ANTARA SEJARAH PEMBERITAAN

Dari gedung inilah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke penjuru Nusantara. Ya, Gedung Graha Bhakti Antara memang jadi salah satu ikon sejarah jurnalisme Indonesia. Seperti apa bentuk bangunannya? Yuk simak di halaman ini!

Rumah - - JALAN-JALAN - TEKS GRACE ELDORA graceldora@gmail.com FOTO JOE ENDHY PESUARISSA

Gedung Graha Bhakti Antara atau dikenal dengan nama Gedung Antara ini berada dekat rumah gubernur jenderal, yakni Istana Merdeka pada masa pendudukan Belanda. Lokasi ini dianggap strategis sebagai wilayah kantor-kantor pemberitaan. Awalnya, Gedung Antara dibangun pada 1923 dan difungsikan sebagai gedung Berita Umum dan Agensi Telegraf milik Belanda. Tak heran, jika arsitektur yang digunakan masih bergaya bangunan kolonial pada umumnya. “Satu hal yang penting, tempat ini adalah salah satu cagar budaya Indonesia,” ujar Oscar Motuloh, seorang fotojurnalis yang telah melanglang buana ke berbagai tempat untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa. Ia juga yang bertanggung jawab sebagai Direktur Eksekutif Galeri Foto Jurnalistik Antara.

MEMPERTAHANKAN STRUKTUR ASLI

Sebagai bangunan cagar budaya, arsitektur bangunan pada Gedung Antara ini tak mengalami perubahan. Fasad bangunan masih tetap sama dan dipertahankan keasliannya dari dulu hingga kini.

Berbanding terbalik dengan arsitektur bangunan, desain interiornya sudah lebih modern namun tetap pada tema yang sama, yakni tema warna. Gradasi warna merah dan putih, sesuai warna bendera Indonesia, tersebar ke tiap sisi bagian dalam gedung. “Warnanya merah, putih, dan warna-warna turunannya,” jelas fotografer senior ini.

Bila Anda melihat sendiri bangunannya, desain industrial tampak kental di sini. Mulai dari pemilihan material ekspos pada tangga utama, hingga plafon yang didesain layaknya instalasi industrial. Beberapa pipa dan kabel dibiarkan tersusun rapi di bagian atas ruangan. Hal yang sama berlaku pada lantai 2, lantai kayunya sengaja dipertahankan sehingga senada dengan kayu tulangan pada plafon yang dibiarkan terekspos.

Uniknya, di gedung ini terlihat meja dan kursi berdesain eklektik yang populer di era mid century. Di bagian langit-langit tergantung sebuah bola dunia berukuran besar terbuat dari logam. Furnitur ini menambah kesan klasiknya ruangan museum, meski di sudut-sudut lain tampak lebih kekinian. Oscar menjelaskan, bahwa konsep ini sengaja dibuat seperti perpaduan desain kolonial dan modern.

SEJARAH YANG DIKEMAS MENARIK

Ia berpendapat, sejarah merupakan jejak lama yang membentuk masa kini, maka sejarah tak boleh dilupakan. Tapi tak bisa disangkal, gedung ini perlu didekorasi sedemikian rupa untuk menarik minat generasi muda pada jurnalisme dan khususnya foto jurnalistik. “Biar lebih menarik untuk anak muda, sekadar untuk selfie (swafoto, red.) juga ya tidak apa-apa,” katanya sambil seloroh.

“Biro Antara Foto” tertulis di atas gedung yang terletak di area Pasar Baroe, Jakarta.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.