GIAT MEMBANGUN RUMAH MURAH

Rumah - - Front Page - EDDY GANEFO

“B etapa orang itu membutuhkan rumah sesuai dengan kemampuannya. Terutama masyarakat-masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka itu nangis. Saya pikir mereka mau marah dibangunkan rumah kecil. Rupanya berterima kasih. Yang tadinya saya mau berhenti bangun rumahrumah kecil, jadi saya teruskan sampai sekarang.”

Begitulah sepenggal kisah seorang Eddy Ganefo Dawami ketika menceritakan awal mula ia memiliki ketertarikan untuk membangun perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kejadian tadi membuat jiwanya serasa tersentuh sehingga ia bertekad tetep membangun rumah murah.

SAMBUTAN BAIK DARI MASYARAKAT

Eddy dikenal sebagai Presiden Direktur PT Dinamisator yang memfokuskan pembangunan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Pekerjaannya ini selaras dengan organisasi yang ia tekuni saat ini, yaitu Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI), yang mewadahi pengembang kelas menengah ke bawah.

Sebelum mencapai semua ini, ia memulai karirnya di bidang pertambangan batu bara, PT Tambang Batubara Bukit Asam. Karir ini sejalan dengan pendidikan yang ia tempuh, yaitu teknik mesin. Namun, rupanya ia merasa tidak cocok dan kemudian memutuskan pindah ke PT Wijaya Karya (WIKA) yang berkecimpung di bidang konstruksi. Lambat laun, ia berhenti lalu mencoba peruntungannya dengan membuka jasa kontraktor sendiri pada tahun 2000 yang dinamai dengan PT Dinamisator.

Baginya, bekerja adalah sarana belajar. Selama bekerja, ia berusaha menyerap ilmu sebanyak mungkin untuk bekalnya membuka peluang bisnis. Begitu pun dengan kuliahnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini sebagai pengembang. “Kuliah itu bukan tujuan, tapi buka wawasan. Jadi, kita mau jadi apa wawasan kita sudah terbuka,” ucap pria kelahiran Palembang ini.

Di PT Dinamisator, ia mulai membangun kawasan permukiman murah di Cikupa, Tangerang. Tipe rumah yang tersedia hanya satu, yakni tipe 22 dengan luasan tanah 60m2. Ia mengaku, ia cukup terkejut dengan ukuran rumah ini. Pasalnya, ia dulu bekerja di kontraktor besar yang biasa menangani proyek-proyek besar. “Pas lihat rumah di situ rasanya tidak mau meneruskan karena rumahnya, menurut pandangan saya waktu itu, sangat tidak layak dari sisi luasannya,” ceritanya seraya mengenang.

Namun, rupanya perumahan itu mendapat sambutan baik dari masyarakat. Ternyata tak sedikit konsumen yang membutuhkan rumah dengan tipe itu karena keterbatasan kemampuan mereka. Harga yang ditawarkan ketika itu masih sekitar Rp50 jutaan. Hal ini membuat keinginannya untuk memperjuangkan hakhak masyarakat berpenghasilan rendah untuk bisa mengakses rumah menjadi begitu besar.

Selain membangun rumah murah, ia juga pernah melakukan uji materi yang tertuang pada undang-undang nomor 1 tahun 2011. Ketika itu, ada salah satu pasalnya yang melarang rumah di bawah tipe 36. “Ini yang saya gugat di MK dan saya bersyukur kita dimenangkan mutlak. Padahal pas pertama kali saya bangun rumah merasakan sekali bahwa konsumen itu butuh rumah yang murah. Sedangkan yang murah itu adalah rumah tipe di bawah 36, yaitu tipe 21-22. Ini harganya yang terjangkau di mereka,” ujar pria ramah yang gemar bercanda ini.

Berkat jasanya, ia pun meraih banyak penghargaan. Di antaranya, penghargaan dari Majalah Property & Bank sebagai tokoh konsisten membangun rumah bagi masyarakat-masyarakat rendah, penghargaan dari Koran Sindo sebagai tokoh inspirasi, serta yang baru saja diperoleh yaitu sebagai salah satu tokoh nasional penggerak sejuta rumah.

BERBISNIS SEJAK KULIAH

Siapa menyangka ternyata jiwa bisnis Eddy sudah ada sejak ia duduk di bangku kuliah. Hingga tamat kuliah, pekerjaan itu masih ia geluti.

“Sebelum kerja di PT Tambang Batubara Bukit Asam, saya waktu kuliah sering ke kalangan (pasar) pagi. Ayam kampung saya beli lalu saya jual ke restoran padang. Kalau bulan puasa saya jual kelapa muda. Mungkin di situ jiwa bisnis saya terbentuk,” ucapnya seraya mengenang.

Ia menambahkan, “Saya menghadap orang tua. Saya minta bantu modal. Kalau tidak salah waktu itu dikasih Rp500.000. Bapak saya itu bukan orang tidak mampu, bukan juga orang kaya. Cuma karena jiwa saya pengen berbisnis ya jadi saya berbisnis seperti itu,” lanjutnya.

RUMAH KECIL PENUH TANTANGAN

Ketika ia memutuskan untuk lebih fokus membangun rumah kecil, rupanya ia banyak menemukan beragam rintangan. Masalah pertanahan, subsidi untuk konsumen, pajak, kebebasan, regulasi (baik dari kementerian perumahan maupun dari bank), dan sebagainya, banyak ia temui di tengah jalan. Namun, ia berusaha menyikapinya dengan baik. Justru, hal itu membuatnya tertantang untuk terus belajar dan menjadikan kekuatan baginya.

“Rumah kecil itu lebih susah karena banyak sekali kendala-kendalanya tadi. Karena kita mau menyediakan rumah untuk orang yang tidak mampu dan dengan harga dibatasi pemerintah, jadi kita tidak bisa menaikkan harga. Misalnya, harganya Rp110 juta. Kita tidak bisa jual Rp110.000.001. Karena lewat 1 rupiah saja sudah kena pajak,” tutur ayah tiga anak ini.

Kendala lainnya, menurut Eddy, adalah ketika dihadapkan dengan masalah pembelian material bangunan yang kian hari cenderung meningkat. Saat ini terjadi, ia punya siasat dengan memilih material serupa namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Baginya, melakukan bisnis seperti ini sangat membahagiakan. Ia dapat melihat semua masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah. “Yang saya suka dari perkerjaan ini yaitu bisa membantu orang untuk dapat hunian,” ujarnya menutup perbincangan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.