Pangkas Setengah Bangunan Agar Lebih Praktis

Saat tak lagi memiliki asisten rumah tangga, memiliki hunian yang terlalu besar dirasa kurang praktis. Alhasil, setengah lahannya dijual dan sisanya direnovasi.

Rumah - - Renovasi - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com LUAS SEBELUM RENOVASI : ±600M2 LUAS SETELAH RENOVASI : 258M2 LUAS LAHAN : 265M2 FOTO ADELINE KRISANTI

Rumah yang nyaman adalah rumah yang tidak terlalu besar namun dapat menunjang seluruh aktivitas. Begitulah pendapat Listyowati (52), pemilik rumah di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pemikiran itulah yang menjadi titik awal ia dan suami, Bambang Hartono (53), untuk merenovasi hunian mereka. Awalnya, hunian ini memiliki luas lahan ±600m2. Tetapi, pada tahun 2014 silam, Listyowati dan suami memangkas hunian mereka lebih dari setengah luas lahan awal sehingga luasnya menjadi 265m2.

Alasannya, kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa membuat pasangan ini tak ingin lagi menggunakan jasa asisten rumah tangga. Sehingga, aksi renovasi ini ditujukan agar kegiatan membersihkan rumah menjadi lebih mudah dan praktis.

“Karena terlalu luas dan tidak ada asisten rumah tangga, jadi kami memutuskan untuk menjual separuhnya dan merenovasi sisanya. Bayangkan bila harus membersihkan rumah seluas itu seorang diri,” ujar Listyowati membuka percakapan.

Dibantu sang arsitek, Arif Syarfin dari biro arsitek Cubics Design dan desainer interior Sonia Ferarry, ia dan suami membangun kembali konsep rumah ideal mereka. Beberapa perombakan dilakukan mulai dari area carport, ruang tidur anak, ruang keluarga, dapur, hingga menambah rumah kucing, taman kering, dan ruang cuci-jemur.

PERTAHANKAN KONSEP BANGUNAN LAMA

Bukan kali pertama rumah ini mengalami proses renovasi. Sebelumnya, yakni saat awal menempati rumah ini, keduanya merasa tidak sreg dengan desain dan kondisi bangunan rumah ini. Pasangan ini pun akhirnya melakukan perombakan total pada seluruh bangunan. Saat itu, ia menerapkan desain yang sedang tren pada zamannya dengan menggunakan unsur kayu pada setiap elemen interiornya.

“Kayu memang menjadi elemen favorit saya dan suami. Oleh karena itu, rumah ini lebih banyak diisi oleh material kayu,” ujar wanita penyuka kucing ini.

Ini yang membuat sang arsitek, Arif Syarfin, tak banyak mengubah tampilan interior, terutama yang menggunakan material kayu. Kayu adalah material yang tahan lama dan desainnya pun tak lekang oleh zaman. Oleh sebab itu, Arif hanya memperbaiki elemen kayu yang sudah rusak dan memolesnya kembali.

“Kami rasa material eksisting masih mewakili desain saat ini sehingga kami hanya memoles beberapa material kayu yang warnanya sudah pudar dan memperbaiki bagian yang agak rusak,” ujar Arif menjelaskan.

Selain itu, Arif menambahkan hunian ini sudah menerapkan bangunan ideal, misalnya standar jarak lantai ke plafon. Secara teknis, jarak lantai ke plafon akan memengaruhi kondisi ruangan. Bila terlalu rendah maka ruangan akan terasa panas dan lembap, begitu pun sebaliknya. Jarak ideal lantai ke plafon yang ideal adalah 2,8m dan rumah ini sudah mengantongi jarak ideal tersebut.

ROMBAK SANA-SINI

Sebelumnya, rumah ini dilengkapi area dapur kotor dan dapur bersih. Luas dapur kotor saat itu melebihi luas dapur bersih. Sehingga pada saat merenovasi kehadiran dapur kotor dihilangkan untuk memaksimalkan ruang. Area dapur kotor pun digantikan dengan area servis sedangkan dapur bersih mengalami perluasan dan perubahan bentuk.

“Desain kitchen set awal hanya model I sehingga kami mengubahnya menjadi model U agar pemilik lebih leluasa saat memasak,” ujar Arif menambahkan.

Material yang digunakan di area kicthen set cukup beragam, walaupun masih mengusung unsur serat kayu alami. Beberapa penambahan material seperti kaca pada backpanel, stainless steel pada backsplash, material solid

Pemilik rumah menyisipkan sebuah meja makan mini di area dapur. Jadi, ketika tamu yang bertandang jumlahnya banyak, mereka dapat menggunakan area duduk di tempat ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.