PELESTARI JEJAK SEJARAH

Bangunan bersejarah kerap diabaikan dan kemudian dilenyapkan. Namun, Arya Abieta tak tinggal diam. Dengan tekadnya, ia akan mempertahankan eksistensi jejak sejarah ini.

Rumah - - PROFIL - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Ibarat sebuah album keluarga yang memiliki cerita di setiap lembar fotonya, kota pun demikian. Di setiap bangunan tua selalu terselip cerita budaya nusantara. Tanpa bangunan tersebut, kota akan terasa hampa dan tak bernyawa.”

Ucapan tersebut terlontar dari mulut Arya Abieta, arsitek sekaligus Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), yang kecewa dengan pandangan masyarakat masa kini pada bangunan bersejarah. Diakuinya, saat ini tak banyak masyarakat yang kurang paham akan nilai sejarah yang terkandung dalam sebuah bangunan kuno. Kebanyakan dari mereka hanya menikmati tampilan visual tanpa tahu perjalanan panjang yang dilalui bangunan tersebut.

Yang lebih memprihatinkan, tangantangan yang seharusnya menjaga dan memelihara bangunan bersejarah, kini turut merusaknya dengan kedok “diperbaiki untuk kemudian dibangun kembali” atau bahkan dihilangkan karena dianggap merusak keindahan kota. Padahal, ketika mereka menghancurkan bangunan tersebut, mereka telah melenyapkan warisan budaya bangsa.

Arsitek pelestari bangunan tua ini pun berusaha keras untuk mempertahankan eksistensi bangunan bersejarah tanpa perlu meratakannya dengan tanah. Bagaimana caranya?

BERKENALAN DENGAN ARYA ABIETA

Ditemui RUMAH di kantornya di bilangan Jakarta Selatan, Arya tampak santai dalam balutan kemeja putih, celana jeans, dan sepasang sandal jepit. Ketika ditanya mengenai ketertarikannya akan bangunan tua, Arya hanya berceloteh. “Arsitek yang menekuni bidang konservasi tidak banyak, jadi saya berpikir, kalau bukan saya, siapa lagi,” ujarnya.

Arya muda memang sudah memiliki ketertarikan pada bangunan tua. Ketertarikannya sudah menjadi hobi. Menurutnya, setiap bangunan tua memiliki cerita penting untuk sebuah kota. Kemudian, bersama teman arsitek dan Asosiasi Arsitek Indonesia (IAI), ia membentuk Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA). PDA berkomitmen untuk mengumpulkan dan menyimpan dokumendokumen arsitektural, jurnal penelitian, dan dokumentasi hasil konservasi bangunanbangunan bersejarah yang ada di kota-kota besar, seperti Jakarta. Dari PDA inilah data bangunan tua diperoleh untuk kemudian diteliti secara lebih mendalam.

MEMPERTAHANKAN BUKAN BERARTI MERUNTUHKAN

Arya menuturkan bila melihat bangunan tua, orang cenderung ingin membongkar, kemudian membuat baru. Itu salah besar! Saat bangunan tua diperbarui dan bersolek menjadi bangunan baru, maka itu disebut replika. Tak ada lagi unsur sejarah yang terkandung di dalamnya. Bangunan tua seharusnya dipugar bukan dibongkar. Oleh sebab itu, Arya ingin meluruskan pemikiran tersebut.

Perjuangan Arya mempertahankan bangunan bersejarah selalu didasarkan pada 3 hal. Pertama, mempertahankan sebanyak mungkin keaslian bangunan. Kedua, kalau diperbaiki, material atau bentuk yang digunakan harus menyerupai material aslinya. Ketiga, segala tindakan pemugaran harus dilakukan secara hati-hati dan benar agar tak merusak bangunan lama.

Proses pelestarian pun tak sembarangan. Ada tiga tindakan yang harus dilakukan, yakni tindakan penelitian, perencanaan pelestarian, dan tindakan pelestariannya. Lamanya proses pelestarian tergantung dari tindakan penelitian. Dalam tahap ini, ketelitian tim sangat diperlukan karena menyangkut data asli bangunan.

“Seperti detektif dalam memecahkan kasus saja, kita akan menginvestigasi material, detail, dimensi dari bangunan tua tersebut. Mana yang masih merupakan bangunan aslinya, dan mana yang bukan. Tahapan ini sangat menarik buat saya,” ujar Arya. Setelah kelengkapan data diperoleh, maka ia selaku arsitek akan melakukan perencanaan bangunan dan menentukan akan dijadikan apa bangunan tersebut nantinya.

PENGHARGAAN KHUSUS DI AJANG IAI AWARDS

Salah satu aksi nyata pelestarian bangunan bersejarah yang dilakukan Arya adalah memugar Budha Bar yang pada masa kolonial dikenal dengan nama Gedung Bataviasche Kunstkring. Gedung Budha Bar yang menuai kontroversi itu awalnya milik pemerintah tapi dibeli oleh pihak swasta. Arya bersama arsitek lain pun mendesak pemerintah daerah untuk membeli kembali aset bersejarah tersebut.

Setelah dibeli kembali, tangan dingin Arya dan tim konservasi mulai bekerja. Bangunan Budha Bar pun kembali menjadi bangunan saksi sejarah. Bangunan Kunstkring yang dulunya digunakan sebagai gedung kesenian kini bersolek menjadi sebuah restoran Kunstkring Paleis yang bernafaskan jejak sejarah. Karya ini pun mendapat penghargaan khusus di ajang IAI Awards 2012.

Beberapa proyek Arya lainnya adalah bangunan milik Jasindo yang semula merupakan bangunan karya arsitek Belanda ternama, Hendrik Petrus Berlage, sebuah galeri milik PT KAI di Bandung, dan sebagainya.

BANTU DUKUNG PELESTARIAN BANGUNAN TUA

Arya menuturkan dalam rangka melestarikan bangunan tua, ia tak bisa bergerak sendiri. Seluruh lapisan masyarakat harus ambil bagian. Pasalnya, Nama: Pendidikan: S1 Arsitektur ITB, Bandung 1981 Jabatan: Pendiri PT Wastuadiolahrupa (Studio83) Dewan Kehormatan Arsitek IAI DKI Jakarta Profesional Arsitek Utama IAI Tim Penasihat Gubernur Pelestarian Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, Provinsi DKI Jakarta Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Dan sebagainya • • Prestasi: Arsitek Konservasi, Rehabilitasi, Revitalisasi • Café Historia + Kedai Jakarte • Gedung Cipta Niaga (PPI) • Gedung Asuransi Jasindo Kali Besar Kawasan Bawah Tanah Monumen Nasional Rumah Pengasingan Soekarno Dan lain-lain • • Jakarta bukan BSD yang ceritanya baru dimulai beberapa tahun yang lalu. Jakarta dibentuk oleh sejarah. Kalau bangunan-bangunan bersejarah tersebut hilang, maka Jakarta tak memiliki cerita lagi. Sejarah pun tak memiliki bukti.

“Ini kekayaan yang dibuat oleh waktu. Kami bisa buatkan 10 Dunia Fantasi hari ini, tapi untuk satu bangunan bersejarah seperti Kunstkring, sudah pasti tidak bisa. Oleh sebab itu, saya dan teman-teman berusaha keras untuk mempertahankannya,” ujarnya menutup perbincangan dengan RUMAH.

Arya Abieta

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.