelaskan, sebelum IKEA memutuskan untuk membuka cabangnya di Indonesia, tim IKEA pusat telah melirik kemampuan ekonomi yang dimiliki masyarakat Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan populasi terpadat keempat di dunia, dengan kelas masyarakat menengah yang sedang berkembang, dan kalangan keluarga muda yang menjadi konsumen bagi pasar ini,” ucap Mark dengan wajah semringah.

Selain itu, mengusung konsep IKEA yang ingin membuat sebuah hunian itu menjadi sebuah “rumah”, Mark dan tim IKEA lainnya mengadakan riset ke 200 rumah dari berbagai kelas ekonomi yang berbeda. “Banyak perbedaan signifikan yang membuat kami kaget. Hal ini tidak kami temui di negara lainnya. Contohnya saja, pola kehidupan masyarakat lokal Indonesia yang terbiasa hidup dengan kakek, nenek, orang tua, hingga cucucicitnya,” ungkap Mark.

Alhasil, hal ini pulalah yang diterapkan Mark beserta tim IKEA Indonesia lainnya, pada area

showroom serta pemilihan produk yang akan dipasarkan. Meskipun desain produk ini didatangkan langsung dari Swedia, pemilihan serta penerapannya mengadaptasi kebutuhan khalayak luas di Tanah Air.

MENEKANKAN PERIHAL LOKALITAS

Selain pemilihan produk-produk serta pengaplikasian sesuai karakter masyarakat Indonesia, Mark pun mengungkapkan, bahwa karyakarya “tangan” lokal pun diangkat dalam pengerjaan produk IKEA Indonesia ini. “Jadi, beberapa produk terbaru kami—seperti Nipprig dan Apikri—merupakan hasil desain dari IKEA, namun dikerjakan oleh para perajin lokal,” ucap pria bertubuh jangkung ini.

Mengapa demikian? Mark menekankan, kebanyakan kerajinan lokal dirancang dalam bentuk yang konservatif. Namun, jika dikemas dalam bentuk dan desain yang lebih kontemporer, maka perpaduan tersebut akan melahirkan produk yang ergonomis dan sedap dipandang. “Konsumen dari usia muda pun akan tertarik untuk memilikinya, bukan?” sahut pria penuh semangat ini.

Selain produk yang merupakan hasil kolaborasi ini, Mark dan tim IKEA Indonesia ingin mengusung lokalitas lebih dalam lagi. Salah satunya adalah penerapan motif batik pada seragam karyawan IKEA yang digunakan setiap hari Jumat. Meskipun warnanya memang mencirikan lambang IKEA—warna kuning dan biru—tetapi kami menerapkan motif batik kawung secara kontemporer,” ujar Mark menambahkan.

Pun, konsep lokalitas ini diterapkan di bagian terdepan toko IKEA Indonesia, yang menerapkan desain dekoratif motif batik, hasil kompetisi batik IKEA. “Rata-rata, yang memenangkannya merupakan desainer muda asal Indonesia,” kata Mark dengan lantang.

IKEA = MENYENANGKAN

Ketika ditanyakan perihal pandangan Mark tentang IKEA Indonesia, senyuman terbit dari bibirnya. Lantas, ia melontarkan satu kata: menyenangkan.

“Bagi saya pribadi, bekerja di sini, dengan tanggung jawab sebesar ini, bukanlah sebuah beban, melainkan menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan. Kami tidak mengenal batas antarjabatan. Bahkan, setiap karyawan pun bebas memberikan idenya masing-masing, tidak memandang jabatan yang ia miliki,” jelas pria yang juga mengagumi budaya Indonesia ini.

Di luar sudut pandang tersebut, Mark melihat, bahwa IKEA dirancang untuk menjadi pusat perbelanjaan yang menyenangkan dan membuat betah. Tak terkecuali, IKEA Indonesia. “Selain berbelanja, kita bisa window shopping, menemukan hal-hal yang bisa membuat terpana, lalu beristirahat untuk sekadar menyesap secangkir kopi atau menyantap menu makan siang di area food court. Bukankah itu menyenangkan?” ujar Mark sembari tertawa renyah.

Keriangan tersebut menutup perbincangan hangat kami, membuat kami semakin meyakini, pembawaan Mark yang akrab dan membumi ini pun serupa dengan karakter IKEA Indonesia yang homy, membuat seluruh pengunjungnya betah dan enggan beranjak. Feels

like home, kan?

Suasana showroom IKEA Indonesia.

Bangunan IKEA Indonesia yang terlihat eye-catching dari pinggir tol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.