JADIKAN LOKALIVIN SEBAGAI WADAH UKM LOKAL

Lama meninggalkan Indonesia, tak menyurutkan semangat nasionalisme seorang Melia Prawira. Justru di negara oranglah ia bergerilya untuk mengangkat derajat produk lokal.

Rumah - - PROFIL - TEKS SELVIA MARTIANI selvia@gramedia-majalah.com FOTO YANNIS RUDOLF PRATASIK

Suara derap langkah kaki samarsamar terdengar di seberang ruangan tempat kami menunggu, show room Lokalivin. Seorang wanita berambut pixie— potongan rambut super pendek—dengan setelan kemeja lengan panjang dan celana bremotif garis vertikal datang menghampiri. Senyum lebarnya sudah terlihat jelas dari kejauhan. Sambil berjabat tangan, ia memperkenalkan diri. “Melia. Seperti biasa Jakarta macet banget ya,” ujarnya dengan gaya kasual yang asyik. Dari gaya berpakaiannya, kami dapat memastikan bahwa ia memiliki selera berbusana yang baik. Lengan kemeja jeans yang panjang ia gulung hingga mencapai siku, sementara di bagian pundaknya terdapat semburat motif kain tenun yang menambat mata. Celana bahan bermotif garis beradu apik dengan sepatu sport kuning yang ia kenakan. Melia Prawira, sosok penggagas dan pendiri Lokalivin, memang menyukai hal-hal berbau fesyen. Terlebih, bila unsur fesyen tersebut dibubuhi sentuhan lokal yang kental. Ya, Melia memang tumbuh dengan rasa nasionalis yang tinggi. Padahal, hampir 11 tahun ia meninggalkan Ibu Kota untuk belajar. Alih-alih lupa akan identitas bangsa, Melia justru dengan bangga memperkenalkan produk lokal di negara orang. Sepulangnya ke Indonesia, Melia memutuskan untuk bergelut di bisnis fesyen. Selama hampir 2 jam penuh, RUMAH berbincang seru dengan wanita berpostur kecil ini, mengenai Lokalivin dan kecintaannya pada sentuhan lokal.

Tdengar- dengar awalnya terjun ke dunia fesyen, kok bisa menjelajah ke pernik interior?

J Saya sudah bergerak belasan tahun bergerak di bidang fesyen. Sementara itu, ketertarikan pada interior sudah sejak dulu. Saya suka mendekorasi kamar dengan pernik. Saya melihat fesyen dan interior memiliki banyak persamaan. Tren di fesyen juga terkait dengan tren di ranah interior. Dari situ saya mulai berpikir kenapa tidak dicoba. Akhirnya, di tahun 2016 saya membuka Lokalivin.

T Anda menyematkan sentuhan lokal dalam setiap produk Lokalivin, apa sih tujuannya?

J Tidak ada, hanya sekadar suka. Saya sangat menyukai sentuhan lokal, seperti batik, tenun, rotan, dan semuanya tentang Indonesia. Selama 11 tahun saya tinggal di luar negeri, saya miris melihat orang luar tidak mengenal Indonesia, dari situ saya mulai mengenakan pakaian yang ada unsur lokalnya. Dengan bangga saya beritahu mereka kalau Indonesia itu unik.

Tapa sih yang membuat Lokalivin berbeda dengan produk interior lainnya?

J Semua produk Lokalivin murni memperlihatkan sentuhan lokal. Saya hanya sebagai kurator (pengurus), UKM (Usaha Kecil Menengah) yang paling banyak berperan di Lokalivin. Ya, saya bekerja sama dengan desainer dan perajin lokal untuk mengangkat derajat produk sendiri. UKM banyak, tetapi tidak banyak dari mereka yang dikenal. Masyarakat kita sudah dipengaruhi oleh merek-merek asing yang kualitasnya belum tentu bagus. Tapi, coba deh lihat produk kita, kualitasnya bisa bersaing dengan produk asing, bahkan lebih baik. Oleh karenanya, saya ingin mengangkat derajat produk UKM.

Tbagaimana seleksi pemilihan UKM tersebut sehingga bisa diajak kerja sama oleh Lokalivin?

J Sudah pasti harus menyematkan unsur lokal. Yang paling penting adalah keunikan produk tersebut. Saya tidak menjual produk yang sudah ramai dijual di pasaran. Saya menjual keunikan. Produk bagus tapi pasaran bisa dibeli di mana saja, tetapi yang unik dan berkualitas tidak banyak ditemukan. Bila perlu saya mengarahkan dan memberikan masukan langsung kepada para UKM tersebut untuk membuat desain yang unik, tetapi tetap disukai pembeli.

Tapakah rencana Lokalivin ke depan?

J Saya ingin sekali mengumpulkan dan mewadahi para UKM dan perajin di seluruh Indonesia. Indonesia ini punya banyak sekali UKM dan perajin yang berkualitas. Bayangkan bila UKM di seluruh nusantara berkumpul, produk lokal akan semakin dikenal dan masyarakat bisa menilai sendiri bahwa produk kita juga bagus dan berkualitas. Itu mimpi saya.

“BAYANGKAN BILA UKM DI SELURUH NUSANTARA BERKUMPUL, PRODUK LOKAL AKAN SEMAKIN DIKENAL DAN MASYARAKAT BISA MENILAI SENDIRI BAHWA PRODUK KITA JUGA BAGUS DAN BERKUALITAS”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.