TENTANG SRI WAHYUNI

Rumah - - PROFIL -

ekerja sebagai abdi pemerintah rupanya tak sejalan dengan prinsip hidup seorang Sri Wahyuni atau karib disapa Ncie (48). Di usianya yang tidak muda, ia nekat meletakkan jabatannya dan memulai kehidupan baru. Menyesal? Tidak sama sekali. Satu pintu tertutup, maka pintu lainnya akan terbuka. Begitu pikirnya. Benar saja, kehidupan Sri Wahyuni berubah 360 derajat.

“Bayangkan kalau saya masih bekerja. Saya hanya duduk di belakang meja dan berkutat dengan pekerjaan. Sekarang, saya mengerahkan tenaga saya dan menelusuri desa demi desa untuk melatih masyarakatnya berkarya dengan sampah,” ucap Ncie memulai cerita.

dari Benang ke kantong kresek

Hari-hari selama menganggur ia jalani dengan menggarap proyek rajutan, seperti membuat tas, penutup teko, dan sebagainya. Ncie masih ingat betul, bagaimana ia mengenal kembali crochet— teknik merajut benang dengan menggunakan satu jarum yang disebut hakpen. Lambat laun, Ncie menjadi mahir dan menguasai teknik crochet.

Ia lalu bereksplorasi dengan bahan selain benang, yakni kantong plastik atau kresek. Daripada dibuang, mending ia rajut. Begitu katanya. Setelah puas bereksplorasi dengan kresek, Ncie kembali merajut dengan benang. Hasilnya kemudian ia ungguh di media sosial untuk dijual. Rupanya, banyak yang mengapresiasi karya rajutannya. Ncie pun semakin aktif di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Di dunia maya itu, ia membentuk jalinan pertemanan dengan sesama perajut.

Petualangan Bermodal “dengkul”

Ajakan teman di media sosial membawa Ncie melakukan petulangan pertamanya di luar Jakarta. Ia diajak berkunjung ke Purwokerto untuk melatih merajut. Dengan modal ncie mengikuti trashstock Festival musiv and art Plastic di sanur denpasar Bali pada juli 2016. Hasil karya pada ibu pengrajut dijual di pameran ini. Rp150.000, Ncie berangkat menuju kota yang terletak di Jawa Tengah tersebut.

“Pertama kali diajak oleh Komunitas Rajuters. Bawa uang hanya Rp150.000: Rp100.000 untuk naik bis, Rp50.000 untuk pegangan,” ujar Ncie. Setelah Purwokerto, Ncie melanglang buana dari desa ke desa di Pulau Jawa untuk mengajarkan teknik merajut.

Setelah itu, Ncie mendapat undangan melatih merajut di Lombok. Bermodalkan “dengkul” Ncie pun memberanikan diri mengambil tantangan tersebut. “Karena di Lombok enggak ada benang, sementara saya tidak ada modal untuk membeli benang, maka saya menyarankan untuk menggunakan plastik atau kresek. Daripada mencemari lingkungan, lebih baik kita buat benda berdaya jual,” ucap Ncie bercerita.

Ya, dari sinilah ia mulai menggunakan kresek sebagai bahan utama merajut. Honor yang ia dapatkan digunakan sebagai modal merajut di tempat lainnya. Nama: Tempat, Tanggal Lahir: Karir: Pelatihan Rajut: Pelatihan dan pendampingan di Bank Sampah Inpower Karya Mandiri Garut Jawa Barat 2015. Workshop komunitas di Jawa Tengah 2015. Narasumber pada Workshop dan Innovative Business Training Pengolahan Sampah, Mataram Lombok, oleh Bank Sampah Bintang Sejahtera Lombok, 2015. Pendampingan dan pelatihan di berbagai desa di Lombok Timur 2015. Pendampingan dan pelatihan ibu-ibu istri nelayan di Pulau Bungin Alas Sumbawa 2016. Pendampingan dan pelatihan di Kelurahan Lampaseh Banda Aceh 2016. Mengikuti pameran international pada The National Network Of Health Promoting Hospital 7 Health Service di Ambarukmo Hotel Plaza Jogjakarta 4-7 Agustus 2016. Dan lain-lain.

Blusukan Hingga ke Pelosok

Panggilan Ncie untuk melatih merajut tak kunjung usai, ia diminta mendatangi beberapa wilayah di Indonesia, sebut saja Aceh, Bandung, Jogjakarta, Ungaran, Solo, Pulau Bungin, Bali, dan sebagainya. Tahukah Anda, modal yang ia bawa dalam setiap pelatihannya hanya “dengkul” dan uang yang tidak sampai Rp400.000.

“Karena saya tidak produktif kan, saya hanya merajut dan dibayar seikhlasnya sehingga tak mengantongi dana yang cukup. Tapi, percaya enggak? Saya selalu bisa keluar dari masalah uang. Rezeki akan datang pada orangorang yang ikhlas,” tutur Ncie.

Ncie menambahkan kesulitan saat melakukan pelatihan tak hanya datang dari dana, tetapi juga tempat ia tinggal. Ketika melatih masyarakat Pulau Bungin, Sumbawa, Ncie menghuni sebuah museum berbentuk rumah panggung di atas laut yang tidak memiliki ruang MCK (mandi, cuci, kakus) yang memadai.

“Selama di sana saya tidak mandi atau pun buang air,” ujarnya sambil mengenang. Namun, hal tersebut hanya menjadi beberapa hitam di antara warna-warni kehidupannya.

Proyek merajut dari sabang sampai merauke

Tak ingin berhenti berkarya, Ncie ingin memecahkan rekor MURI dengan membuat bendera merah putih terpanjang di Indonesia, yakni dari Sabang sampai Merauke. Rencananya ia ingin mengerahkan seluruh perajut yang pernah ia latih untuk membuat granny square (sejenis rajutan) ukuran 10cm x 10cm dari plastik.

“Saya hanya ingin masyarakat bergotong-royong untuk berkarya tanpa harus mengeluarkan uang. Ini adalah mimpi saya,” ujar Ncie menutup cerita.

Sri Wahyuni Jakarta, 2 November 1968 - Guru di TK YWKA, Bandung, 1987—1990. - Guru di SDN Sukarasa 4, 1996—2011. - Kepala Sekolah TK Sembilan Mutiara Bandung, 2005. - Staff Dikmen Dinas Pendidikan Tangerang Selatan, 2011—2013. - Penulis buku 2016.

ncie sedang mengajarkan warga Pulau Bungin merajut kantong kresek.

Comments

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.