JALAN-JALAN PECINAN DI JAKARTA

Glodok bukan hanya terkenal sebagai pusat penjualan barang elektronik. Daerah ini juga menyimpan cerita soal keturunan etnis Tionghoa, yang menarik untuk ditelusuri. Menyambut Imlek, yuk kita jalan-jalan di sana.

Rumah - - Jalan-Jalan - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO VICTOR ADIANGGARA

Budaya merantau orang-orang Tionghoa membawa mereka ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di awal kedatangannya, para parantau ini membentuk sebuah permukiman untuk etnis mereka, yang kerap dikenal dengan nama Chinatown atau Pecinan. Walaupun sudah terpisah ribuan kilometer dari tanah leluhur, mereka tetap membawa adat mereka ke Pecinan, termasuk soal perdagangan dan bangunan.

Di Jakarta, Glodoklah yang menjadi pusat permukiman dan perdagangan bangsa Tionghoa yang menentap di Indonesia. Dalam buku Betawi: Queen from The East karangan Alwi Shahab, tertulis tentang asal muasal nama Glodok. Konon, nama Glodok berasal dari bunyi air “grojok-grojok” yang sering terdengar di sana karena semula tempat itu adalah tempat pemberhentian dan pemberian minum untuk kuda-kuda penarik beban. Namun menurut Mariah Waworuntu, seorang pemerhati sejarah dari Universitas Indonesia, nama Glodok berasal dari kata grobak, tempat membawa dan menjual air dari Pancoran, yaitu glodok.

Darimana pun asal namanya, Glodok menyimpan banyak cerita tentang keberadaan masyarakat Tionghoa di Jakarta. Walaupun sekarang ini Glodok sudah berkembang menjadi permukiman padat dan pusat perniagaan yang ramai, masih ada sisa-sisa bangunan Tionghoa yang ada di sana. Menjelang Imlek, pas rasanya jika kita menyambangi daerah Glodok untuk melihat beberapa bangunan peninggalan masyarakat Tionghoa.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.