DAUN PUN BISA JADI SUMBER INSPIRASI

Ratusan proyek interior untuk bisnis komersil telah sukses ia desain, baik di Indonesia maupun internasional. Ia mengambil inspirasi dari mana saja.

Rumah - - Profil - Jenny Kartika TEKS TIYA SEPTIAWATI tiyaseptiawati@gmail.com FOTO ADELINE KRISANTI

“KAMU KELUAR DAN KAMU LIHAT. APA YANG KAMU LIHAT DI LUAR ITU BISA JADI INSPIRASI”

S ambutan yang hangat ia berikan saat RUMAH menyambangi kantornya di bilangan Sudirman. Kami lantas diajak ke ruang kerjanya yang terletak di lantai 2. Senyumannya seakan tak pernah lepas dari bibirnya. Ia adalah Jenny Kartika, perempuan yang telah berkecimpung di dunia desain interior selama 15 tahun.

Jenny membuka obrolan dengan bercerita tentang perjalanan kariernya sebagai desainer interior. Perjalanan kariernya bermula saat ia menyelesaikan studinya di Universitas Trisakti pada tahun 2000 dengan gelar Sarjana Desain Rupa. Ia pun langsung menapaki dunia kerja di Kingsmen Indonesia dan terlibat dalam berbagai proyek desain interior untuk bisnis retail, kantor, sampai kafe.

Selang tiga tahun, ia keluar dari perusahaan tersebut. Bersama temannya, Ahmad Mustofa, Jenny memberanikan diri untuk mendirikan konsultan desain yang diberi nama ICONIC Design. Dengan modal yang terbatas, ia menyewa sebuah ruko murah di daerah Jembatan Lima. Proyek pertama yang ia tangani ialah Irwan Team Salon dan L’Oreal.

Pada tahun 2005, Jenny memutuskan untuk kuliah di Instituto Italiano di Design (IED), Milan. Dengan terpaksa, ia pun meninggalkan perusahaan yang telah didirikannya tersebut. “Saat saya kuliah di Milan, kegiatan di ICONIC yang handle Pak Mustofa semua,” ujar perempuan berkulit putih ini.

SEPERTI TERLAHIR KEMBALI

Sebelum Jenny memutuskan untuk kuliah lagi, ia sempat merasa stuck dalam mendesain hampir selama 5 tahun. Jenny juga merasa kesulitan dalam mencari inspirasi. “Kok kayaknya apa yang saya desain kok sama, itu lagi itu lagi. Klien pun enggak menginspirasi saya untuk membuat suatu hal yang berbeda. Saya sendiri juga stuck dengan deadline. Maunya kerja cepat. Yang penting jadi, akhirnya itu lagi itu lagi,” keluhnya.

Jenny pun merasa tidak benar bila ini dibiarkan terus. Keputusannya untuk berkuliah di Milan seakan membuka matanya. Ternyata inspirasi memang bisa datang dari mana saja. “Kita harus melihat dengan mata. Misal, saat kita ke taman dan melihat daun. Daun juga bisa jadi sumber inspirasi. Warna hijaunya bisa kita pakai, bentuk daunnya bisa kita ambil sebagai ornamen, dijadikan bentuk meja atau kursi. Kalau mau ditelaah lagi, ada bentuk tulang-tulang daun yang bisa dijadikan inspirasi seperti rajutan atau anyaman,” ucapnya dengan semangat.

Seusai mendapatkan gelar Master of Interior Design pada tahun 2007, Jenny kembali mengelola perusahaan konsultan desainnya. “Saat kembali ke Indonesia, saya seperti lahir kembali. Saya jadi bisa berpikir secara konseptual; kamu keluar dan kamu lihat. Apa yang kamu lihat di luar itu bisa jadi inspirasi,” tambahnya.

PILIH KOMERSIAL DIBANDING RESIDENSIAL

Saat ditanya lebih suka mendesain bangunan komersial atau residensial, Jenny mengaku menikmati keduanya. “Dulu, saya kurang enjoy mengerjakan proyek residensial karena lama dan terkesan membosankan. Memusingkan juga kalau mengerjakan proyek klien yang tidak mengerti maunya apa. Mereka suka berganti-ganti maunya dan membuat prosesnya menjadi lama,” keluhnya.

Menurutnya, bila ingin menjadi seorang desainer residensial harus desainer yang benar-benar “kuat”, yang bisa mengarahkan kliennya untuk tetap di jalurnya, dan tidak berubah-ubah maunya. “Kalau desainer tidak bisa mengarahkan klien, proses desain akan menjadi lama dan hasilnya tidak keruan,” ujarnya.

Namun, saat ini Jenny mengaku lebih senang mendesain proyek komersial karena prosesnya yang cepat. “Saya enjoy juga sebenarnya mendesain residensial tapi mungkin untuk klien yang sudah mengerti saya dan saya juga sudah mengerti klien sehingga saya mengerti taste- nya dia. Karena saya sebenarnya suka juga mendesain rumah,” akunya.

Saat ini, bersama ICONIC, Jenny telah sukses mendesain interior lebih dari 300 salon dan spa, di berbagai kota di Indonesia dan di negara lainnya di Asia, seperti India, Dubai, dan Singapura. Selain salon dan spa, ia juga mendesain interior berbagai kafe, lounge, dan restoran, tidak hanya di Jakarta, melainkan juga di Malaysia, Singapura, dan Shanghai, Cina.

SEBAGAI PEMIMPIN

Posisinya sebagai Design Director dan memimpin beberapa arsitek serta desainer interior di perusahaannya, membuat Jenny harus mencontohkan perilaku yang positif kepada mereka. Beberapa nilai positif pun ia tanamkan di perusahaannya, mulai dari nilai kejujuran, pentingnya komunikasi, dan loyalitas terhadap klien, perusahaan, dan proyek yang mereka handle.

“Think out of the box, open your mind, and do something creative. Saya juga selalu mendorong teman-teman untuk melakukan hobi mereka karena penting untuk mengistirahatkan pikiran. Hidup itu harus seimbang. Segala yang diforsir itu tidak baik dan yang penting badan harus sehat!,” ujarnya sambil tertawa. Jenny bermimpi suatu hari nanti ICONIC bisa menjadi multinational company yang bisa memiliki cabang di manamana. “It’s not about Jenny Kartika tapi ICONIC. Saya mau orang mengenal ICONIC Design, bukan hanya saya yang dikenal,” tutupnya seraya mengaminkan mimpinya tersebut.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.