FURNITUR PESANAN PAS UNTUK RUANG TERBATAS

Merancang furnitur yang sesuai dengan kebutuhan. Itulah yang dilakukan sang pemilik rumah untuk mengakali rumah mungilnya.

Rumah - - LAPORAN UTAMA - TEKS RAHMA YULIANTI rahma@gramedia-majalah.com FOTO TRI RIZEKI DARUSMAN , YANNIS RUDOLF PRATASIK

Beragam cara dapat dilakukan untuk membuat rumah mungil tetap nyaman dihuni. Salah satunya adalah dengan menggunakan furnitur pesanan ( custom). Inilah yang dilakukan Asty dan Yogi di rumah mungil mereka yang terletak di kawasan Lembang, Bandung, ini.

Ukuran rumah yang tak besar— hanya 138m2—membuat Asty tak ingin menggunakan furnitur jadi yang ada di toko furnitur. Ia lebih memilih untuk merancang sendiri dan kemudian memesan furnitur kepada toko langganannya.

Selain agar muat dan cocok dengan ukuran rumahnya, alasan utama Asty menggunakan furnitur custom adalah agar barang yang ia punya tak pasaran, baik motif maupun bentuknya. “Misalnya kursi (yang ada di ruang tamu, red.), saya buat yang sesuai dengan ukuran rumah ini. Lalu pelapisnya beli sendiri di Cipadu (Jakarta Barat, red.), biar motifnya beda dengan banyak orang,” tuturnya dengan logat Sunda yang khas.

DISESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN

Keunggulan furnitur custom adalah bisa dibuat menyesuaikan kebutuhan. Berbeda dengan furnitur jadi, di mana pembeli harus pasrah dengan yang sudah ada dan kadang tak pas betul dengan kebutuhan pemilik rumah.

Kerena sifatnya pesanan, bentuk furnitur yang dipesan Asty, juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masa depannya. Misalnya, di ruang tidur tamu, Asty membuat tempat tidur yang tak biasa; ukurannya cukup tinggi dan bagian atasnya terdiri dari 3 buah kasur busa yang bisa disatukan. Ternyata, tempat tidur ini adalah bagian dari rencana Asty di masa depan. Sekarang ini, tempat tidur berguna sebagai tempat isitrahat bagi tamu yang menginap, namun nantinya, tempat tidur ini akan digunakan Asty sebagai tempat bermain si kecil.

DOMINASI JATI BELANDA

Asty dan suami memilih untuk menggunakan jati belanda untuk seluruh furnitur di rumahnya. Pertimbangannya, harganya yang murah dan kesan rastik yang ditimbulkannya. Asty memang menginginkan rumah yang kesannya rastik namun warnanya yang terang. Warna terang ini dibutuhkan agar rumah mungilnya tak tampak sumpek.

Jati Belanda ini ia padukan dengan material lain, misalnya material keramik vintage pada dapur, bata ekspos pada dinding dekat tangga, serta beberapa material lain. Yang menarik, semua material ini hasil buruan Asty di beberapa tempat.

Sebagai pemilik rumah, Asty dan sang suami memang tak segan-segan mencari sendiri benda-benda yang mereka butuhkan, termasuk mencari desain furnitur yang sesuai keinginan. Beberapa aksesori malah ia buat sendiri, seperti halnya tipografi “toilet”di depan pintu toilet.

Semua hal ini dilakukan Asty agar rumah mungilnya jadi rumah yang personal bagi dirinya, dan terutama agar sesuai dengan kebutuhan keluarga dan ukuran rumahnya yang mungil.

Furnitur ruang tidur seluruhnya dibuat dari jati belanda, dibuat Asty di Pratawood, Bandung. Tempat tidur: Pratawood

Skylight yang ada di atas ruang duduk adalah salah satu cara membuat rumah yang mungil tetap mendapat cahaya.

Kursi di ruang tamu ini didesain sendiri oleh Asty. Bahannya ia beli di Cipadu, Jakarta Barat, dan kemudian ia berikan ke tukang kayu langganannya.

Lampu: Informa Kitchen set: Balkaliving Kursi: Informa

Tempat tidur yang nantinya akan digunakan sebagai tempat bermain anak. Bagian bawahnya bisa dibuka untuk menyimpan bendabenda. Tempat tidur: Pratawood Karpet: gsc.rug handtuft

Tipografi toilet dibuat sendiri dengan menggunakan cat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.