Masjid Cut Meutia

Rumah - - Jalan-Jalan -

Setelah berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit dari Gedung Joang 45, ada sebuah plang melingkar bertuliskan “Masjid Cut Meutia”. Plang tersebut menjadi “penyambut” para pesinggah bangunan beratap hijau ini. Biasanya, mereka adalah kaum Muslim yang ingin menunaikan ibadah di masjid berfasad putih tersebut.

Sekilas, bangunan yang terdapat di Jalan Cut Meutia No. 1 ini tak tampak seperti sebuah masjid. Bangunan ini lebih terlihat seperti sebuah bangunan museum. Tak heran. Pasalnya, bangunan ini merupakan salah satu sisa kejayaan masa kolonial yang telah beralih fungsi menjadi masjid.

Pada awalnya, bangunan ini merupakan sebuah kantor biro arsitek N.V Bouwpleg, milik P.A.J Mooijen, sang arsitek di balik penataan kawasan Gondangdia. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan ini berkali-kali berubah fungsi, mulai menjadi kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, hingga menjadi kantor Kempetai Angkatan Laut pada masa pendudukan Jepang. Akhirnya, pada 18 Agustus 1987, barulah bangunan ini diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi, yang dinamai Masjid Cut Meutia.

Meskipun sudah menjadi rumah ibadah, keaslian bangunan ini sama sekali tak diganggu gugat. Bahkan, tulisan Bouwpleg—nama semula bagi bangunan ini—masih bisa Anda lihat di salah satu ruas bangunannya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.