OPER KREDIT RUMAH SUBSIDI

Tidak ada salahnya melakukan oper kredit ( over kredit) KPR rumah bersubsidi, tapi ikuti aturannya. Alih-alih mendapatkan rumah, Anda justru dikenakan sanksi.

Rumah - - Halaman Depan - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Dhita (25) dan Ferry (28) adalah pasangan suami istri yang sudah setahun belakangan ini mencari rumah di bilangan Jakarta Selatan dan sekitarnya. Berbagai komplek perumahan, baik baru maupun lama, sudah mereka sambangi, tetapi hasilnya nihil. Rumah-rumah yang mereka datangi kebanyakan berharga mahal. Maklum, mereka merupakan pasangan muda yang memiliki penghasilan di bawah Rp4 juta. Jadi, target mereka adalah mencari rumah seharga kurang dari Rp200 juta. Beruntung, teman seprofesi Dhita menawarkan sebuah rumah subsidi di kawasan Cisauk, Tangerang Banten. Rumahnya masih berumur 6 tahun dan dalam kondisi baik.

Pemilik sebelumnya membeli rumah tersebut seharga Rp70 juta dengan sistem KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) selama 15 tahun cicilan. Dhita mengaku ia mendapatkan rumah tersebut seharga Rp58 juta dan meneruskan sistem cicilan yang tersisa, yakni 10 tahun. Sebulannya, ia harus menyetorkan uang ke pemilik lama senilai Rp400 ribuan. “Kenapa ke pemilik lama?” ucap kami bertanya.

Rupanya, Dhita membeli rumah tersebut dengan sistem di bawah tangan alias melalui jasa notaris dan pengacara, tanpa melibatkan pihak bank yang bersangkutan. Cara tersebut ditempuh karena saat itu pemilik lama merasa prosesnya akan lama dan berbelit-belit bila melalui bank. “Melalui notaris dan pengacara, kita sudah membuat nota perjanjian yang akan mengatur sistem pembelian rumah ini. Biayanya hanya Rp1,5 jutaan,” ujar Dhita menerangkan kepada RUMAH.

Namun, cara mendapatkan rumah seperti ini rupanya rentan terjadi masalah. Pasalnya, siapa yang dapat menjamin pemilik baru akan menuntaskan cicilan yang tersisa dengan benar dan pemilik lama tidak nakal menawarkan oper kredit ke pihak lain?

TaK sEMbaraNG OPEr KrEDIT

Sebenarnya, Oper kredit rumah subsidi sah-sah saja dilakukan, tetapi prosesnya harus benar. Maurin Sitorus, Deputi Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan saat MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) ingin menjual rumahnya, maka ia harus menjualkan kepada pemerintah agar nantinya pemerintah yang menjualnya kembali kepada MBR lainnya. Namun diakuinya, peraturan ini belum terealiasasi. Pasalnya, belum ada badan khusus yang terbentuk untuk menjual rumah subsidi tersebut.

Satu peraturan yang pasti untuk mencegah penyimpangan terhadap rumah subsidi ini adalah sebelum melakukan akad kredit, para MBR diharuskan menandatangani perjanjian dengan pemerintah yang diwakili oleh direktur Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan Rakyat (BLUPPP), yang berisi aturan fasilitas FLPP tidak akan dipindahtangankan kepada pihak lain, kecuali pewarisan. Namun, bila perekonomian MBR tersebut semakin baik, maka ia diperbolehkan menjual rumahnya tersebut.

Sebelum dijual, pemilik rumah subsidi diharuskan menempati hunian mereka selama 5 tahun (untuk rumah tapak) dan 20 tahun (untuk rusunawa). “Bila ketahuan melakukan oper kredit sebelum ditempati selama 5 tahun maka dikenakan sanksi pidana denda maksimal Rp50 juta, pembatalan kepemilikan rumah oleh pengadilan, dan berkewajiban mengembalikan seluruh fasilitas subsidi yang diberikan kepadanya,” ujar Maurin menegaskan.

PrOsEs rEsMI MELaLuI baNK

Dalam kasus Dhita, ia tidak melakukan kesalahan karena ia tergolong MBR dan rumah yang ia beli sudah lebih dari 5 tahun ditempati. Namun, ia seharusnya melakukan transaksi melalui bank agar lebih aman dan terpercaya. Selain itu, transaksi di bawah tangan tidak dianjurkan karena rentan terjadi masalah. Bagaimana kalau selama proses, pihak pertama (penjual) nakal, seperti meng-overkreditkan rumahnya ke berbagai pihak atau bisa saja pihak pertama melunasi hutang KPR dan mengambil sertifikat rumah tersebut.

Proses oper kredit yang benar adalah melalui pihak bank yang bersangkutan dengan cara membuat KPR baru. Walaupun mudah, prosesnya oper kredit melalui bank memakan waktu lama. Selain lebih aman dan terpercaya, kelebihan lain oper kredit melalui bank adalah sertifikat sudah dapat dibalik nama atas nama pembeli. Walaupun tetap dijadikan jaminan oleh bank, selama pembayaran belum lunas.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.