Bocor Bukan untuk Dipelihara

Rumah - - Serambi -

Setelah tersiksa dengan musim kemarau yang berkepanjangan dan suhu panas yang di atas normal, hujan jadi terasa bagai berkah luar biasa. Sedikit saja hujan turun, angin dingin langsung mengisi sudut-sudut ruang di rumah.

Namun, hujan yang seharusnya memang menjadi berkah— membuat sumur tanah kembali terisi air, menyuburkan padi dan sayuran, membuat suhu terasa nyaman—sering kali membawa masalah. Bocor.

Dari dulu sampai sekarang, bocor selalu saja jadi masalah menyebalkan bagi pemilik rumah. Dari dulu sampai sekarang, tetap saja banyak orang yang mengalami bocor di rumahnya. Kok, bisa begitu?

Ya, karena ada banyak hal yang bisa menyebabkan bocor, sehingga orang kesulitan menemukan penyebabnya. Karena sulit menemukan penyebabnya, otomatis jadi sulit mengobatinya.

Sebenarnya, sumber bocor itu-itu saja. Atap dan dinding. Di atap, kemungkinannya ada masalah di genting, di talang, atau di bubungan. Sedangkan di dinding, kemungkinannya adalah di sambungan dengan atap atau sambungan dengan dinding tetangga.

Sekalipun bocor jadi momok yang selalu hadir di setiap musim hujan, bukan berarti bocor adalah takdir yang harus kita terima begitu saja. Bocor bisa dihindari, juga bisa dicegah. Nah, mumpung memasuki musim hujan—tapi hujan belum turun setiap hari— sekarang adalah waktu yang pas untuk mengecek kondisi “kesehatan” atap dan dinding Anda. Bagaimana cara mengeceknya, ikuti di Laporan Utama kali ini. Kalau masih ada waktu, segera perbaiki. Bila tidak, terima nasib rumah Anda kebocoran di musin hujan kali ini. Tapi, begitu musim hujan ini berlalu, segera perbaiki kerusakannya. Jangan dipelihara bocornya!

Best regards,

Made Mardiani Kardha

Editor in Chief

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.