Semen dari Ampas Batu Bara

Pemanasan global rupanya memunculkan penemuan-penemuan baru seputar material hijau untuk bangunan. Salah satunya semen ramah lingkungan dari limbah batu bara ini.

Rumah - - Material - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com

Sustainable construction atau biasa dikenal dengan konstruksi berkelanjutan merupakan upaya yang digembar-gemborkan arsitek dunia guna menciptakan sebuah bangunan yang lebih ramah lingkungan. Upaya tersebut melahirkan beragam material baru yang mengantongi sertifikat ramah lingkungan. Salah satunya fly ash atau abu terbang. Sebenarnya, penggunaan fly ash sebagai pengganti semen sudah dimulai sejak dulu. Hanya saja, material ini kembali marak digunakan sebagai salah satu material hijau.

Davy Sukamta, Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), menuturkan fly ash merupakan material alternatif pengganti semen yang kini marak digunakan dalam konstruksi-konstruksi besar. Seperti namanya, fly ash merupakan butiran debu yang memiliki tekstur lebih halus ketimbang semen, sehingga cocok dijadikan material pengganti semen.

“Fly ash merupakan limbah dari sisa pembakaran batu bara. Limbah ini berbentuk debu menyerupai semen tetapi teksturnya lebih halus,” ujar Davy.

Di Indonesia, penggunaan fly ash sudah banyak dipakai untuk konstruksi-konstruksi berskala besar seperti pembangunan gedung bertingkat. Sedangkan untuk pembangunan berskala kecil, seperti rumah, fly ash hanya dijadikan sebagai bahan campuran yang bisa dipakai untuk plesteran. Di Indonesia, sudah ada produsen semen yang mencampurkan produk semen mereka dengan fly ash, sehingga konsumen tidak perlu repot mendatangkan fly ash.

Bila ditilik secara kekuatan, semen yang dicampur dengan fly ash akan lebih kuat dan kokoh. Kenaikan suhu awal yang kerap terjadi pada semen biasa cenderung menimbulkan retak karena panas hidrasi, tetapi bila dicampur dengan fly ash keretakan tersebut akan berkurang.

Davy menuturkan setidaknya dengan menggunakan fly ash, semen yang digunakan tidak harus 100%. Sehingga, Anda bisa menghemat semen dan mengurangi dampak karbondioksida yang ditimbulkan oleh semen. Beberapa negara, seperti Thailand, sudah menggunakan fly ash sebagai material konstruksi. Di Indonesia sendiri penggunaan fly ash masih terhambat oleh akses dan biaya.

“Fly ash biasanya didatangkan dari lokasi pertambangan batu bara yang lokasinya sangat jauh dan sulit diakses, sehingga ongkos untuk mendatangkannya masih sangat mahal. Imbasnya, harganya akan jauh lebih mahal ketimbang semen biasa,” tutur Davy. Walau demikian, kehadiran fly ash setidaknya menjadi upaya dalam mengurangi dampak pemanasan global.

www.manatts.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.