Pelesiran ke Museum Nasional

Museum ini kuno dan penataannya tak menarik? Eits, itu cerita lama. Sekarang ini, Museum Nasional telah dibenahi sehingga makin menyenangkan untuk dikunjungi.

Rumah - - Jalan - Jalan - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO RAHMA YULIANTI, ARIF BUDIMAN

Menjadikan museum sebagai tujuan wisata tampaknya belum menjadi budaya di Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih memilih menghabiskan akhir pekannya ke pantai bahkan ke mal. Kesan kuno dan tak menyenangkan menjadi alasan utama mengapa orang enggan bertandang ke museum.

Karena alasan itulah, pihak pengelola museum di Jakarta mempermak beberapa museum hingga terlihat lebih modern. Salah satu museum yang sedang berbenah diri adalah Museum Nasional atau lebih dikenal dengan nama Museum Gajah.

Dulu, Museum Gajah ini identik dengan arca kuno yang diletakkan di sebuah gedung bergaya Yunani Kuno. Terkesan suram, gelap, dan tak menyenangkan karena warna arca yang abu-abu dan layout ruangan yang sama suramnya. Sekarang ini, Museum Nasional memodernisasi bangunan dan interior ruang pajangnya, serta menambah baru ruang yang lebih modern.

sIsI KIrI: arCa

Begitu masuk ke dalam halaman, Anda akan menemukan dua buah bangunan berbeda gaya yang dihubungkan oleh sebuah jembatan kaca modern. Bangunan di sebelah kiri, bernapaskan arsitektur Yunani

lengkap dengan 4 tiang penyangga ala Doric. Bangunan ini memang bangunan lama, yang dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1862 untuk menampung koleksi milik perkumpulan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), sebuah perkumpulan pencinta ilmu pengetahuan dan budaya.

Di gedung lama ini, terdapat koleksi ratusan arca dari zaman prasejarah. Yang paling terkenal adalah arca Adityawarman yang tingginya mencapai

empat meter. Patung ini berwujud laki-laki yang berdiri di atas mayat dan deretan tengkorak. Di tangan kirinya ada cangkir dari tengkorak dan di tangan kanannya ada keris pendek. Diperkirakan, patung ini ditemukan di Padang Roco, Sumatera Barat pada abad ke-13 sampai abad ke-14.

Di sini juga bisa dijumpai keramik peninggalan masa lampau, termasuk keramik dari negara-negara tetangga. Ada pula miniatur rumah adat dan tekstil dari berbagai daerah Nusantara. Favorit pengunjung adalah benda yang ada tengah ruangan, berupa kapal yang dibuat dari kayu utuh, tanpa sambungan sedikit pun!

Bagi penikmat sejarah, tempat ini adalah surga, walaupun memang, informasi yang tertera sangat minim dan seadaanya.

sIsI KaNaN: MODErN

Bagian yang lebih menarik—dan modern— adalah bangunan di sisi kanan. Bangunan yang terdiri dari 7 lantai (hanya 4 lantai untuk museum) ini sebenarnya juga bangunan lama, namun telah direnovasi interior dan eksteriornya. Di sini, Anda dapat menikmati teknologi-teknologi masa dulu, dengan kemasaan yang modern. Interiornya pun dibuat layaknya museum-museum di luar negeri, dengan warna-warna yang ceria.

Sejarah nenek moyang Indonesia menjadi tema koleksi di bangunan sisi ini. Dimulai dari zaman batu, hingga zaman sekarang. Ada ruang yang menampilkan sejarah manusia purba, ada pula yang memamerkan teknologi dari zaman kuno hingga zaman modern— sepeda besi beroda tiga hingga sepeda motor di zaman Belanda ada di sini. Prasasti dari zaman kerajaan di Indonesia pun bisa Anda lihat di sini.

Terlepas dari koleksi yang dipamerkan, bagian luar museum ini juga sangat menarik dan pantas dijadikan objek ber- narsis ria. Paduan arsitektur Yunani yang klasik dengan jembatan kaca yang modern, ditambah lagi instalasi seni karya Nyoman Nuarta berbentuk lingkaran yang bertengger di depan museum, menjadikan Museum Nasional pantas Anda jadikan tujuan wisata pertama di tahun 2016 ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.