Ketika Klasik Bertemu Shabby Chic

Siapa bilang gaya klasik dan shabby chic tidak cocok diterapkan di rumah berukuran mungil? Nyatanya, keterbatasan ruang yang dimiliki rumah ini bukan sebuah masalah saat harus didesain dengan gaya klasik dan shabby chic.

Rumah - - RUMAH KITA - TEKS EMILIA NURIANA emilianuriana@gmail.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

P emilihan gaya klasik diakui Shanti Riyanto (42), pemilik rumah, karena terinspirasi dengan desain rumah orang tuanya. “Dari kecil, saya sangat akrab dengan desain gaya klasik karena rumah orang tua bergaya klasik. Entah kenapa, walaupun saya melihat ada banyak gaya desain rumah saat ini, tetapi saya sudah terlanjur jatuh hati dengan gaya klasik,” ucap Shanti. Namun, mengingat lahan rumahnya yang terbatas dan tidak seluas rumah orang tuanya, Shanti sengaja melakuan sedikit penyesuaian. Tujuannya, agar gaya klasik yang ia terapkan di interior rumahnya tidak terkesan “berat” dan padat.

Awalnya, Shanti bingung harus mengawinkan gaya klasik ini dengan gaya apa. Setelah melihat berbagai referensi dari majalah dan tabloid yang mengulas tentang interior, ia akhirnya memutuskan untuk mengawinkan gaya klasik dengan shabby chic. “Saya melihat kedua gaya ini jika digabungkan menghasilkan desain yang unik dan saya menyukainya. Akhirnya, saya memilih memadukan kedua gaya ini,” kata Shanti yang menerangkan bahwa proses pembangunan rumah ini memakan waktu 1 tahun.

Sempat ada Hambatan

Pada proses perancangan awal, Shanti menyerahkan desain dan pembangunan rumahnya ke jasa pemborong rumah. Namun, kerjasama itu terpaksa ia hentikan karena ada ketidakcocokan visi. “Saya sengaja menghentikan dan tidak meneruskan kerjasama karena jasa pemborong tukang yang saya pilih tidak melakukan pekerjaan secara profesional,”

aktif diskusi demi HasiL terBaik

empat ruang tanpa sekat

Bersama Nurrizka, Shanti sering melakukan diskusi demi mewujudkan rumah impiannya. Ia bahkan tidak sungkan untuk memperlihatkan beberapa referensi desain yang menurutnya menarik, yang ia ambil dari majalah atau tabloid. Dengan adanya diskusi dan beberapa foto yang diperlihatkan Shanti, Nurrizka merasa sangat terbantu karena makin memahami apa yang ucapnya. Tak ingin terjerumus ke dalam lubang yang sama, Shanti memutuskan untuk menggunakan jasa arsitek.

“Setelah berselancar di dunia maya, saya akhirnya menemukan konsultan arsitek yang bisa mewujudkan rumah idaman saya,” ucap wanita yang suka memelihara kucing. Ia akhirnya menunjuk Va’astu Design Studio sebagai konsultan arsitek untuk rumahnya dengan Nurrizka sebagai arsiteknya. diinginkan pemilik rumah.

“Bekerjasama dengan mbak Shanti ini paling nyaman. Dia sudah tau pasti apa yang dia inginkan, jadi saya lebih mudah membuatnya,” kata Nurrizka. Dari hasil diskusi ini, dihasilkan desain fisik rumah bergaya modern, furnitur bergaya klasik, dan aksesori serta detail-detail menarik bergaya shabby chic.

Dikarenakan ukuran ruang yang terbatas, membuat Nurrizka harus bersiasat dalam merancang ruangan-ruangan di rumah ini agar tidak terlihat terkesan “berat” dan penuh. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak membuat sekat di 4 ruang sekaligus, sehingga membuat ruang ini “blong” tak berdinding. Ruangan itu meliputi ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur bersih. Walau secara fisik keempat ruang ini menyatu, tetapi tetap memiliki batas semu berkat penataan dan desain yang tepat.

Warna hijau zaitun dipilih untuk interior karena warna ini mudah dipadukan dengan warna lain dan berkesan mewah namun tak berlebihan LUAS BANGUNAN: 102m2 LUAS LAHAN: 300m2

memasuki pintu depan, kita akan disambut

mungil yang tetap tampak mewah.

foyer

area dapur bersih tak ketinggalan bersolek dengan pernakpernik shabby

chic yang manis

khusus untuk lantai kamar menggunakan lantai parket jenis kayu merbau yang terkenal kuat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.