ORNAMEN DARI LIMBAH BATU ALAM

Terbuat dari campuran batu alam, ornamen ini mampu tampil memikat berkat kesan alami yang ditimbulkannya.

Rumah - - Halaman Depan - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO AKHMAD MAULANA

Teksturnya begitu memikat, pun penampilannya begitu kokoh dan kuat. Itulah pesona batu alam yang membuatnya masih digandrungi hingga saat ini. Namun, harganya yang mahal dan perawatannya yang rumit, membuat pemilik rumah enggan untuk mengaplikasikan batu alam ke dalam hunian mereka.

Peluang ini dimanfaatkan Maxpo Stone untuk menjerat para pemilik rumah yang ingin mendapatkan kesan natural batu alam dengan harga terjangkau. Dengan memanfaatkan limbah batu alam, Maxpo Stone mengubah serpihan batu alam menjadi ornamen dan material yang memiliki bentuk dan tekstur laiknya sang material asli. Kolaborasi kreativitas dan teknologi mutakhir menghasilan sebuah ornamen cantik yang sarat kesan alami. Dalam perjalanannya selama 1 tahun ini, Maxpo Stone telah menelurkan dua produk, yakni Cultured Stone dan Composite Stone.

UntUk EkstErior dan intErior

Tunjung Marwastu, Marketing Manager Maxpo Stone, mengungkapkan bahwa Composite Stone (batu komposit) merupakan ornamen dekoratif, baik untuk interior maupun eksterior, yang terbuat dari serbuk batu alam dan campuran fiber. Boleh dikatakan, material ini merupakan material semi-alami. Pasalnya, hampir sekitar 99% material pembentuknya adalah serbuk batu, selebihnya adalah resin. Tak heran, panel komposit ini bak pinang dibelah dua dengan material aslinya.

Composite Stone memiliki keunikan, yakni produknya yang tersedia dalam berbagai bentuk dan ukiran. Bentuknya bisa berbagai macam, seperti bulat, persegi, atau lainnya, sedangkan ukirannya mengadopsi motif ukiran dari berbagai motif dan budaya. Biasanya, Composite Stone digunakan sebagai elemen estetika pengisi plafon (interior) atau sebagai elemen pengerasan taman (eksterior).

Lain halnya dengan Cultured Stone, material ini merupakan panel-panel bertekstur yang memiliki bentuk dan tekstur laiknya batu alam sungguhan. Bahan pembentuknya terdiri dari campuran batu alam asli dan material semen. Cultured Stone dapat diletakkan sebagai penghias elemen fasad atau sebagai panel dinding di area dalam.

Tahan air dan anTi-jamur

Kedua ornamen estetika ini memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki batu alam asli. Pertama, baik Cultured Stone maupun Composite Stone, telah dilapisi cairan anti-jamur. Sehingga tak mudah dihinggapi jamur.

Keduanya pun mudah dirawat dan dibersihkan. Tunjung

mengatakan bila terkena noda cukup dibersihkan dengan kain lap dan air bersih.

Keunggulan lainnya adalah kedua produk ini sudah dilapisi pula oleh cairan WATERPROOfiNG. Fitur anti-air ini membuatnya lebih fleksibel, dapat diletakkan di mana saja, baik di area dalam maupun luar rumah. Selain itu, bila dibandingkan dengan batu alam, bobot ornamen estetika hunian ini juga terbilang ringan. Tidak butuh alat berat untuk mengaplikasikannya dan tidak perlu zat kimia untuk membersihkannya. Tertarik mengaplikasikannya di rumah?

Composite stone yang digunakan sebagai material pengisi plafon.

Composite stone yang dapat anda gunakan sebagai elemen estetika, baik interior maupun eksterior.

ragam pilihan tekstur dan warna Cultured stone.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.