Angkat Derajat produk Lokal

Rumah - - PROFIL -

Nama Alvin Tjitrowijro (33) sudah lama bergaung di ranah industri desain tanah air. Kepiawaiannya dalam mendesain, membuat ia jadi perhatian dunia. Tak heran, jika karyanya berhasil melintasi benua, mulai dari Asia hingga Eropa. Bahkan, ia baru saja pulang ke tanah air setelah beberapa bulan menggelar pameran di Milan, Italia, bertajuk Alamak.

Bersama kurator asal Jepang Yoichi Nakamuta dan 12 desainer lainnya, Alvin menjadi satusatunya desainer asal Indonesia yang memamerkan produk furniturnya. Karyanya tak hanya cantik, tetapi sangat kental akan budaya Indonesia karena menggunakan rotan sebagai bahan dasarnya.

Cerita Budaya Bangsa DALAM Desain

Karya Alvin yang diikutsertakan dalam pameran Alamak merupakan bentuk kefrustrasian dan kekesalannya akan identitas budaya bangsa yang tak dikembangkan. Dalam pameran desain tersebut, karya Alvin tak hanya memperkenalkan material khas Indonesia, melainkan juga memperkenalkan identitas, adat istiadat, dan warisan budaya.

Ya, sejak zaman dulu rotan sudah menjadi bagian dari Indonesia. Material alami ini sudah dijadikan bahan dasar pembuatan keranjang, furnitur, bahkan dijadikan material bahan bangunan. Alvin menambahkan, sebanyak 85% jenis rotan ada di Indonesia. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia harusnya bangga menghadirkan rotan dalam kehidupan mereka.

“Selama ini yang kita tahu, rotan selalu diremehkan. Padahal materialnya bagus dan berkelanjutan. Tapi, orang kita malah menganggapnya rendah dan kampungan,” tukas Alvin.

Bergelut Dengan Masyarakat Sendiri

Siapa sangka, Alvin dulunya tak bercita-cita menjadi seorang desainer produk atau interior. Alvin remaja awalnya tertarik terjun di dunia desain otomotif. Akibat krisis yang terjadi saat itu, Alvin pun urung melanjutkan niatnya. Ia kemudian beralih menggeluti desain produk.

Ia mengaku masalah terbesar yang dihadapi Indonesia di bidang kreatif adalah bangsanya yang gemar mematikan mentalitas. Masyarakatnya masih gemar menggembar-gemborkan merek asing dan mengaggap merek tersebut lebih keren ketimbang merek lokal. Padahal, di negara maju seperti Amerika, masyarakat dan pemerintahnya saling mendukung merek lokal satu sama lain.

Mereka kerap mempromosikan merek-merek tersebut dalam film atau sebuah video klip. Hal itulah yang tidak ditemui di Indonesia. Masyarakatnya masih memuja merek asing, dan mengacuhkan identitas bangsa yang tercantum di merek lokal. “Bila tidak melakukan aksi, bangsa ini seterusnya hanya menjadi penjahit, tidak akan bisa menjadi desainer yang bangga akan budayanya,” pungkas Alvin. Prestasi: 2016 Awarded 40 under 40 Creative Entrepreneur in Interior Design from Perspective Magazine, Hongkong. 2016 Exhibited as part of Alamak Group Exhibition in Triennale Design Museum, Milano - Italy 2015 Exhibited as part of Asian Stars in IFFS furniture fair in Singapore 2014 alvint showroom opened to public in new location, Goodrich Building in Jl Suryo no 11 South Jakarta 2006 First solo exhibition together with Volvo, The Hour Glass, Dupont CORIAN by MAS

Siapkan panggung untuk Desainer Lokal

Selama 10 tahun terjun di industri kreatif, Alvin mengaku banyak mengalami kesulitan, mulai dari produksi hingga penjualan. Saat produksi, ia kerap sulit mendapatkan material yang berkualitas. Pasalnya, hampir seluruh material lokal berkualitas dikirim ke negara lain (ekspor). Selain itu, para desainer lokal juga tidak dibekali kekuatan hukum yang memadai. Sehingga banyak dari mereka, termasuk dirinya, tertipu oleh perusahan yang hanya ingin mengambil untung.

Furnitur karya desainer lokal pun kerap dipandang sebelah mata. Masyarakat masih menganggap produk luar jauh lebih baik ketimbang produk dalam negeri. Sadar akan masalah tersebut, Alvin bersama teman sesama desainer mencoba untuk memecahkan masalah ini dan fokus untuk memperkenalkan produk lokal di tanah sendiri.

Bulan November nanti, ia bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) akan menggelar Indonesian Design Week yang akan diadakan pada 17 November—20 November. Di acara ini, ia ingin mempertemukan para perajin dengan pabrik, pabrik dengan desainer, dan masyarakat dengan desainer. Alvin ingin masyarakat tahu bahwa Indonesia juga memiliki perajin dan desainer yang berkualitas.

“Dengan adanya acara ini, kita ingin mengangkat martabat desainer dan material Indonesia dalam balutan yang berbeda dan lebih istimewa,” pungkas Alvin.

Salah satu karya alvin bertajuk Lumping yang dipamerkan di Milan, italia, dalam pameran alamak.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.