Dekorasi di Segala Sisi yang Bikin Homy

Berkat tangan usilnya yang enggan berhenti mendekorasi, Windya Wardhani berhasil menyulap huniannya menjadi sebuah rumah unik nan homy yang membuat siapapun jatuh hati.

Rumah - - Rumah Kita - TEKS CANDELLA SARDJITO candella@tabloidrumah.com FOTO YANNIS RUDOLF PRATASIK, AKHMAD MAULANA

Meskipun Bandung terkenal akan udaranya yang sejuk, wilayah Cibaduyut ini merupakan salah satu daerah yang kesohor akan kegersangannya. Jalan-jalan besar, padatnya kendaraan, serta banyaknya pabrik di sisi jalan, merupakan beberapa alasannya.

Namun, siapa sangka, ketika memasuki salah satu jalan permukiman yang tak terlampau besar di daerah tersebut—hanya cukup untuk 2 mobil—RUMAH menemukan sebuah hunian apik nan unik, yang bisa terangkum dalam sebuah istilah bahasa Sunda: leutik camperenik. Artinya, kecil-kecil, tetapi sangatlah cantik.

Dari kejauhan saja, fasad rumahnya—dengan salah satu bidang yang dihiasi warna biru toska—sudah membuat mata tertambat, terutama jika berjajar dengan rumah lainnya. Seorang wanita bertubuh mungil keluar dari rumah tersebut, menyambut kedatangan kami sembari tersenyum ramah. “Mangga ka lebet (mari masuk), rumah saya mah begini saja,” ujar wanita berlogat Sunda ini rendah hati. Ya, wanita tersebut merupakan sang pemilik rumah, Windya Wardhani, atau biasa dipanggil dengan Inda.

Benar saja. Di balik pintu kayu tersebut, kami melihat sebuah hunian homy yang dipenuhi dekorasi di sana-sini. Di area ruang tamu saja, kami sudah disambut oleh ruang tamu berhiaskan bata ekspos, furnitur etnik, dan beralaskan karpet berwarna-warni yang tampak harmonis.

Lantas, semakin “dalam” kami menelusuri rumah ini, kami semakin menyadari, aksen dekoratif bernuansa penuh warna memenuhi elemen-elemen interior di dalamnya. “Seisi rumah ini memang saya dekorasi sendiri. Sudah suka dari dulu, sih,” ungkap Inda dengan wajahnya yang berseri-seri.

RENOVASI DARI RUMAH LAMA

Bangunan yang dihuni oleh Inda, Sony Wibowo Sulaksono— sang suami—beserta kedua buah hatinya, Naufal dan Sabrina, ini ternyata merupakan renovasi dari rumah lama. “Awalnya, rumah ini hanya terdiri dari satu lantai saja. Penataannya juga masih berantakan. Di bagian belakang ada ruangan kosong yang enggak tahu mau dipakai untuk apa. Mubazir, deh!” jelas Inda ketika menceritakan bangunan rumah lamanya tersebut. Ditambah lagi, kedua buah hatinya mulai beranjak remaja, menuju dewasa. Alhasil, Inda dan Sonny pun memerlukan ruang-ruang yang lebih luas dan lapang.

Akhirnya, pada tahun 2012, Inda dan Sonny memutuskan untuk merenovasi rumah tersebut, menggunakan bantuan kedua temannya yang juga berprofesi sebagai arsitek dan kontraktor. Delapan bulan berlalu, bangunan tiga lantai ini pun rampung dikerjakan.

“Sebenarnya, yang saya inginkan dari perancangan rumah ini enggak macam-macam kok. Hanya, penambahan kamar, adanya area salat (musala), pemakaian material ekspos di ruang tamu, serta adanya satu ruangan luas yang bisa memuat banyak anggota keluarga,” ujar Inda antusias. Selanjutnya, ujarnya, banyak juga desain yang diusulkan oleh sang arsitek, mulai dari penghawaan ruang di sudut rumah, hingga permainan bilah kayu di area plafon.

