1 ATAP, 3 RUMAH

Rumah - - Serba Serb -

Anda mungkin pernah mendengar kampung Wae Rebo, sebuah perkampungan tradisional yang terletak di Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Wae Rebo memiliki 7 rumah berbentuk kerucut yang dihuni sekitar 112 kepala keluarga atau sekitar 625 jiwa. Konsep inilah yang kemudian diadopsi Rahmat Indrani, arsitek dari biro arsitek SPOA (Small Perception Office Architecture), dalam proyek rumah komunal yang digawanginya.

Rumah komunal merupakan konsep rumah bersama yang terdiri dari 3 rumah dan memiliki fungsi nyata untuk menjawab isu lingkungan secara bersama-sama. Lewat proyeknya ini, ia berusaha mengembalikan tradisi arsitektur nusantara yang sempat hilang, yakni kebersamaan dalam satu atap. Tak hanya itu, rumah komunal ini pun mencoba menerjemahkan konsep SUSTAINABILITY (keberlangsungan) dalam kemasan yang lebih modern, mudah diterapkan, dan hemat biaya pembangunan.

“Dengan tiga rumah dalam satu atap, biaya operasional menjadi lebih efisien karena dibiayai oleh lebih dari satu keluarga. Selain itu, pengoperasian hunian pun dapat dinikmati secara bersama, seperti pengolahan limbah, pengolahan air hujan menjadi air bersih, dan pemanfaatan biogas,” ujar Rahmat memulai cerita.

PATUNGAN HIJAU

Rahmat mengungkapkan hal yang membuat konsep hijau pada hunian pribadi sulit diwujudkan karena investasi awalnya berbujet besar. Dengan rumah komunal satu atap ini, ongkos pembangunan menjadi lebih murah karena dibiayai 3 keluarga sekaligus.

Rumah komunal ini hanya terdiri dari satu SEPTIC TANK sentral yang dimanfaatkan sebagai energi biogas. Energi biogas ini digunakan sebagai energi alternatif untuk menunjang keperluan dapur (seperti memasak) dan pupuk organik. Selain itu, ada pula pengolahan limbah air kotor yang ditampung dalam satu sistem di area servis. Hasil pengolahan air limbah akan diresapkan kembali ke tanah sehingga tidak membebani lingkungan sekitar.

Sama halnya dengan pemanfaatan air hujan. Desain atap hijau memungkinkan air diarahkan ke beberapa titik fokus melewati jurai kemudian didistribusikan ke area penampungan. Tidak hanya itu, karena bangunan dirancang untuk kondisi lahan berkontur, memungkinkan air dapat diarahkan ke area servis dengan memanfaatkan sistem gravitasi bumi. Setelah menuju area servis, air diolah sehingga dapat digunakan kembali.

KOMBINASI ATAP HIJAU DAN ATAP PELANA

Konsep atap dirancang berbentuk pelana dengan konsep green roof (atap hijau). Konsep ini ditujukan untuk menciptakan ruang baru di bawah atap yang lebih sejuk dan nyaman. Konsep atap hijau dapat terlihat dari adanya lubang udara pada atap pelana yang memungkinkan udara dapat mengalir bebas sehingga panas di area atap sudah tersaring dan tak menjalar ke ruang-ruang di bawahnya.

Sistem kisi-kisi pada atap juga dirancang sebagai media tanaman rambat. Nantinya, tanaman rambat ini akan membantu mengurangi terpaan panas matahari sehingga ruang yang berada di baliknya menjadi lebih sejuk, kaya akan oksigen, dan membuat lingkungan menjadi lebih sehat.

“Bayangkan manfaat dari hunian komunal satu atap ini terhadap keseharian penghuni dalam kehidupan urban. Setiap keluarga dapat memulai gaya hidup hijau dan memberikan dampak yang baik bagi lingkungan tanpa terbebani dengan biaya investasi awal yang besar,” ujar Rahmat menambahkan.

Ya, sistem komunal satu atap ini membuat konsep bangunan hijau menjadi lebih mudah untuk diaplikasikan. Konsep hunian yang unik dan memerhatikan kondisi manusia dan alam membuat desain hunian komunal karya Rahmat Indrani ini menyabet gelar juara 1 dalam kompetisi Onduline Green Roof Award (OGRA) 2015 yang diadakan oleh PT Onduline Indonesia, perusahaan pemegang merek genting Onduline (atap genting bitumen bergelombang) di Indonesia.

TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com

Tiga keluarga bergotong royong untuk menciptakan hunian hijau. Dalam satu atap mereka pun memulai kembali tradisi arsitektur nusantara yang telah lama dilupakan; kebersamaan dalam satu atap.

area taman atap[ sengaja diciptakan untuk menghadirkan atap

hiijau yang dapat membawa kesejukan ke dalam ruang.

DOK. raHMaT INDraNI

Hunian ini terdiri dari 3 lantai. Ini merupakan penampakan lantai 2 pada

rumah komunal satu atap

rumah komunal ini dirancang untuk menciptakan konsep hunian hijau yang dianggap menguras biaya

besar di awal pembangunan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.