DULANG RUPIAH DARI MEMORI MASA LALU

Tak akan ada Jakarta Vintage tanpa seorang Luthfi Hasan. Pria bertangan dingin inilah yang berhasil membawa konsep masa lalu pada interior masa kini.

Rumah - - PROFIL - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESSUARISA

Lima tahun silam, nama Lutfhi Hasan mungkin belum berdengung di industri furnitur tanah air. Dulu, ia hanya seorang pria bergelar sarjana politik yang berkiprah di dunia periklanan. Kini, ia menjelma menjadi seorang pengusaha sukses di bidang furnitur “lawas” dan kerap menjadi pembicara di beberapa ajang kreatif di Jakarta.

Perjalanan karir seorang Luthfi Hasan di ranah industri kreatif memang terbilang spontan. Awalnya, ia hanya hobi mengoleksi barang-barang berbau “vintage”, kemudian hobi tersebut termanifestasi menjadi sebuah bisnis yang beromzet besar.

DIMULAI DARI BLOG

Kecintaan dan hobi Luthfi dalam mengoleksi barang vintage rupanya berawal dari barang zaman dulu yang diberikan oleh orang tuanya. Alih-alih membuangnya, barang-barang lawas tersebut justru ia simpan dengan apik. Lambat laun, ia semakin kepincut dan mulai berburu benda-benda vintage lain ke beberapa kota di Indonesia.

Hasrat menuangkan perburuan benda vintage ke dalam sebuah buku pun terbersit dalam benak Luthfi. Namun, meluncurkan sebuah buku rupanya tidak semudah yang ia bayangkan. Diperlukan observasi yang lebih mendalam dan kepiawaian dalam dunia desain. Luthfi sadar, ia belum mumpuni dalam hal itu. Oleh karenanya, ia mengawalinya dengan membuat sebuah blog.

Di tahun 2012, dengan modal hasil perburuan lokasi dan koleksi barang vintage yang ia miliki, Luthfi mulai menggarap sebuah blog yang ia namai, www.jakartavintage.com. Dalam blog tersebut, Luthfi aktif mengunggah berbagai aktivitas terkait barang vintage, mulai dari berburu toko vintage hingga inspirasi-insprasi seputar furnitur vintage. Blog tersebut kemudian menjadi viral (tersebar dengan cepat) dan dibaca banyak orang. Luthfi pun dalam sekejap dihujani pujian akan selera desainnya yang unik dan menginspirasi.

“Bahkan, ada beberapa yang meminta saya jadi kurator dan pembicara. Padahal, latar belakang saya bukan desainer. Saya hanya suka hal-hal berbau vintage dan mungkin saya dianugerahi selera desain yang baik,” ujarnya.

TAK PERLU MODAL BESAR

Dari sekadar blog, Luthfi pun melebarkan sayap ke dunia bisnis yang sesungguhnya. Ia mulai memproduksi furnitur dengan sentuhan vintage. Namun, vintage yang ia usung pun bukan vintage murni, yang terkesan lawas, tetapi vintage dengan permainan warna dan corak.

“Temanya tetap vintage, dengan kaki runcing dan sentuhan kayu. Tetapi ada nuansa playful- nya di sana dengan permainan warna dan motif yang sedang hits saat ini,” ujarnya antusias.

Dalam memulai bisnis ini, Luthfi mengaku tak perlu modal besar. Pada awal proses produksi, ia bahkan menggunakan furnitur bekas atau kayu bekas (kusen, pintu, dan sebagainya) lalu memodifikasinya. Modalnya hanya bahan pelapis untuk bantalannya. “Proses awal buat furnitur, saya hanya bermodalkan furnitur bekas yang saya modifikasi. Bahan pelapisnya saya ganti dan kayunya saya furnish (lapis) ulang, “ujarnya. Dengan modal minim tersebut, omset yang diperoleh Lutfhi bisa mencapai ratusan juta, lho!

Nah, saat ini hampir sebagian besar furniturnya ada yang menggunakan bahan baku kayu bekas, ada pula kayu baru.

JAKARTA VINTAGE

Saat ini, Jakarta Vintage mengeluarkan lini produk terbaru, yakni keramik. Konsep vintage masih menjadi tema utama yang diusung Luthfi. KOLEKSI Beberapa koleksi furnitur Jakarta Vintage. Luthfi Hasan membuat sendiri motif pada bahan kursi tersebut.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.