Pilihan yang Sulit

Rumah - - Serambi -

Saat kita bangun tidur di pagi hari dan bisa membuka jendela lalu memandang sekelompok tanaman berbunga di halaman, sungguh menenangkan. Saat kita sendirian di rumah, bermain dengan si Catty yang nakal, sungguh menyenangkan. Saat kita duduk santai menyaksikan si kecil berlarian di halaman rumah, sungguh membahagiakan.

Ini semua bisa kita dapatkan hanya bila kita tinggal di rumah tapak di pinggir kota. Ini semualah yang harus kita relakan bila kita menghuni apartemen di tengah kota. Saat membuka jendela pagi hari, mungkin pemandangan yang kita dapati adalah jalan raya yang mulai padat. Untuk menyaksikan si kecil berlarian di udara terbuka, kita harus pergi ke taman umum.

Ya, di Indonesia, sampai saat ini masih banyak yang lebih memilih tinggal di rumah tapak dengan alasan seperti di atas. Tapi ironisnya, lokasi rumah yang jauh dari pusat kota, kondisi jalanan yang macet, akhirnya membuat itu semua tidak bisa kita nikmati dengan maksimal. Bangun tidur, boro-boro menikmati tanaman. Yang ada kita langsung lari ke kamar mandi dan berbenah untuk segera berangkat bekerja. Yang lebih ironis lagi, waktu untuk berkumpul dengan keluarga, bermain dengan si kecil, juga menjadi sangat singkat. Lalu, mana yang harus dibela?

Tinggal di rumah tapak yang jauh dari pusat kota atau tinggal di apartemen yang berada di pusat kota, memang adalah pilihan—pilihan yang sulit. Kita tinggal berkompromi dengan sederet kebutuhan. Mana yang layak diperjuangkan, mana yang bisa dikesampingkan.

Tagihan mahal di apartemen, sudah jadi keluhan umum orang yang tinggal di apartemen. Tapi nyatanya, banyak juga yang tetap rela merogoh kocek demi segala kemudahan yang ditawarkan, mulai dari keamanan, sampai kemudahan mencari makan. Memang bukan pilihan yang mudah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.