PILIH RUMAH TAPAK atau APARTEMEN BERSUBSIDI?

Ternyata, masih banyak orang yang bingung saat berencana membeli hunian murah: rumah tapak yang lokasinya jauh dari pusat kota atau apartemen bersubsidi yang jaraknya di tengah kota? Agar tak bingung, baca ulasan berikut ini.

Rumah - - PROPERTI - TEKS NATHANIA HAPSARI

Seperti sudah menjadi budaya bahwa mencari hunian dengan harga terjangkau semakin hari semakin sulit. Tak dapat ditampik, ini menjadi salah satu permasalahan utama di kota besar, termasuk Jakarta. Mereka yang saban hari bekerja di ibukota, bisa jadi justru tinggal jauh di kota-kota penyangganya seperti Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi. Padahal, berlokasi di kota penyangga pun tak melulu menjamin harga propertinya murah.

Sementara, kehadiran apartemen subsidi pun belum direspon antusias oleh banyak orang karena mereka masih mengharap tinggal di rumah tapak. Selain itu, banyak pengembang yang cenderung membangun apartemen non subsidi dibanding subsidi dikarenakan harga lahan dan biaya pekerja, khususnya di Jakarta, terbilang sangat tinggi. Kasarnya, jual apartemen subsidi untungnya lebih sedikit.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit juga sepakat dengan fakta tersebut. “Minat masyarakat masih ke rumah tapak. Namun melihat jumlah rumah tapak dibandingkan dengan jumlah penduduk yang membutuhkannya, maka jelas terbilang kurang. Sayangnya, hingga kini ketersediaan apartemen bersubsidi masih dianggap sekadar alternatif saja,” ungkap pendiri Panangian School of Property ini.

TAPAK BEBAS, APARTEMEN ADA BIAYA

Di samping itu, Panangian tak dapat menampik fakta bahwa menghuni rumah tapak punya efek yang berbeda bagi pemiliknya dibanding menghuni apartemen bersubsidi. “Menghuni rumah tapak itu terasa lebih bebas dan itu sudah membudaya. Lebih bebas dalam artian si pemilik tidak terikat sistem, tidak perlu membayar biaya perawatan, ataupun fasilitas yang belum tentu ia pakai,” paparnya.

Berbeda dengan apartemen. Walau bersubsidi, semua fasilitas di dalamnya harus dibayar secara berkala, sekalipun si penghuni tidak menggunakannya. Ia mencontohkan fasilitas kolam renang apartemen. Si penghuni harus rutin membayar biaya perawatannya padahal belum tentu sempat menikmati karena sibuk bekerja. Selain itu, ada biaya parkir, listrik, air, bahkan “dipaksa” harus menggunakan TV berbayar.

Mana Yang Lebih Menguntungkan?

Kenyamanan menghuni rumah tapak tentu ada konsekuensinya, sejauh apa lokasi rumah tersebut ke lokasi Anda bekerja? Panangian menuturkan bahwa pertimbangan memilih antara rumah tapak dengan apartemen bersubsidi bukan lagi hanya soal harga dan angka, namun juga akses.

Sebagian besar pencari hunian adalah kalangan muda, baik pasangan baru dan generasi milenial, yang masih berada di usia produktif bekerja. Maka akses menuju daerah perkantoran menjadi faktor yang penting. Mengingat sebagian besar perkantoran terletak di pusat kota, faktor akses dapat berpengaruh ke banyak hal.

“Bila generasi ini ingin pola hidup yang sehat, mereka akan memperhitungkan akses ke kota. Menghabiskan waktu berjamjam dari rumah ke kantor, maupun kantor ke rumah, tentu tidak sehat. Berpengaruh pada kesehatan sendiri, waktu untuk keluarga, maupun pola pikir,” tuturnya.

Berbeda dengan konsep huni apartemen bersubsidi di tengah kota yang dekat daerah perkantoran dan hampir semua kebutuhan gaya hidup tersedia. Bila mempertimbangkan untungrugi dalam bentuk angka, membeli apartemen bersubsidi masih lebih menguntungkan, bahkan bila unit tersebut adalah unit bekas (pemilik lama menjual kembali).

Hampir senada dengan Panangian, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, juga menegaskan pentingnya faktor jarak hunian dengan lokasi bekerja. “Jika bekerja di Jakarta, daripada bolak-balik dengan waktu tempuh yang lama, maka apartemen bersubsidi di tengah kota bisa jadi pilihan. Namun pastikan lokasinya harus terkoneksi dan tidak jauh dari transportasi massal,” papar Ali.

Bila bicara untung-rugi, Ali mengemukakan pendapat pribadinya bahwa kedua bentuk hunian tersebut sebenarnya berbeda dan tidak dapat dibandingkan. “Rumah tapak dan apartemen bersubsidi adalah dua hal yang berbeda. Rumah tapak tidak ada yang murah. Sedangkan kenaikan harga apartemen bersubsidi sudah dipatok pemerintah dan tidak akan naik tinggi. Tapi membeli rumah bekas pun tak terlepas dari biaya pemeliharaannya, tidak jauh berbeda dengan apartemen bersubsidi,” ungkap Ali.

Jadi, sudahkah Anda mulai mempertimbangkan antara membeli rumah tapak dan apartemen bersubsidi?

Foto Dok.sentra timur residence

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.