Didi Diarsa

Bikin Mebel dari Peti Kemas

Rumah - - Profil - TEKS tiya septiaWati tiyaseptiawati@gmail.com FOTO akhMad Maulana

Kecintaannya pada lingkungan membuatnya prihatin jika melihat barang tak terpakai terbuang begitu saja. Barang-barang itu akan menggunung, dan menjadi masalah baru; penumpukan sampah. Alasan inilah yang membuat Didi Diarsa, memutuskan untuk membuat beragam furnitur dari barang bekas.

Kayu bekas peti kemas, ranting pohon, botol, stik golf dan barang yang sudah tak terpakai lainnya, disulap oleh tangan kreatif Didi. Hasilnya, kursi, meja, rak buku,

coffee table, white board, kitchen set, dan lampu hias begitu apik. Tak nampak seperti barang bekas atau recycle.

Dengan memanfaatkan kayu bekas peti kemas, ia menghasilkan mebel-mebel berstandar internasional yang ramah lingkungan. Sang pemilik merek dagang Furniture Aktif ini mulai menggunakan bahan baku kayu bekas peti kemas sejak 2006. Ia memberi sentuhan pernis mengilap karena tekstur kayu jati belanda yang dipakai sebagai bahan dasar sudah memiliki daya jual tinggi.

Ia pun menjajal bisnis ini dengan membuat peralatan sekolah seperti bangku dan kursi untuk kebutuhannya mengajar. Tak disangka, banyak rekan guru yang tertarik dengan desain unik Didi. Didi pun menangkap peluang untuk membuka bisnis furnitur sekolah.

Awalnya, hanya satu klien sekolah yang memesan kepadanya, lama-lama jumlahnya menjadi ratusan. Sekolahsekolah itu tidak hanya berasal dari Jabodetabek, namun tersebar di wilayah lain, seperti Bandung, Yogyakarta, Padang, hingga Lampung. Sebagian besar sekolah yang menjadi klien tetap Didi adalah sekolah swasta bertaraf internasional.

Selain harga yang murah, produk Didi juga dinilai mempunyai nilai desain unik dan modern. Misalnya, meja setengah lingkaran dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Meja ini sangat cocok dipakai di TK dan SD yang menerapkan sistem belajar aktif. “Konsepnya, produk saya mendukung proses belajar menjadi lebih menyenangkan,” kata Didi.

Desain Didi mengantarkannya menjadi finalis Asia Europe Classroom Award pada 2004. Selain itu, ia juga menjadi finalis untuk International Young Creative Entrepreneur 2009 yang

digelar British Council.

BERAWAL DARI FINLANDIA

Ide awal Didi bisa dibilang berliku. Ia yang dulunya ikut sebuah LSM pencinta lingkungan, diharuskan tugas di luar kota yang membuatnya pisah dengan keluarga di rumah. Didi pun memutar otak. Ia ingin berkumpul dengan keluarga, namun tetap mempunyai usaha yang dikerjakan. Dengan alasan itulah tercetus ide membangun usaha furnitur dengan masih berlandaskan kecintaannya pada alam dan lingkungan sekitar.

Saat itu, Didi teringat pengelolaan alam warga Finlandia yang ia temui saat berkunjung ke sana sebagai perwakilan Indonesia untuk belajar tentang lingkungan. Selama dua minggu, ia belajar bagaimana mereka merawat hutan. Walaupun sebagian besar furnitur-furnitur di sana menggunakan bahan baku kayu, hutan mereka tak pernah gundul. Mereka menebang kayu yang sudah cukup umur, dan dilakukan penanaman kembali setelahnya.

Maka, sepulangnya dari Finlandia, Didi mencari kayu yang seperti di sana. “Karena hasilnya nihil, ide recycle itu pun muncul,” ucap ayah lima anak ini. Dia menemukan sampah peti kemas bekas transaksi ekspor-impor perusahaan-perusahaan di sekitar Jalan Raya Bogor dekat tempat tinggalnya. Didi pun lantas mempekerjakan tukangtukang yang bertugas memoles kayu agar mulus dan membuat kerangka sampai akhirnya selesai dari desain-desain unik nan modern yang dirancang oleh Didi.

PAMERAN INTERNASIONAL

Meski apresiasi dalam negeri cukup lesu, Didi berbangga hati. Tak tanggung, pameran skala internasional telah dijajalnya. Beberapa pesanan pun ia dapat dari Singapura dan London. Bahkan, Didi pernah diundang oleh sebuah yayasan di London untuk bertemu Pangeran Charles mewakili Indonesia mempresentasikan produknya.

Sepuluh tahun di dunia bisnis furnitur, Didi mengaku mendapat banyak hal. Ia juga berkesempatan studi ke luar negeri dan mendapat beberapa pengahargaan. Pada tahun 2004, dia menjadi finalis Asia Europe Classroom Award. Tahun 2009, Didi berhasil menjadi salah satu

finalis International Young Creative

Entrepreneur 2009 yang digelar British Council. Selain itu, Furniture Aktif juga pernah menjadi Top 50 UKM Online Indonesia Terbaik oleh Google pada tahun 2013.

Saat ini, pelanggan produk Didi sudah tersebar di seluruh Indonesia. Hobinya menulis di blog mengenai produk furnitur

recycle miliknya ternyata berdampak manis. “Awalnya lewat blog. Lalu lewat mulut ke mulut. Sekarang bisa dipesan lewat online dan ecommerce-ecommerce,” tutur Didi.

Produk Didi, dibanderol dengan harga berkisar antara Rp150.000 sampai Rp6.000.000 tergantung dengan bentuk dan kerumitan produk. “Saya berharap usaha ini bisa terus berkembang. Sampah pun bisa bermanfaat dan kita turut melestarikan lingkungan dengan mengolahnya,” ujar Didi yang juga aktif di Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Depok ini.

Kreativitas Didi tak hanya di dunia bisnis furnitur. Pria yang gemar berorganisasi ini juga mendirikan sebuah ruang kerja atau biasa disebutnya sebagai

community space bernama Code Margonda yang terletak di Depok. Ruang kerja ini merupakan tempat di mana Anda dapat membuat acara, “numpang” kerja, diskusi, dan nongkrong tanpa biaya yang mahal seperti di kafe-kafe. “Kaya warnet lah pokoknya, murah tapi internetan lancar,” tutur Didi menutup perbincangan.

Sampah pun bisa bermanfaat dan kita turut melestarikan lingkungan dengan mengolahnya.

rUMAH gara-gara kayu bekas peti kemas didi bertemu dengan pangeran Charles dari inggris. bagaimana

kisahnya?

Nama: didi diarsa adiana TTL: jakarta, 27 september 1974

Pendidikan: s1 geografi unj

TENTANG DIDI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.