JATUH CINTA PADA BISNIS FURNITUR

Pendidikan arsitektur menjadi pilihannya semasa remaja. Namun, belakangan ia lebih suka menjerumuskan diri ke bisnis furnitur.

Rumah - - PROFIL - TEKS SELVIA MARTIANI selvi@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA PERJALANAN WOODPECKER SPESIALIS VINTAGE

Gaungnya mungkin belum terlalu terdengar. wajar, kiprahnya di jagat industri kreatif tanah air memang terbilang baru seumur jagung. wilsen Novio wiranata (26), penggagas sekaligus pendiri label furnitur woodpecker Studio, baru memulai bisnis furnitur di tahun 2012. Saat itu, usianya baru 22 tahun. Usia yang terbilang muda dalam memulai sebuah bisnis. Namun, dengan mantap ia menggeluti bisnis ini.

ARSITEK YANG BERUBAH HALUAN

Bagi alumnus Universitas Pelita Harapan ini, desain bukanlah dunia yang asing. Sedari kecil, ia sudah menyenangi gambar dan dunia seni. Itulah sebabnya, ia tak ragu ketika memilih arsitektur sebagai jurusan studi kuliahnya. Namun, siapa sangka, di tengah perkuliahan, ia mulai tertarik pada bidang lain, yakni desain interior dan produk. Ia pun mulai menjajal proyek interior di masa-masa kuliahnya, salah satunya mendesain furnitur.

Namun, bukan arsitek atau desainer interior yang menggugah minatnya. Melainkan, desain produk. Apa alasannya? “Saya menilai arsitektur hanya sekadar fisik bangunan, sementara interior tanpa furnitur akan terasa hampa. Oleh karenanya, furnitur memegang peranan penting dalam ruang. Boleh dikatakan, furnitur adalah si pemberi nyawa pada interior,” ujarnya.

Kecintaan dan minat yang besar pada desain produk ternyata bukan jaminan untuk dapat menekuni bisnis furnitur dengan mudah. Keterbatasan ilmu dan pengalaman menghambat langkah wilsen dalam menciptakan produk furnitur ini. Bagaimana pun, ia adalah seorang arsitek, bukan desainer produk. Sehingga, dalam merancang desain furnitur ia acap kali gagal dan harus mengulang pembuatan produk serupa. Ini tentu membuat modal wilsen jadi membengkak.

“Awalnya saya buta soal desain produk. Sementara, dalam menghasilkan produk berkualitas tidak hanya soal tampilan, tetapi juga bagaimana furnitur tersebut dapat memberi rasa nyaman pada penggunanya. Makanya, saya belajar dan terus belajar,” ujar wilsen.

Benar saja, walaupun ongkosnya cukup tinggi, wilsen kini dapat memproduksi furnitur dengan kualitas nomor wahid. woodpecker Studio pun semakin mantap bersaing di industri lokal tanah air.

FILOSOFI NAMA WOODPECKER

woodpecker, nama yang cukup unik untuk sebuah merek furnitur. Setuju? Awalnya, RUMAH beranggapan sang kreator menggemari tokoh kartun woody woodpecker, burung pelatuk yang memiliki kicauan khas dan sempat tenar di zamannya. Rupanya, salah besar. wilsen memilih nama woodpecker karena memiliki filosofi tersendiri.

“Saya ingin mengadopsi sifat dari burung woodpecker yang selalu mengambil kesempatan di sekitarnya untuk mengubah sesuatu menjadi lebih indah. Seperti pohon yang sudah mati dapat diubah menjadi sesuatu yang indah dan berdaya guna,” tuturnya.

Seolah terhipnotis dengan keindahan desain furnitur yang mengekspos suasana “jadul”, woodpecker kini banyak menelurkan lini produk berkonsep vintage, industrial, retro, dan shabby chic. Namun, tak menutup kemungkinan ia merancang produk-produk dengan konsep berbeda, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen.

Lalu apa bedanya woodpecker dengan merek furnitur yang saat ini juga banyak beredar? wilsen membeberkan, label miliknya tidak hanya fokus menciptakan produk yang nyaman digunakan tetapi juga memiliki tampilan visual yang memikat dan ketahanan yang kuat.

Untuk bahan pembentuk furnitur, wilsen menggunakan kayu—jati, mindi, mahoni, trembesi oven—besi, dan rotan. Sementara untuk finishing- nya, ia menggunakan duco untuk kayu dan powder coating untuk besi. “Untuk cat duco, kami menyemprotkan sebanyak 4 kali, sehingga lapisannya kuat, tidak mudah tergores maupun rusak karena panas,” ujarnya menegaskan.

WARA-WIRI DI TV

Selain usaha keras dan proses belajar tiada henti, perjalanan bisnis wilsen juga dipenuhi keberuntungan. Misalnya saja, saat ia sedang mengikuti sebuah pameran di Yogyakarta, seorang produser acara TV tertarik dan membeli produknya. Tak disangka, sang produser tersebut memajang produknya di lokasi syuting program acaranya. Setelah itu, sang produser mengajaknya bekerja sama agar produk woodpecker dapat terus tayang di program acara yang ia gawangi.

Tidak hanya tampil di beberapa stasiun TV, produk woodpecker juga pernah menghiasi beberapa film layar lebar, lho. Kepiawaian wilsen dalam memasarkan produknya membuat nama woodpecker melejit. Pesanan pun datang dari berbagai kota di Indonesia, Jakarta salah satu yang terbesar. Itu sebabnya ia membuka gerai di Jakarta dan berencana untuk terus membuka gerai baru di kota-kota besar lainnya. Keren!

Beberapa produk Woodpecker. Wilsen banyak mengusung tema-tema vintage pada produk furniturnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.