Pembagian Harta Waris Kepada Anak Angkat

Rumah - - Properti -

QPerkenalkan nama saya Priasta. Ayah saya baru meninggal dan meninggalkan akta wasiat yang menyatakan bahwa ia memberikan harta waris, yaitu rumah kepada anak angkatnya. Hal tersebut melebihi bagian harta waris dari setiap ahli waris termasuk saya, karena harta warisan yang berharga setahu saya hanya rumah tersebut. Almarhum ayah saya memiliki 3 orang anak kandung dan 1 orang anak angkat. Kami yang merupakan anak kandungnya, hanya mendapat satu bidang tanah yang dibagi menjadi 3 orang.

Pada dasarnya, kami ingin menjalankan sesuai wasiat almarhum ayah saya, yaitu memberi sebagian harta waris kepada anak angkatnya. Tetapi, bukan memberikan rumah secara utuh sesuai dengan isi wasiat dari almarhum Bapak saya. Bagaimana menurut pandangan Bapak, apakah hal tersebut dimungkinkan? Terima kasih, Priasta Suryo Prasojo, Tanah Kusir.

ATerima kasih sebelumnya Bapak Priasta atas pertanyaannya. Bagian mutlak/ legitime portie adalah bagian dari harta peninggalan yang harus diberikan kepada para ahli waris menurut undang-undang, terhadap bagian mana orang yang meninggal tersebut tidak diperbolehkan menetapkan sesuatu, baik berupa hibah maupun wasiat.

Sehingga, dalam hal ini, Bapak Saudara meninggal dan hanya meninggalkan ahli waris 3 orang anak kandung dan harta wasiatnya hanya berupa tanah, maka tanah tersebut tidak boleh diwasiatkan kepada anak angkatnya saja, karena hal tersebut akan melanggar bagian mutlak ke-3 orang anak kandung tersebut.

Namun demikian, dalam hal ke-3 anak kandung, termasuk Bapak selaku ahli waris dalam garis lurus, sepakat untuk melaksanakan wasiat tersebut, maka para ahli waris dalam garis lurus dapat membuat surat persetujuan tertulis berupa akta notaris untuk melakukan pembagian waris berdasarkan Akta Wasiat dan melepaskan haknya sebagaimana diberikan oleh undang-undang.

Akta pembagian waris tersebut dapat digunakan sebagai cara untuk melaksanakan pembagian siapa yang berhak atas harta waris dari Pewaris dan meminimalisir gugatan di kemudian hari atas pelaksanaan wasiat pembagian waris.

Terkait tanah, dalam hal pembagian waris dilakukan berdasarkan wasiat, berdasarkan Pasal 111 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, permohonan pendaftaran peralihan hak atas tanah diajukan oleh ahli waris atau kuasanya dengan melampirkan: 1. Sertipikat hak atas tanah atas nama pewaris, atau, apabila mengenai tanah yang belum terdaftar, bukti pemilikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997; 2. Surat kematian atas nama pemegang hak yang tercantum dalam sertipikat yang bersangkutan dari Kepala Desa/ Lurah tempat tinggal pewaris waktu meninggal dunia, rumah sakit, petugas kesehatan, atau instansi lain yang berwenang; 3. Surat tanda bukti sebagai ahli waris yang dapat berupa: a. Wasiat dari pewaris, atau; b. Putusan Pengadilan, atau; c. Penetapan hakim/Ketua Pengadilan, atau; . Bagi warganegara Indonesia penduduk asli: surat keterangan ahli waris

d.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.