PENDIRI CLEAN UP JAKARTA DAY

Tergugah karena melihat banyaknya sampah di Indonesia, Angela Richardson terpicu untuk membuat sebuah gerakan kebersihan bernama Clean Up Jakarta Day.

Rumah - - Halaman Depan - TEKS TIYA SEPTIAWATI tiyaseptiawati@gmail.com FOTO VICTOR ADIANGGARA

“SEBENARNYA MASIH BANYAK ORANG DI JAKARTA YANG PEDULI TERHADAP KEBERSIHAN. TANPA DIBAYAR DAN TANPA MENDAPAT APA-APA, MEREKA MAU TURUN KE JALAN.”

S elain disibukkan dengan profesinya sebagai Editor in Chief di salah satu tabloid berbahasa Inggris yang terbit dwi-mingguan, perempuan blasteran Jawa-Inggris ini juga aktif di berbagai kegiatan sosial. Angela Jelita Richardson atau akrab disapa Angela Richardson ikut serta dalam komunitas teater multinasional non-profit berbahasa inggris.

Angle juga memiliki hobi travel keliling Indonesia bersama suami. Hobi ini membuatnya tergugah untuk membuat satu gerakan. “Pada saat saya traveling, saya selalu melihat sampah. Di manamana ada sampah. Mungkin banyak orang yang tidak melihat sampah. Tapi mata saya seakan selalu mencari sampah,” ujarnya gusar.

Seakan tak mau berpangku tangan, anak dari pasangan Phillip Richardson dan Indah Soewanto ini pun akhirnya memprakarsai sebuah gerakan kebersihan yang bertujuan untuk membebaskan Ibu Kota dari kepungan sampah.

“Setelah itu, saya browsing di internet, saya perhatikan bahwa di Jakarta belum ada sebuah gerakan di mana semua komunitas, perusahaan, sekolah bergabung menjadi satu bergotong royong untuk membersihkan sampah. Akhirnya, saya membuat Clean Up Jakarta Day yang sebenarnya saya adopsi idenya dari Clean Up Australia Day yang sukses membebaskan Australia dari sampah 30 tahun silam sampai sekarang,” ceritanya.

Tepat di tahun ke-3, gerakan yang ia namakan Clean Up Jakarta Day, berhasil mengumpulkan banyak relawan dari berbagai latar belakang. Termasuk warga negara asing yang tengah tinggal di Jakarta. Tercatat 15.000 relawan aktif ikut serta dalam ajang tahunan memungut sampah yang tersebar di 37 titik di Jakarta.

Lantas, apa saja cerita seru dari kegiatan ini? Simak petikan wawancara kami dengan Angela yang ditemui di sebuah restoran bilangan Jakarta Selatan ini.

SETELAH 3 TAHUN BERDIRI, APA PENGALAMAN MENARIK YANG ANDA ALAMI DALAM KEGIATAN-KEGIATAN CLEAN UP JAKARTA DAY (CUJD)?

Setiap tahun acara ini digelar, selalu saja ada cerita menarik. Salah satunya ialah banyak relawan yang menemukan sampah-sampah tak terduga. Mulai dari popok yang ternyata masih ada isinya sampai botol air mineral yang isinya sudah berganti menjadi air berwarna kuning alias air kencing.

SEBAGAI PEREMPUAN, APAKAH ANDA TIDAK MERASA JIJIK TERHADAP SAMPAH-SAMPAH TERSEBUT?

Tidak sama sekali karena setiap memungut sampah saya selalu pakai sarung tangan. Dan setelah memungut sampah, saya selalu cuci tangan.

BAGAIMANA MENURUT ANDA SIKAP MASYARAKAT JAKARTA TERHADAP SAMPAH?

Masih buruk. Mereka masih berpikir bahwa sampah merupakan kesalahan seseorang yang lain. Mereka selalu menyalahkan orang lain. Misalnya, ada ajakan untuk memilah sampah. Pasti mereka akan berkata, “Ah, buat apa? Kan sudah ada pemulung yang mengurus.” Jadi selalu bergantung ke orang lain. Tidak mau mulai dari diri sendiri. Kebanyakan orang juga tidak

respect terhadap pemulung. Bahkan banyak yang menganggap bahwa mereka bukan “manusia”. Padahal kalau diperhatikan, pemulung itu tugasnya sangat mulia. Mereka kerja keras tapi tidak pernah meminta apapun dari kita dan mereka tidak pernah mengeluh dalam memungut sampah. Kita bisa contoh mereka.

Kalau melihat pemulung di jalan, jangan pernah lupa untuk senyum dan berterima kasih kepada mereka. Mereka pasti akan sangat senang sekali.

KEPUASAN APA YANG ANDA PEROLEH DENGAN MENDIRIKAN CUJD INI?

Saya senang bisa melihat relawan mulai berubah. Ada beberapa relawan yang bercerita ke saya bahwa mereka yang tadinya suka buang sampah sembarangan tapi setelah bergabung di CUJD jadi tidak melakukannya lagi.

Setelah mereka turun ke jalan dan melihat banyak sampah, mereka mulai mengerti untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Puas juga karena setelah proses yang panjang selama 8 bulan mengurus ini dan itu, lalu melihat saat hari H ribuan orang turun ke jalan untuk ikut serta dalam acara CUJD untuk memungut sampah, ini sungguh membuat saya senang.

Puasnya adalah bahwa sebenarnya masih banyak orang di Jakarta yang peduli terhadap kebersihan. Tanpa dibayar dan tanpa mendapat apa-apa, mereka mau turun ke jalan.

SAAT INI ANDA MEMILIKI 3 KEGIATAN, YAITU SEBAGAI EDITOR IN CHIEF, AKTIF DI CUJD, DAN JUGA BERMAIN TEATER. BAGAIMANA MEMBAGI WAKTUNYA?

Sebenarnya fokus saya juga sempat terpecah. Apalagi tahun lalu saya juga jatuh sakit akibat stres, ditambah dengan kesibukan mengurus pernikahan saya. Tahun ini mungkin saya akan lebih fokus ke tabloid dan CUJD walaupun teater juga masih akan ikut sebagai bentuk hobi.

Tapi kalau boleh memilih di antara ketiga itu, saya akan tetapi memilih untuk aktif di CUJD dan menulis karena saya cinta menulis juga.

JIKA ANDA BISA BERPESAN KEPADA PEMERINTAH, PESAN APA YANG AKAN ANDA SAMPAIKAN?

Harus buat peraturan yang mewajibkan masyarakat untuk memilah sampah di rumah karena itu sangat membantu. Lalu, kemarin pemerintah sudah membuat peraturan denda Rp500.000 untuk yang membuang sampah tapi sampai sekarang belum ada masyarakat yang benar-benar mematuhi peraturan tersebut. Semoga peraturan tersebut ke depannya dapat membuat masyarakat jera.

BAGAIMANA GAMBARAN JAKARTA DALAM 5 TAHUN KE DEPAN MENURUT ANDA?

MRT sudah selesai. Macet mungkin sudah dapat diatasi. Dan semoga Jakarta bisa lebih bersih lagi dari sekarang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.