SAMBUT WAJAH BARU JAKARTA 2020

Dicemooh karena kemacetannya, Jakarta mulai berbenah diri. Lewat proyek pembangunan MRT, Jakarta siap menyajikan sebuah tatanan kota yang lebih futuristik.

Rumah - - Properti - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO TAN RAHARDIAN

Sudah memasuki tahun ketiga, pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dilakukan. Menurut rencana, MRT Jakarta tahap 1 akan dibangun koridor selatan— utara yang melayani rute Lebak Bulus (depo)—Bundahan Hotel Indonesia (HI) sepanjang 15,5km dan akan dilengkapi 14 stasiun (8 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah).

Kali ini, RUMAH berkesempatan mengunjungi proses pembangunan MRT di stasiun Bundaran HI, Jakarta Selatan.

Stasiun ini merupakan stasiun terpanjang, di antara stasiun lainnya, yakni 400m. Umumnya stasiun lain dibangun hanya sepanjang 200m. Stasiun bawah tanah ini terdiri dari 2 lantai dengan kedalaman 24,2m dari atas permukaan jalan. Nantinya, akan ada 4 pintu masuk, dua di antaranya terintegrasi dengan gedung-gedung di sekitarnya.

Desain Tematik

Dono Boestami, Direktur Utama PT MRT, mengungkapkan proyek MRT Jakarta tak berbeda dengan MRT di Singapura atau Malaysia. Meski Indonesia terbilang terlambat membangun proyek ini, hal itu justru menguntungkan dalam hal teknologi. Pasalnya, dengan kemajuan teknologi saat ini, proyek MRT Indonesia sudah menggunakan teknologi paling mutakhir, salah satunya sistem operasional otomotis tanpa masinis.

Dari sisi desain, Dono mengungkapkan bahwa setiap stasiun akan dibangun dengan sentuhan modern, sama halnya dengan negara lain. Hanya saja, MRT Jakarta akan mengusung konsep tematik pada setiap desain stasiunnya.

“Desain kita tentunya harus modern, tapi juga yang utama adalah unsur lokalitasnya harus ada dan harus ditonjolkan. Misalnya, pintu masuk setiap stasiun akan dibuat tema khusus yang berkaitan dengan daerahnya,” ujar Dono kepada RUMAH antusias.

Ia menyontohnya, untuk stasiun Istora Senayan yang berkaitan dengan olahraga, akan ada unsur-unsur olahraga pada stasiun tersebut. Atau, stasiun Jalan H. Nawi yang rencananya akan di beri sentuhan budaya betawi. Unsur lokalitas pada setiap stasiun ini dirasa penting agar identitas bangsa tetap terjaga. Selain itu, dengan adanya tema tersebut masyarakat dapat dengan mudah mengenali lokasi stasiun tanpa harus melihat papan nama.

Bangunan Harus Mudah Dipelihara

Selain memberi tema-tema khusus pada setiap stasiun Dono juga mengatakan setiap desain bangunan MRT harus mudah dipelihara. Pasalnya, banyak bangunan di Indonesia, khususnya Jakarta, yang tidak terpelihara dengan baik karena sedari awal tidak mengedepankan aspek pemeliharan.

Oleh karenanya, ia bersama tim kontraktor, PT Hutama Karya, sudah merancang bangunan yang mudah diperlihara dan dapat bertahan 50 hingga ratusan tahun kemudian. Nah, tidak hanya dari para penggagas ide, kita pun harus turut andil dalam menjaga kelestarian bangunan pastinya!

Depo mrT di lebak Bulus dirancang dengan konsep modern.

proses pembangunan mrT di kawasan Bundaran Hi. ini adalah lokasi terowongan yang belum dilakukan pengeboran.

Bagian dalam stasiun mrT Bundahan Hi. selain area menunggu yang terdapat di peron lantai 2, di lantai 1 akan ada area belanja untuk pengguna mrT.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.