MASA LALU BERTEMU MASA KINI

Kreativitas pemilik rumah memadu-padankan furnitur, membuat sentuhan “jadul” tak selamanya bikin rumah jadi suram.

Rumah - - Rumah Kita - TEKS FOTO DIRENOVASI KARENA KEBUTUHAN ADA SENTUHAN JADULNYA

EMILIA NURIANA emilianuriana@gmail.com ADELINE KRISANTI, YANNIS RUDOLF PRATASIK nik. Kata itulah yang pertama kali terlintas ketika memasuki rumah di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan ini. Bagaimana tidak, begitu masuk ke ruang tamu, kita akan disambut pemandangan tangga berwarna hitam yang tersusun bagaikan keping-keping mainan Lego. Menengok sedikit ke sebelah kanan, mata langsung dimanjakan dengan warna hijau dari taman vertikal yang dibatasi jendela besar tanpa tirai.

“Rumah ini sengaja dibuat banyak jendela besarnya, biar adem,” ujar Dita Kusuma (34) sang pemilik rumah. Benar saja, jendela besar kembali kami temui ketika masuk ke kamar utama dan kamar anak. Meski pendingin ruangan tidak dinyalakan, ruang tamu hingga kamar sama sekali tidak terasa panas. Ditambah kondisi udara yang agak berangin, membuat suasana dalam rumah semakin nyaman.

Secara keseluruhan, suami Dita-lah yang membuat desain dari rumah 3 lantai ini. Meski tidak memiliki latar belakang sekolah desain maupun ilmu arsitektur, sang suami memiliki hobi desain dan rajin mengulik internet untuk mendapatkan inspirasi desain rumahnya. “Setelah membuat desain kasar, suami saya konsultasi dengan arsitek untuk diaplikasikan langsung ke rumah,” tutur Dita.

Proses pembangunan memakan waktu kurang lebih 1,5 tahun. Rumah lama yang sebelumnya hanya dua tingkat, diubah total hingga berbentuk seperti sekarang. “Karena tanahnya enggak terlalu luas, makanya dibuat banyak lantai supaya kebutuhan ruang tercukupi,” kata Dita.

Suami Dita yang penyuka barang-barang antik alias jadul, menyelipkan barang-barang tempo dulu ini di antara furnitur bergaya modern. Misalnya saja, lemari bekas obat-obatan tradisional yang ia dapatkan dari hasil “berburu” barang-barang antik. Lemari yang terdiri dari lacilaci kecil ini ia manfaatkan sebagai penghias ruang sekaligus tempat menyimpan barang-barang. “Bentuknya unik dan jarang orang yang memiliki lemari seperti ini,” kata Dita.

Selain furnitur, barang jadul lain yang tak kalah unik adalah neon box sebagai penghias dinding. Melihat sepintas saja kita pasti merasa familiar dengan merek-merek yang tertera pada neon box tersebut. Mulai dari merek jamu hingga mesin cetak foto. Beberapa neon box diletakkan di dalam ruangan seperti di dapur dan kamar tidur. Tak ketinggalan, di area rooftop juga dipasangi kolase neon box yang berwarna-warni.

Meski ada banyak barang jadul, kesan kumuh dan usang sama sekali tidak terasa di rumah ini. Kuncinya pada padu-padan yang pas serta pemilihan barang jadul yang berkualitas. Suami Dita tak jarang berburu furnitur ini hingga ke kota lain seperti Semarang, Solo, dan Yogyakarta. “Suamiku juga ikut komunitas pecinta barang jadul, jadi bisa saling tukar informasi tentang barang-barang jadul yang bagus,” ungkap Dita.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.