Berkenalan dengan Pendiri interlook

Di saat media digital hanya dijadikan ajang memajang portofolio, Wandy Rustandi, pendiri Interlook, justru memanfaatkanya sebagai senjata utama dalam memasarkan jasanya.

Rumah - - PROFIL - TEKS SELVIA MARTIANI selvia@gramedia-majalah.com FOTO SURAI FARDINA

Sejak kemunculan media sosial, banyak orang yang memanfaatkannya sebagai ajang promosi diri. Begitu pun dengan para arsitek atau desainer interior. Umumnya, mereka memanfaatkannya sebagai ajang narsisme, yakni memajang portofolio proyek yang tengah atau telah mereka buat. Tak demikian halnya dengan Wandy. Selain memajang portofolio jasa desain interior dan bangunannya, ia juga menggelar lapak di media interaksi tersebut.

Bukan perkara mudah bagi pria Bandung ini untuk membesarkan nama Interlook. Pasalnya, tak seperti kebanyakan usaha online lain yang menjual produk, Interlook awalnya hanya menjual jasa desain interior dan arsitektur. Namun, berkat keunikan desain yang ia tawarkan, Interlook mampu memikat hati para pengguna media sosial hanya dalam waktu 6 bulan.

Banting stir dari lansekap

Sebelum membangun merek Interlook, Wandy rupanya membangun sebuah usaha pembuatan taman bernama Garden Design. Namun, latar belakang Wandy sebagai seorang desainer interior rupanya lebih menggiurkan bagi para konsumennya. Wandy pun berusaha menggabungkan dua ranah desain, interior dan taman, dalam satu konsep, yakni Landspace dari kata lansekap dan space. Penggabungan dua bisnis tak membuahkan hasil. Permintaan desain interior lebih mendominasi ketimbang permintaan desain taman. Ia pun kemudian banting stir dan mulai fokus di bisnis interior dan bangunan.

“Awalnya membuka bisnis Garden Design, ternyata respon pasar lebih banyak ke interior karena mengetahui background saya interior,” ujar Wandy bercerita. Dalam memasarkan sebuah jasa atau produk, Wandy sangat percaya akan kekuatan nama sebuah merek. Ia yakin nama yang mudah dilafalkan akan lebih menarik publik ketimbang nama yang keren tapi sulit untuk diucapkan. Interlook pun dipilih berdasarkan teori tersebut.

Taklukan Pasar lewat Media sosial

Tak hanya desain yang membesarkan nama Interlook, tetapi juga media sosial. Wandy menobatkan media sosial sebagai senjata utama dalam memasarkan produknya. Dalam waktu 6 bulan, pengikut Interlook di Instagram sudah mencapai puluhan ribu. Bahkan, hampir semua klien ia peroleh dari media sosial tersebut. Ia mengaku sebelum merambah ke ranah digital, Interlook kesulitan mendapatkan klien. Karena, tak semua bisa membeli jasa yang ia tawarkan.

“Sebelum merambah ke digital, kami sulit menjangkau pasar. Namun, setelah merambah ke online, kita lebih mudah mendapatkan market,” ujarnya. Setelah pasar berhasil dibentuk, Interlook kini menghadapi masalah lain, ,y yakni p pesoalan sumber daya manusia (SDM). Permintaan proyek yang terus membludak membuat Wandy kewalahan. Setidaknya, ada 8 proyek yang harus ia tangani setiap bulannya. Oleh sebab itu, selain terus menambah proyek, Wandy akan lebih fokus mengelola kualitas SDM Interlook.

Wandy menambahkan menjajakan jasa secara online membuat ia lebih mudah menentukan market yang ingin ia capai. Ia pun bisa memilah apakah proyek tersebut serius untuk digarap atau tidak. “Dalam website Interlook, calon klien diharuskan mengisi formulir yang berisi pertanyaan seputar luas hunian, bujet, dan hal-hal terkait hunian. Dari formulir tersebut, akan terlihat mana klien yang serius dan mana yang tidak,” ujar Wandy lagi.

Tak hanya permintaan jasa interior yang terus berdatangan, Wandy juga diminta membuat furnitur. Ya, desain yang unik dan simpel membuat beberapa pengguna media sosial tertarik untuk memiliki furnitur yang ia desain. Permintaan furnitur yang terus berdatangan, membuat Wandy akhirnya memutuskan untuk berekspansi ke bisnis interior.

Buat Virtual showroom

Sebagai seorang pemilik usaha jasa dan produk, tentu Wandy ingin memiliki sebuah showroom, tempat ia memajang produk dan proyeknya. Namun, alih-alih membangun showroom berbentuk bangunan, Wandy lebih tertarik membuat virtual showroom—showroom maya yang dapat diakses secara digital. Menurutnya, dengan adanya virtual showroom membuat semua orang dapat dengan mudah melihat proyek dan produk yang ia hasilkan.

Kesuksesan jasa online miliknya rupanya tak terlepas dari prinsip bisnis online yang selalu ia tanamkan. Ia mengaku dalam menjual jasa secara online Anda harus mempunyai trik yang berbeda dari menjual produk/ barang pada umumnya. Ia pun membeberkan beberapa resep dalam berbisnis jasa online

“Pertama konten, kemampuan merencanakan desain dan konten akun sosial media atau website akan mengarahkan kita pada segmentasi pasar yang tepat. Kedua, keaktifan sebuah akun akan meyakinkan konsumen akan kredibilitas jasa yang kita tawarkan, dan ketiga fokus dan konsisten dengan apa yang kita jual akan mempermudah edukasi terhadap calon konsumen sehingga mereka memutuskan untuk membeli,” ujar Wandy menutup perbincangan dengan RUMAH sore itu.

desain interlook lebih banyak mengusung konsep eklektik, yakni pencampuran beberapa konsep gaya ke dalam satu ruang. setelah sukses menjual jasa lewat media sosial, interlook merambah dunia furnitur.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.