MODIFIKASI BARANG-BARANG LAMA

Dari keseluruhan pernak-pernik interior yang menghiasi setiap sisi rumahnya, Inda menyebutkan bahwa banyak pula di antaranya merupakan barang-barang lama yang dimodifikasi. “Salah satunya, kursi dan meja makan. Saya sudah beli satu set furnitur itu sejak lama. Tadinya, warnanya putih. Tapi, saya bosan melihatnya, jadi saya cat saja sandaran dan kaki-kakinya dengan warna jingga dan hijau toska,” kata Inda.

Tak jarang pula, hasil perburuan pernak-pernik—yang menjadi kegiatan dan hobi rutinnya—pun dimodifikasi kembali. Ada dari beberapa pajangan dinding yang ditambahkan rantai, ataupun diganti warnanya. “Oleh karena itu, saya selalu siap sedia cat semprot, hehehe. Biar saat saya tiba-tiba ingin menatanya tengah malam,

saya enggak susah untuk berkreasi, kan?” sahutnya ceria.

Selain itu, Inda juga mengungkapkan, bahwa banyak di antara pernak-pernik ini merupakan barang pesanan, atau custom. Misalnya, pajangan tulisan yang terbuat dari pelat besi. Awalnya, ia tidak memiliki pernak-pernik tersebut. Lantas, ia iseng bertanya kepada ahli pembuatnya, apakah bisa membuat pajangan pelat tipografi seperti itu. “Biasanya, para ahlinya sih pasti bisa membuatnya, walau enggak jarang juga, mereka menyebut pesanan saya aneh, hehehe,” Inda menambahkan.

MENDEKOR BISA JADI PENYEGAR PIKIRAN

Inda mengungkapkan bahwa sejak awal rumah ini direnovasi, tangannya sudah gatal untuk mendekor-dekor isi interiornya. “Memang pada dasarnya, saya senang sekali berburu pernak-pernik interior lucu, lalu menatanya sebagai bagian dari rumah saya,” ucap wanita yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ini bersemangat.

Bahkan, Inda mengakui, bahwa seringkali keinginan mendekor, menata, atau mengeksplorasi pernak-pernik interior, datang ketika hari sudah mulai malam. “Enggak jarang tuh, saya tiba-tiba kepikiran mau menata interior rumah saya, padahal sudah jam 10 malam. Mulai dari mindah-mindahin pot, mengecat ulang pernakpernik, sampai menata kain kursi. Hehehe...” Inda menceritakannya sembari tertawa renyah.

Wanita yang mengenyam pendidikan S2 di Belanda ini pun menjelaskan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan dekorasi ini ternyata bisa menjadi penyegar pikiran. “Apalagi kalau pekerjaan terasa sedang mumet dan sumpek, mendekor seperti ini tuh bisa jadi sarana saya untuk refreshing sesaat. Bisa melapangkan pikiran,” ucapnya lagi.

Bagi Inda, kegiatan mendekor dan hasilnya yang memuaskan ini sukses membuatnya betah untuk diam di rumah. Pasalnya, dari dulu, wanita aktif ini merupakan orang yang hobi bepergian, dan jarang ada di rumah. “Makanya, bagi saya, sih, rumah yang ideal bagi saya itu ya rumah yang bisa membuat saya betah di rumah. Dan, saya menemukannya di rumah ini,” ucap Inda menutup perbincangan hangat kami.

Furnitur-furnitur etnik kesayangan Inda menjadi “penyambut” tamu yang akan masuk.

Penggunaan lemari tua dan kursi kontemporer, berhiaskan bantal berwarna nge-jreng, mampu menjadi penambat mata yang harmonis.

Penerapan warna berbeda pada sandaran dan kaki kursi makan menjadi focal point bagi ruangan ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.