Angkat Derajat perajin LOKAL

Di awal keterlibatannya di dunia seni dan desain, Satya Brahmantya sudah memberanikan diri mendirikan sebuah galeri yang dinamakan Benda Art Space. Ia kemudian berusaha mengangkat derajat para pembuat furnitur lokal ke tingkat dunia.

Rumah - - PROFIL - TEKS GRACE ELDORA graceldora@gmail.com

Butuh waktu yang panjang bagi seorang Satya Brahmantya atau biasa dipanggil Bram ini untuk benar-benar serius menekuni bidang seni desain. Bahkan, ia sempat memutuskan tidak meneruskan pendidikan dan aktif di kegiatan organisasi. Untungnya, sahabat dan keluarga Bram terus mengingatkan dia untuk terus fokus pada dunia pendidikan, termasuk melanjutkan mimpinya di dunia seni desain. Walau awalnya sulit, akhirnya Bram pun kembali terjun ke dunia seni desain.

Keseriusannya terjun ke dunia ini ditandai dengan mendirikan galeri seni bernama Benda Art Space bersama beberapa rekannya pada tahun 1999. Saat itu, ia banyak mengadakan pameran yang khusus mengusung wacana karya 3 dimensi; desain kriya, patung, dan instalasi.

Galeri yang dinamakan Benda Art Space ini awalnya kurang digarap dari segi komersialnya. ”Galeri ini memang ada untuk proses belajar. Di tahun-tahun itu pun karya seni masih belum bisa masuk ke wilayah komersial,” jelasnya. Tempat ini menjadi semacam laboratorium bagi Bram dan teman-teman pecinta seni budaya yang membutuhkannya.

BUDAYA TUKANG JAHIT

Bram menyadari bahwa ada banyak perajin lokal, tetapi kebanyakan berstatus sebagai tenaga pembuat dan hanya menerima pesanan dari pembeli. Pembeli yang menentukan desain sesuai keinginan, perajin sebagai tukang jahitnya. Bagi Bram yang tinggal di wilayah Yogyakarta yang sarat bidang seni, sangat sulit menemukan perajin sekaligus desainer profesional.

Padahal, menurutnya, Indonesia punya kekuatan filosofi budaya yang kuat, teknik, dan material yang menjadi karakter desain Indonesia. ”Bila para perajin Indonesia semakin kuat, kita benar-benar bisa menjadi pembuat tren dunia,” serunya optimis.

”Saya mencoba untuk mengembangkan kerajinan secara profesional, sampai ke bisnis furnitur. Pada 2007 saya diajak gabung oleh beberapa teman di PT Lunar Graha Utama. Di sana saya melihat masih ada budaya tukang jahit tadi. Jadi, saya coba bikin perubahan di Lunar pada tahun 2008. Ini mengarahkan Lunar menjadi sebuah brand Indonesia yang harus bisa diperhitungkan di dunia desain furnitur,” ujarnya.

KONSEP DESAIN BERKELANJUTAN

Sebagai seorang yang menyenangi alam, Bram mengusung konsep desain berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan ( sustainable design). ”Pertimbangannya memang karena lingkungan yang semakin rusak. Ini yang bisa saya lakukan sebagai desainer furnitur. Konsep itu yang bisa kita sumbangkan demi dunia yang lebih baik,” jelasnya.

Pemakaian mesin dan alat bantu tetap dilakukan Bram secara proporsional dengan pertimbangan hemat energi. Ia masih mengusung filosofi budaya Indonesia yang bersahaja, membuat karya-karyanya diterima di konsumen internasional.

Sering kali keragaman budaya Indonesia menjadi bahan inspirasi Bram. Idealisme ini diakuinya telah menciptakan produkproduk desain tradisional. Jika dieksplorasi lebih dalam, teknik tradisional Indonesia bisa dipakai untuk salah satu solusi bagi tantangan tren dunia, seperti teknik anyaman menggunakan material tanaman.

DUKUNGAN DARI LUAR NEGERI

Galeri ini kemudian mendapat dukungan pendanaan dari beberapa organisasi nonprofit (NGO) milik luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Ford Foundation dan Japan Foundation. Namun pada awal 2000, minat NGO mulai bergeser pada pengembangan sumber daya manusia dan mengurangi pendanaan ke bidang seni dan budaya.

Tanpa suntikan dukungan dari luar, Bram memanfaatkan kondisi ini untuk merintis bisnis kerajinan tangan khas daerah Yogyakarta untuk membiayai galeri. Setelah 5 tahun berjalan, Benda Art Space berhenti beroperasi pada 2004.

Tak tinggal diam, Bram pun mulai membuat produk terbaru dengan mengusung konsep barang ramah lingkungan. Berkat inilah, beberapa kali Bram diundang dan akhirnya kembali menerima bantuan dari NGO internasional untuk pameran di luar negeri di tahun 2008.

Pada 2010, Bram dan komunitas desainnya, Kre’o (Kreatif Object) fokus membuat pameran-pameran di luar negeri untuk mengenalkan desain ala Indonesia. Kre’o kemudian membuat perusahaan Indonesian Mind, sebuah sarana mempertemukan desainer, pembeli, dan industri desain kreatif. Ide ini yang hingga sekarang masih terus berusaha dikembangkan para pengurusnya. Sukses terus untuk Bram dan galeri seni budayanya.

Salah satu instalasi milik Bram berupa furnitur meja dan kursi makan serta sejumlah karya lampu hias berbahan utama kayu.

Set furnitur ruang tamu dengan tema natural dan warna netral. Desainnya yang minimalis berkesan ringkas dan tidak membuat ruangan menjadi tampak padat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.