AGAR KOLAM IKAN TIDAK BOCOR

Melihat kolam di taman sangat menyenangkan. Tapi kalau bocor, bisa jadi menyebalkan.

Rumah - - EKSTERIOR - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@tabloidrumah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Kebocoran yang terjadi pada kolam ikan Anda tentu mengganggu, karena air jadi harus diisi lagi dan lagi. Habitat yang hidup di kolam— berupa ikan dan tanaman hias— pun bisa mati karena kekurangan air. Kebocoran memang bisa diatasi dengan cara menambal kolam, namun lebih baik lagi jika kebocoran dicegah sejak awal pembuatan kolam.

Menurut pendapat Sony Bayu Adji, ST, ahli lansekap dari IALI, yang disebut sebagai kolam yang tidak bocor adalah kolam yang mampu menahan air dari tanah masuk ke dalam kolam, dan menahan air di dalam kolam keluar ke tanah. Nah, untuk membuat hal ini terjadi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni kualitas bahan pembentuk adukan yang baik, teknik pengerjaan kolam, dan pemberian pelapis tahan air alias waterproofing.

Kualitas Bahan

Agar tidak terjadi kebocoran, semen yang digunakan mestilah memiliki kualitas baik, mudah dikerjakan, memiliki suhu adukan rendah sehingga tidak mudah retak, kedap air dan tahan lama.

Pasir juga mesti diperhatikan. Pasir yang baik adalah pasir yang butirannya keras, bergradasi baik dan bebas dari kotoran sehingga dapat menjaga kestabilan adukan setelah mengeras. Untuk pengecoran, komposisi campuran yang baik antara semen, pasir, dan batu split adalah 1:2:3. Sementara untuk pemasangan bata, komposisi campuran yang baik antara semen dan pasir adalah 1:5 atau 1:6.

Setelah dibuat, adukan harus segera digunakan (waktu maksimal 2,5 jam) dan selama pembuatan kolam, harus dilakukan beberapa kali pengadukan ulang. Hal ini ditujukan untuk menjaga kekentalan adukan dan kemudahan pemasangan adukan pada dinding kolam.

Pengerjaan dinding dan lantai

Konstruksi kolam yang sederhana dan murah dapat dibuat dari pasangan bata yang diplester dan diaci. Namun menurut Sony, pasangan batu bata memiliki porositas yang tinggi sehingga mudah menyebabkan kebocoran.

Agar tak bocor, cara yang paling tepat adalah menggunakan beton. Namun biaya yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan kolam berstruktur batu bata. Nah, sebagai jalan tengahnya Sony menyarankan untuk membuat konstruksi campuran antara beton dan batu bata.

Bagian dasar kolam, dan sepertiga bagian bawah dinding kolam dicor dengan beton dengan ketebalan ideal 10cm. Dari pengalaman Sony, di bagian bawah inilah sering terjadi kebocoran. Pengecoran beton pada kolam sama seperti pengerjaan lantai dak, namun sebaiknya pengecoran dilakukan secara sekaligus agar terhindar dari kemungkinan retak.

Setelah beton kering, dinding bata dapat dipasang. Pemasangan bata yang tepat juga akan memperkecil risiko terjadinya kebocoran pada kolam. Saat pemasangan, bata harus tetap datar dan tegak lurus, bagian bata yang menumpang tidak boleh kurang dari ¼ dari panjang bata, dan batu bata harus dalam kondisi lembap pada saat dipasang. Selain itu, kelebihan adukan yang menempel pada dinding pasangan harus segera dibersihkan sebelum mengeras. Kolam yang jadi tidak dapat digunakan langsung. Isi penuh kolam dengan air dan endapkan selama 1 hari, baru keesokannya kolam dikuras. Lebih baik lagi jika ini dilakukan beberapa kali. Hal ini bertujuan untuk mengetes apakah ada kebocoran dan juga untuk menghilangkan bau pada kolam yang dapat membahayakan ikan. Jangan menyikat bagian dalam kolam karena dapat menyebabkan lapisan waterproofing rontok.

Plesteran dan acian

Setelah beton jadi dan dinding bata telah dipasang, kolam dapat diplester dan diaci. Pada dasarnya, plesteran yang menempel dapat dibagi atas 2 lapisan utama. Lapisan pertama (yang biasa disebut kamprotan) adalah permukaan kasar dengan tebal 3MM. Lapisan ini terdiri dari campuran semen-pasir yang encer. Fungsi lapisan kasar ini adalah sebagai tempat melekatnya badan plesteran. Selain itu, lapisan ini juga memiliki fungsi untuk mengurangi penyusutan. Sementara, lapisan kedua/lapisan luar (yang sering disebut badan plesteran) setebal 6—10 mm, adalah lapisan luar yang membuat kolam terlihat rata.

Setelah plesteran kering, dinding dapat diaci. Selain untuk keindahan, acian mencegah badan ikan terluka karena tergores plesteran kasar. Acian dibuat setebal 3MM (lebih tebal dari acian standar), dengan campuran berupa semen dan air dengan perbandingan semen dan air adalah 2:1. Agar acian melekat sempurna, sebaiknya pengacian dilakukan setelah lapisan plesteran cukup keras dan stabil (sudah tidak terjadi penyusutan).

Jika dinding kolam tidak dipasang batu alam atau keramik, dinding tidak perlu diaci. Namun sebaiknya, tunggu plesteran kering lebih dahulu, baru dilakukan pemasangan batu alam agar kolam tidak bocor.

Pelapisan Waterproofing

Setelah diplester dan diaci, seluruh bagian kolam dilapisi dengan waterproofing. Saat ini banyak sekali jenis waterproofing yang beredar, namun jenis yang cocok diaplikasikan ke kolam (yang selalu dipenuhi air) adalah yang berbahan dasar semen dan berbentuk bubuk. Bahan lain, seperti polimer, acrylic, atau bitumen hanya cocok diaplikasikan pada area yang tidak terendam dalam waktu lama.

KEDIAMAN BERLIANA- PRIO UTOMO, GREEN COVE, BSD CITY, TANGERANG arsitek LANSKAP HERLIEN PRIMAYANTI (PRIMALANDS)

lokasi

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.