JATUH HATI PADA BISNIS PROPERTI

Tahukah Anda, sejak tahun 2014 lalu, artis cantik keturunan Tionghoa dan Palembang ini terjun ke bisnis properti? Benarkah artis cantik ini memahami seluk-beluk dunia properti atau sekadar ikut-ikutan?

Rumah - - HALAMAN DEPAN - SANDRA DEWI

Siapa yang tidak kenal dengan Sandra Dewi? Hampir setiap hari wajahnya wara-wiri di layar televisi. Parasnya yang cantik ditambah dengan bakatnya yang mumpuni, terutama di dunia akting, membuat Sandra Dewi dikagumi banyak orang. Tak heran, jika dalam waktu yang relatif singkat, Sandra Dewi menjelma jadi artis papan atas Indonesia. Sandra Dewi mulai terjun ke dunia hiburan sejak tahun 2006. Dimulai dari model, Sandra Dewi mulai menapaki dunia akting. Mendapat peran utama di sinetron “Cinta Indah” pada tahun 2007, nama Sandra Dewi langsung melambung. Tak hanya di situ, Sandra Dewi makin melebarkan dunia keartisannya hingga menjadi pemain film dan bintang iklan. Sukses di dunia hiburan, tak lantas membuat Sandra Dewi puas. Ia sadar, perputaran roda di dunia hiburan bergerak sangat cepat dan tak pernah ada yang bisa memprediksi. “Tiap hari ada muncul artis dan aktor baru. Persaingan semakin ketat. Makanya, selain saya harus terus memperbaiki diri di dunia hiburan, saya juga menyiapkan back up, ketika saya tidak lagi diminati,” ucap Sandra. Dan menjadi pebisnis handal adalah target utama Sandra Dewi.

BUKAN KEPUTUSAN MUDAH

Memutuskan mau jadi pebisnis apa, Sandra Dewi mengaku bukan perkara mudah. Ia awalnya tertarik dengan dunia kuliner. “Setelah saya amati dan pelajari, saya merasa tidak mampu untuk terjun di dunia kuliner,” ucap Sandra. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk mengikuti jejak keluarganya yang berbisnis di bidang properti. Walau dibantu keluarga, Sandra Dewi mengaku bukan hal yang gampang menggeluti bisnis properti. Ia bahkan sempat mengesampingkan cerita banyak orang tentang besarnya keuntungan yang diperoleh jika ia terjun ke dunia properti. “Saya tidak mau hanya berpikir manisnya saja (memperoleh keuntungan, red.. Saya harus tahu keseluruhan proses yang akan saya jalani, termasuk risiko yang akan saya hadapi jika saya gagal,” ucapnya. Bahkan, Sandra Dewi mengakui bahwa ia butuh waktu belajar hingga 7 tahun sebelum terjun di bisnis properti. “Yang saya investasikan adalah uang dari jerih payahku sendiri, bukan hasil minta ke orang tua. Jadi, saya harus yakin dulu sebelum menggunakannya. Pokoknya disayang-sayanglah, jangan sampai salah langkah,” ujar Sandra Dewi. Ia bahkan pernah merasakan terjun ke lapangan menjadi tenaga pemasaran untuk menjual rumah. “Seru sih, walau awalnya terasa aneh. Tapi, saya menikmatinya,” ucapnya.

APA YANG MEMBUATNYA TERTARIK?

Sandra Dewi mengaku ada banyak hal yang membuat ia tertarik terjun ke dunia properti.

Pertama, membeli tanah dan properti tidak akan pernah rugi, karena harganya akan meningkat terus. “Saya enggak pernah mendengar harga properti turun,” ucapnya. Untuk investasinya, ia melakukan dengan 2 cara, yaitu menjualnya atau menyewakannya.

Kedua, keluarga besar sudah terlebih dahulu terjun di bisnis properti. Jadi, ia bisa belajar banyak dari keluarga tanpa harus ada unsur penipuan. “Saya beruntung memiliki keluarga yang sudah terjun terlebih dahulu di dunia properti. Saya jadi bisa belajar banyak dan dapat bimbingan langsung dari orang tua,” ucap pemain film Quickie Express ini.

Ketiga, Sandra Dewi beruntung bisa mendapat mitra sebuah perusahaan properti berskala besar, bernama Paramount Serpong. Bahkan, dia dipercaya menjabat salah satu Direktur serta Brand Ambassador di Paramount Serpong. Selain itu, dia juga menjadi CEO di resort Benoa Bay Sands Bali.

Memangku jabatan tinggi ini ia bersyukur karena dapat bertemu dengan para pebisnis properti laigi. Artinya, ia jadi banyak belajar lagi.

Dengan menekuni bisnisnya ini, Sandra Dewi sudah memiliki banyak impian, termasuk membangun properti di beberapa kota besar di Indonesia. Sukses terus untuk Sandra Dewi!

“SAYA TIDAK MAU HANYA BERPIKIR MANISNYA SAJA (MEMPEROLEH KEUNTUNGAN, RED.). SAYA HARUS TAHU KESELURUHAN PROSES YANG AKAN SAYA JALANI, TERMASUK RISIKO YANG AKAN SAYA HADAPI JIKA SAYA GAGAL.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.