ANTIBOCOR, TAHAN PANAS, & Cepat KERING

Rumah - - Halaman Depan - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com

Anda tentu tahu Candi Borobudur yang terletak di Jawa Tengah atau Piramida di Mesir. Kedua situs bersejarah tersebut rupanya dibangun dengan menggunakan semen sebagai material pengikatnya. Ya, sejak dulu semen sudah menjadi material utama dalam membuat sebuah bangunan. Davy Sukamta, Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), mengungkapan penggunaan semen sudah diakui bahkan jauh sebelum serbuan gedung-gedung pencakar langit yang saat ini memenuhi ibu kota. Hanya saja, komposisi material pembentuk semen dulu dan sekarang cukup berbeda.

Dulu, semen diperoleh dari hasil pencampuran abu vulkanik dan batu kapur. Saat ini, semen terbuat dari campuran silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina), dan oksida besi. Seluruh bahan tersebut kemudian diolah untuk dapat menghasilkan partikelpartikel kecil. Untuk dapat membuat sebuah bangunan yang kokoh, semen harus dicampur dengan air dan pasir, lalu bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti spasi antarbata, plesteran dinding, lantai, dan trasraam. Jika ingin dibuat beton untuk stuktur kolom, lantai, dan dak beton, semen harus dicampur air, pasir, dan batu kerikil.

Untuk dapat menghasilkan sebuah adonan semen yang kuat dan kokoh dibutuhkan produk semen yang berkualitas. Tak heran jika para produsen terus melakukan riset guna mendapatkan kualitas semen yang lebih baik dan menciptakan inovasi semen baru sesuai permintaan pasar. Beberapa produsen material seperti Siam Cement Group (SCG) Jayamix dan Duta Sarana Perkasa (Dusaspun)—lewat anak perusahaannya RAPI Hijau Perkasa—telah menciptakan racikan semen baru yang dapat meningkatkan kualitas sebuah bangunan. Apa sajakah inovasinya?

Campur tangan teknologi melahirkan material-material tangguh yang mempermudah proses pembangunan. Semen adalah salah satunya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.