RUMAH RAPI, BARANG MUDAH DICARI

Rumah yang rapi ternyata membawa banyak keuntungan. Jiwa tenang, tamu senang bertandang, waktu tak banyak terbuang.

Rumah - - Laporan Utama - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Inilah yang umum terjadi: semakin lama kita tinggal di sebuah rumah, semakin banyak barang yang kita miliki. Padahal, ruang yang tersedia cukup terbatas dan tidak ikut bertambah besar seiring bertambahnya barang-barang. Apa yang kemudian terjadi? Penghuni rumah berebut tempat dengan barang. Bila ini dibiarkan, bisa-bisa kita hidup di tengah timbunan barang!

Karena itu, barang-barang yang ada di dalam rumah perlu dikelola dengan baik. Ada dua tujuan utama pengelolaan barang di rumah yakni agar rumah terlihat rapi dan supaya barang lebih mudah ditemukan.

Rapi = SumbeR Ketenangan

Rumah yang rapi membawa banyak keuntungan. Menurut buku The Life-Changing Magic of Tidying yang dikarang oleh Marie Kondo, seorang orginizing consultant dan penulis buku dari Jepang, rumah yang rapi bukan hanya membawa ketenangan, namun juga kedamaian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk memperbaiki diri. Menurut Kondo, rumah yang rapi secara psikologis akan membuat si penghuni terpacu untuk mengatur hidupnya dengan baik. Kondo pernah mengadakan penelitian dengan beberapa orang dan menemukan jika orang yang rumahnya rapi akan mengambil makanan yang lebih sehat dan sebaliknya orang yang berantakan akan cenderung mengambil makanan secara acak.

Mungkin Anda tak percaya dengan penelitian itu. Namun pernahkah Anda merasakannya, ketika rumah rapi, Anda lebih terpacu untuk menulis, berolahraga, bercengkerama dengan keluarga, atau mengerjakan hobi Anda?

Hal yang sama dinyatakan Enira Arvanda, dosen Departemen Arsitektur Interior Universitas Indonesia. Lebih lanjut menurutnya, rumah yang rapi juga membuat tamu jadi suka berkunjung ke rumah. Bayangkan, jika rumah dalam keadaan berantakan, jangankan tamu, Anda saja mungkin tak betah berada di dalamnya, kan?

Rapi = Hemat WaKtu

Anda mungkin pernah mengalami hal ini: mencari payung lalu membongkar semua penyimpanan di rumah. Payung tak kunjung Anda temukan, padahal benda itu sangat Anda butuhkan di musim hujan. Alhasil, Anda tak bisa keluar rumah karena hujan, rumah berantakan karena semua barang Anda keluarkan, dan Anda menghabiskan waktu Anda untuk mencari dan merapikan kembali barang-barang Anda.

Ya, barang yang dikelola dan disimpan dengan baik membuat Anda bisa menemukan kembali dengan mudah barang yang Anda butuhkan. Tak hanya Anda, orang lain yang tinggal bersama Anda pun bisa dengan mudah menemukannya. Enira, yang juga seorang ibu rumah tangga, menceritakan pengalamannya. Ia pernah menyimpan barang dan kemudian suaminya tak menemukannya. Akhirnya, sang suami pun harus mencari barang tersebut cukup lama dan berkalikali menelponnya. Tentu membuat keadaan jadi tak tenang, kan?

baRang peRlu “RumaH”

Tapi perlu diingat, pengelolaan ini hanya bisa berjalan dengan baik bila aturan utama dijalankan, yaitu: disiplin. Disiplin dalam meletakkan barang sesuai tempat yang sudah Anda siapkan, disiplin dalam berbelanja, dan disiplin dalam membuang yang tidak perlu.

Ayu Setyowati, salah seorang arsitek yang pernah tinggal di Jepang, bercerita jika di sana semuanya serba sempit, sehingga penyimpanan menjadi hal krusial. Itu sebabnya, semua hal di Jepang dibuat agar mudah disimpan. Tempat tidur, sandal, benda-benda lainnya dibuat bisa dilipat sehingga mudah disimpan. Selain itu, orang Jepang sangat menghargai barang yang mereka punya, sehingga mereka menyimpannya dengan sangat rapi. “Rapi itu bisa dimulai karena kita mencintai barang yang kita punya. Kita tak ingin rusak, makanya barang disimpan dengan baik.”

Dari mana memulainya? Menurut Ayu, juga Kondo, yang perlu dilakukan pertama kali adalah membatasi jumlah barang yang dibeli. Jika rumah berantakan, berhenti membeli barang. Lihat dulu barang yang sudah ada, kelola. Dapat dimulai dari barang yang paling menyita rumah Anda (biasanya pakaian), lalu ke bendabenda lain yang ada di rumah. Jangan lupakan benda-benda kecil seperti perkakas karena itulah yang paling sulit ditemukan.

Setelah rumah tertata rapi, biasakan untuk menyimpannya kembali ke tempatnya. Menurut Nia Wardhana, psikolog, agar terbiasa mengembalikan barang, yang harus ditanamkan di pikiran adalah setiap barang harus punya “rumah.” Setiap benda butuh tempat untuk menyimpan, baik itu berupa lemari, boks, atau laci. Karenanya, setiap mengeluarkan barang, maka barang tersebut harus dikembalikan lagi ke tempatnya. Terlihat sepele, namun bisa membuat rumah senantiasa rapi. Mengembalikan gantungan baju ke dalam lemari sama mudahnya dengan meletakkannya di atas tempat tidur, namun hasil yang didapat akan berbeda.

Siap untuk mengorganisasi barang-barang Anda?

loKaSi DeSaineR

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.