Crafter Sekaligus Penulis Buku Color Stories

selain aktif sebagai crafter dan mengajar beberapa workshop, perempuan ini juga baru saja menerbitkan sebuah buku.

Rumah - - Profil - TEKS tiya septiaWati tiyaseptiawati@gmail.com

B erhenti bekerja di salah satu stasiun televisi swasta, ternyata menjadi keputusan yang tepat untuknya. Kepribadiannya yang fleksibel dan tak suka bekerja sebagai orang kantoran menjadi alasannya hengkang. Tak pernah ia sangka sebelumnya, hobi menggambar sedari kecil kini membuahkan hasil. Bahkan, menjadi mata pencaharian utamanya.

Martha Puri Natasande. Ialah nama di balik suksesnya merek bernama Ideku Handmade. Kerajinan tangan seperti bantal, celemek, hiasan dinding, tas, pouch, dan masih banyak lagi, berhasil ia buat dengan tangannya sendiri.

Tak hanya sampai di situ, karya ilustrasi buatannya pun dilirik oleh salah satu penerbit untuk dijadikan buku. Akhir Desember 2015, buku menggambar bertajuk Color Stories berhasil diterbitkan. Simak petikan wawancara RUMAH bersama Puri—sapaan akrabnya—berikut ini.

Bagaimana cerita awal pembuatan buku Color Stories?

Saya diajak bekerja sama dengan salah satu penerbit. Mungkin mereka awalnya melihat kalau saya suka membuat gambargambar ilustrasi di sosial media saya. Kemudian, mereka meminta saya untuk membuat gambar yang isinya tentang keseharian. Pokoknya gambar-gambar simpel.

Sebelum masuk ke proses menggambar, saya survei terlebih dahulu mengenai enak dan tidak enaknya mewarnai ke temanteman yang sudah membeli buku mewarnai yang saat ini memang lagi ngetren. Menurut mereka enaknya adalah bisa mewarnai bebas dan melepas stres.

Tapi tidak enaknya adalah justru lamalama malah bisa menambah stres karena gambarnya terlalu kecil dan ngejelimet, jadi baru halaman ke dua saja, mereka sudah berhenti. Nah, saya tidak mau membuat gambar yang nantinya malah membuat mereka menjadi stres setelah mewarnai buku saya. Jadi, saya buat gambar sesimpel mungkin yang terinspirasi dari keseharian.

Setelah buku ini terbit, puaskah dengan hasilnya? Bagaimana dengan respon masyarakat?

Puas banget! Dalam proses pembuatan bukunya, saya juga banyak sekali terlibat di dalamnya. Mulai dari konten tentunya, sampai ke kaver buku, font, dan detail lainnya. Responnya cukup baik. Kurang dari sebulan, buku ini sudah cetak ke-2 kali.

Lalu, bagaimana dengan Ideku Handmade?

Awal terbentuknya Ideku Handmade itu sekitar tahun 2008. Saya memang senang sekali membuat kerajinan tangan dari tangan saya sendiri alias handmade. Makanya banyak sekali benda-benda buatan saya di rumah. Terus sepupu saya bertanya, “Buat apaan nih banyak gini? Ngapain buat

handmade-handmade gini?” Saya jawab saja untuk disimpan dan lumayan kan buat kado teman kalau ulang tahun. Nah, dia ngasih ide untuk dijual. Eh, sorenya sepupuku itu

bikinin saya akun Multiply, foto-foto hasil kreasiku juga dimasukin.

Besoknya, jam enam pagi, tiba-tiba langsung ada yang pesan dari Samarinda! Saya enggak menyangka sekali. Dari situ saya mulai sadar ternyata ini bisa jadi lahan jualan. Jadi, barang pertama yang laku adalah toples yang saya gambar-gambar pakai akrilik.

Nah, kalau namanya sendiri, sih, itu saya main tembak saja, Ideku Handmade. Jadi, ide-nya saya dan handmade berarti hasil tangan saya sendiri.

Saat ini, sudah banyak sekali hasil dari Ideku Handmade, apakah pernah kesulitan dalam berkarya? Lalu, dari mana biasanya inspirasi berasal?

Kesulitannya ada pada mood, sih. Pekerjaan begini kalau enggak mood akan susah banget. Solusinya kalau lagi benerbener mau membuat suatu karya tapi enggak mood paling saya melakukan hal-hal lain, seperti browsing dulu, lihat yang luculucu, atau main sama teman. Kalau moodnya sudah balik, baru saya berkarya lagi. Kalau inspirasi sih random banget. Pokoknya, saya buat apapun yang saya suka dan yang saya mau. Inspirasi bisa datang dari mana saja, misalnya saat lagi ngobrol sama teman, lihat di dunia maya, jalanjalan, dan baca buku.

Lalu, Anda juga aktif dalam mengajar workshop #latihan pegang kuas. Boleh diceritakan mengenai workshop tersebut?

Jadi, workshop ini sebenarnya untuk belajar diri saya sendiri. Saya, kan, jarang banget nih menggunakan cat air. Terus saya belajar-belajar otodidak gitu. Kemudian, hasilnya saya post di instagram menggunakan has ht a g# latihan pegang kuas. Lama-lama banyak orang yang melihat dan malah minta diajarin sama saya. Karena banyak permintaan, jadi sekalian deh saya buat workshop sekalian belajar juga sama teman-teman. Tema workshop selalu ganti dan bisa

request. Misalnya, membuat boneka, bantal, tas, atau baju. Bisa juga hanya menghias saja di atas kain, jadi benar-benar hanya latihan pegang kuas. Bisa request tema. Misal, ada yang mau membuat acara temanya ini dan minta saya buat jadi pengajar, nah saya bisa bantu. Tapi, masih seputar menggambar di atas kain. Peserta yang ikut kebanyakan perempuan dan ibuibu muda.

Sebelum berkarya di Ideku Handmade, apa saja kesibukan Anda?

Tahun 2008, saya bekerja di salah satu TV swasta sebagai desain grafis selama 2 tahun. Tapi selama 2 tahun bekerja, saya sudah mulai berkarya juga. Jadi, kerjanya

double.

Tapi setelah 2 tahun, saya memutuskan untuk keluar dari TV karena kurang suka kerja formal. Lagipula, macet juga. Jadi saya merasa buang-buang waktu banget menghabiskan waktu 4 jam di jalan setiap hari. Intinya, saya cuma mau mengerjakan apapun yang saya suka. Dan saya enjoy sekali berkarya di Ideku Handmade karena waktunya fleksibel. Pokoknya bisa melalukan hal yang kita suka itu rasanya enak banget!

Apa harapan Anda selanjutnya?

Harapannya saya bisa punya workshop yang besar karena selama ini saya selalu mengajar di luar. Karena keterbatasan tempat, jadi enggak bisa banyak orang yang ikut workshop. Jadi, mau punya tempat yang besar biar bisa belajar dengan banyak orang lagi. Mau punya galeri juga yang isinya karya-karya saya.

Produk Ideku Handmade bisa dipesan di akun Instagram @idekuhandmade. Melalui akun ini pembeli akan diberi nomor WhatsApp dan akun Line. Kisaran harga produk: Rp30.000— Rp170.000.

Pokoknya bisa melalukan hal yang kita suka itu rasanya enak banget!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.