Menikmati Arsitektur Hijau di Green School Bali

Bangunan dari bambu selebar 60m, interior yang memanfaatkan alam, hingga sungai yang digunakan sebagai kolam renang. Itulah yang akan ditemukan di Green School, sebuah sekolah internasional yang ada di Bali.

Rumah - - Jalan-jalan - TEKS & FOTO RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com

Plang kecil dari batang bambu bertuliskan “Welcome to Green School” seakan menyambut RUMAH dan pengunjung lain yang bertandang ke tempat ini. Tak berapa lama, seorang pria berbaju khas Bali menghampiri kami; dialah yang akan mengantarkan pengunjung hari itu berkeliling di sekolah yang yang pernah menjadi finalis Aga Khan Award 2010 ini.

Adalah John Hardy dan sang istri Chyntia Hardy, pengusaha perhiasan asal Kanada yang tinggal di Bali, yang menggagas sekolah hijau ini. Keduanya konon terinspirasi dari tulisan Al Gore tentang green living dan kemudian tergugah untuk mendirikan sekolah yang mengajarkan konsep “connected to nature”.

Mereka memutuskan untuk membangun sekolah berwawasan dan berlingkungan hijau dengan material lokal yang ramah lingkungan. Bambu jadi pilihan karena di Indonesia material ini mudah ditemukan. Bersama PT Bambu, biro lokal yang biasa

menangani bambu, di tahun 2006 kemudian mereka mendirikan sebuah sekolah dengan lahan seluas 7.542m2 di pinggir Sungai Ayung, Ubud.

MENGEKSPLOR BAMBU

RUMAH diajak berkeliling ke beberapa tempat, yang walaupun tak banyak, sudah cukup untuk melihat “kehijauan” sekolah ini. Pepohonan dibiarkan berdiri dengan lebatnya, jalan-jalan setapak dibiarkan terbuat dari tanah dan batu-batuan tanpa adanya perkerasan beton, meniru jalan alami di tengah hutan atau di tengah perkampungan yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan ranting-ranting pohon.

Di tengah rindangnya pepohonan, terlihat bangunanbangunan yang terbuat dari bambu. Seluruh bangunan, mulai dari kelas-kelas, perpustakaan, hingga kantin pun terbuat dari bambu. Ya, John Hardy memang menginginkan segalanya murni terbuat dari bambu dan material alam lainnya. Tak tampak ada tambahan material modern di sini, kecuali beberapa plesteran yang digunakan sebagai lantai ruangan.

Bambu memang dieksplor habis-habisan di sini. Kami dapat melihat pemanfaatan kekuatan dan kefleksibelan bambu untuk bangunan bentang lebar seperti auditorium dan jembatan. Ataupun penggunaan bambu untuk membangun Heart of School, bangunan bertingkat tiga yang menjadi ikon Green School. Bangunan dengan bentang selebar 60m ini berdiri di atas topangan 250 tiang bambu. Bentuknya seperti terpelintir, mirip spiral. Fondasinya pun berupa fondasi umpak, yang memang kerap digunakan di bangunan-bangunan tradisional Indonesia.

Konsep green dan kembali ke alam juga diadopsi ke dalam interior kelas. Papan tulis terbuat dari material bekas, lemari hanya a berupa rak bambu yang ditutupi tirai berwarna-warni. Kursi kelas dan meja juga terbuat dari bambu yang diolah oleh perajin setempat. Pun dengan tong sampah dan toilet. Semuanya serba bambu.

MANFAATKAN AIR HINGGA KOTORAN

Ciri khas lain dari bangunan di sini adalah terbuka. Tak tampak ada dinding yang menutupi ruang-ruang, termasuk k ruang kelas. Udara mengalir bebas hingga ke bagian dalam, sehingga kelas tak menggunakan pendingin ruangan sama sekali. Energi alam berupa udara sejuk di Ubud pun tergunakan dengan baik.

Bukan hanya udara sejuk yang dimanfaatkan di sekolah. Arus sungai Ayung digunakan sebagai pembangkit listrik— kita dapat melihat turbin dan generator di sana—, sampah dan kotoran digunakan sebagai kompos atau sebagai biogas untuk memasak. Bahkan sungai pun dimanfaatkan sebagai kolam renang alam untuk para siswanya.

Green School boleh dibilang jadi pelopor arsitektur hijau dan pemacu kebangkitan arsitektur bambu di Bali. Hal ini diakui Effan Adhwira, arsitek yang pernah membantu proses pembuatan sekolah ini. Pantas saja jika sekolah ini pernah dianugerahi penghargaan sebagai sekolah terhijau tahun 2012 oleh US Green Building Council.

www.domusweb.it

RUMAH

Auditorium yang berbentang cukup lebar juga menggunakan bambu. Lingkungan

dibuat sealami tanah dan batu mungkin: serta pohon jalan dari hijau di mana-

mana.

Atap dilapisi dengan alang-alang sehingga tetap alami. Jembatan bambu dengan bentuk yang meniru bentuk atap rumah Minang.

www.greenschool.org

School. Salah satu sudut bangunan Heart of

yang dibuat dari bambu. Salah satu bangunan kelas Tempat duduk- duduk di atas kantin. Lantainya pun

dari bambu.

ruMaH

dari bambu. Interior kelas. Semua bagian dibuat

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.