MENGEMAS MEMORI LEWAT DESAIN TERKINI

Lewat paduan sentuhan gaya industrial dan vintage, restoran ini hadir di tengah hiruk-pikuk sebuah mal.

Rumah - - INTERIOR - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@gramedia-majalah.com FOTO JOU ENDHY PESUARISSA

Berawal dari menjual makanan dengan media food truck, lalu berlanjut ke sebuah restoran di Kota Tua Jakarta. Itulah yang dialami oleh 6 orang pemilik restoran Kincir ini. Kedua hal tersebut menjadi memori yang tak terpisahkan dalam hidup mereka.

Memori tersebut ingin kembali mereka angkat di restoran baru mereka di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Adalah Sandriana Novrianggono dan Aditya Novrianggono dari Sande Lightwood yang mereka pilih untuk mengemas memori dalam sebuah desain.

MURAL PENAMBAT MATA

Sandri dan Aditya mengambil memori tersebut lewat sentuhan desain elektektik, dengan sentuhan desain industrial dan desain vintage. Sentuhan industrial dapat dilihat dari penggunaan material-material ekspos dan material besi, sementara desain vintage dapat terlihat dari penggunaan benda-benda “jadoel” seperti kaki meja mesin jahit dan marquee sign bertuliskan “kitchen” di dekat area bar.

Memori dari keenam pemilik dituangkan lewat sebuah mural besar di dinding. Lukisan yang dilukis sendiri oleh kedua

arsitek ini bercerita tentang kota tua Jakarta, yang memang menjadi bagian dari perjalanan sang pemilik. Yang unik, di tengah mural terdapat sebuah kincir angin sungguhan yang terus menerus berputar. Kincir ini, selain melambangkan nama restoran, juga melambangkan prinsip yang dianut para pemilik: energi yang terus menerus berputar.

Mural ini bukan hanya bisa menceritakan memori sang pemilik, namun ternyata berkat ukurannya yang besar dan letaknya yang strategis, mural ini bisa juga “menangkap” mata orang yang lalu-lalang di depan restoran ini.

HALAMAN BELAKANG

Jika melihat ruang dalam restoran ini, tampak beberapa buah pohon imitasi, lampu jalanan, dan juga deretan lampu bohlam di langit-langit. Rupanya, ini adalah bagian dari konsep untuk menghadirkan kesan ruang luar di restoran ini. Para pemilik memang menginginkan restoran yang meniru ruang belakang rumah.

Sandri dan Aditya mencoba menghadirkan “halaman belakang” ini dengan membuat “panggung” lantai kayu di ujung ruangan. Di sebelahnya ada bata ekspos dan pintu merah besar yang seolah-olah menegaskan ini adalah teras sebuah rumah. Pintu dibuat dengan gaya Eropa—yang sepintas mirip dengan pada pintu di Toko Merah—untuk mengembalikan memori pada kota tua.

Agar kesan halaman belakang lebih terasa, Sandri dan Aditya melengkapi restoran dengan lampu jalanan, pohonpohon, dan rumput sintetis. Menarik!

Penggunaan meja dari mesin jahit bekas adalah salah satu bentuk sentuhan vintage di restoran ini.

Mural yang menggambarkan perjalanan para pemilik restoran Kincir.

Detail tak dilupakan begitu saja. Contohnya di meja bar ini, bagian bawahnya diberi detail dari potonganpotongan kayu.

Meja kayu, bean bag, dan lantai kayu seakan menegaskan konsep teras belakang di restoran ini.

restoran terbagi 3 area, yakni area untuk souvenir, area dining, dan bar.

Marquee bertuliskan “kitchen” menjadi aksen menarik di area ini.

Di sisi kiri restoran juga terdapat area untuk menjual souvenir.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.