TAMPIL POLOS BUKAN LARANGAN

Rumah - - Serba Serbi - TEKS FOTO MATERIAL

RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com JOU ENDHY PESUARISSA enuh dengan warnawarna ceria. Itulah yang sering ditemukan pada sekolah-sekolah taman kanak-kanak di Indonesia. Tiap dinding dipulas dengan warna yang berbeda, untuk menimbulkan suasana dan kesan ceria. Namun tidak halnya dengan sekolah yang ada di Dharmawangsa ini. Sekolah yang sebenarnya adalah sekolah semi permanen ini—dibuat sebagai pengganti sementara selama sekolah asli mengalami renovasi—hanya dibalut warnawarna putih dan abu-abu. Tak ada pulasan warna-warni layaknya TK yang lain.

Dari luar saja ia tampak berbeda dengan TK kebanyakan. Ia tampak modern, dengan kaca-kaca besar dengan bingkai terbuat dari besi dan dinding beton berwarna abu-abu. Bentuknya pun kotak. Simpel.

Aditya Novrianggono dan Sandriana Novrianggono, arsitek yang merancang TK ini sengaja membuat sekolah yang “polos”. Hal ini ditujukan agar karya anak-anak yang berwarna bisa menonjol dan terlihat dengan jelas. “Karyanya kan berwarnawarni, kalau dindingnya juga berwarna, karya dan dindingnya jadi berantem,” ujar Sandri. Kanya, sang kepala sekolah juga mengiyakan hal ini. Menurut ceritanya, di sekolah ini memang banyak artwork karya guru dan murid, yang berwarna kontras. Dengan dinding yang polos dan tak berwarna, karya-karya ini bisa lebih terlihat.

Karena diperuntukkan sebagai sekolah sementara, Didit dan Sandri mencoba membuat sebuah sekolah dengan material yang ringan, murah, gampang dibongkar-pasang, dan bisa dipakai lagi di sekolah baru nanti. Itu sebabnya, mereka memilih menggunakan GRC sebagai bahan utama dindingnya. Untuk rangka, mereka menggunakan besi, bahan yang cukup kuat namun mudah dipasang. Dinding GRC ini dilapisi semen tipis sehingga tampak

Saat lonceng pulang sekolah berbunyi, lorong ini berfungsi sebagai area baris para

Ruang makan yang juga berfungsi sebagai ruang berkumpul bersama.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.