MENJELAJAH KAKI MERAPI

Mengunjungi wilayah bekas bencana selalu menggugah rasa kemanusiaan yang merangsang iba. Kita pun diingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta dan alam semesta.

Rumah - - JALAN-JALAN - TEKS & FOTO JACLYN*

Jumat dini hari tanggal 5 November 2010, keheningan malam kelurahan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta dipecahkan oleh gemuruh dan gempa hebat yang sontak membangunkan warga yang tengah larut dalam istirahat malam. Sejurus kemudian, jeritan sirine tanda bahaya mulai saling bersahutan, disusul oleh listrik yang mendadak padam.

Warga pun berhamburan keluar rumah, berusaha menyelamatkan diri, sanak keluarga, dan harta berharga. Namun selaju apapun kaki berlari ke tempat evakuasi, tak mampu mengalahkan awan panas yang menyapu dan meluluhlantakkan segala yang dilewatinya. Erupsi Merapi tahun 2010 melahap alam, harta benda, dan ratusan korban jiwa, menyisakan duka mendalam bagi rakyat Indonesia dan dunia.

Selepas 6 tahun, wajah kaki Merapi berangsur pulih. Tanah gersang yang semula diselimuti abu vulkanik telah menghijau kembali dan perekonomian setempat mulai bangkit. Meski tidak lagi tinggal di kaki gunung, warga masih bermata pencaharian di sekitar kaki Merapi. Sebagian menjadi pengeruk abu vulkanik, sebagian menjadi pengemudi jip wisata, ada yang mengurus objek wisata, dan sisanya membuka warung cendera mata dan kudapan khas Merapi.

Jejak erupsi 2010 di kaki Merapi memang telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin merasakan sensasi berwisata unik. Selain menikmati keindahan alam yang telah pulih dari bencana, kita juga berkontribusi dalam peningkatan ekonomi lokal masyarakat setempat.

Museum ullen sentalu

Dalam balutan hawa sejuk kaki pegunungan dan keheningan yang khidmat, Ullen Sentalu membawa pengunjung menyusuri dimensi waktu ke masa lalu dan menikmati jejak warisan budaya melalui beragam koleksi sejarah, dari alat musik tradisional, lukisan, syair dan surat, kain batik, arca, hingga artefak lainnya.

Museum terbaik di Indonesia tahun 2016 versi Tripadvisor ini terletak di daerah Kaliurang, Sleman Yogyakarta. Namanya

merupakan singkatan dari ‘Ulating Blencong Sejatine Tataning

Lumaku’ yang berarti ‘Nyala lampu blencong (wayang kulit) yang menerangi kehidupan,’ sesuai misinya dalam melestarikan dan mewariskan sejarah budaya Mataram Kuno.

Area seluas 1,2ha yang bernama Dalem Kaswargan atau Rumah Surga di mana Ullen Sentalu berdiri, menggunakan konsep arsitektur vernakular yang mengoptimalkan kearifan lokal melalui material, teknologi, dan tenaga ahli setempat. Bangunan pamer bergaya kolonial Jawa, dibuat terintegrasi dan menyatu dengan alam dan koleksi di dalamnya.

Guwo Selo Giri (Gua Batu Gunung), salah satu ruang pamer, berbentuk gua bawah tanah dengan struktur bangunan mirip candi bermaterial batu andesit tanpa polesan. Taman Kaswargan (Heavenly Hills) memiliki struktur punden berundak serupa tangga di Makam Raja Mataram, Imogiri, Yogyakarta. Bangunan dilengkapi gapura, dinding batu, taman, dan kolam yang mencerminkan keagungan bangunan Mataram Kuno.

Area Kampung Kambang yang terletak di atas air (mengambang), dibangun menyerupai sebuah kampung bernama Kampung Kalang pada zaman Mataram Islam di Kotagede, Yogyakarta, dengan jalanan gang sempit dan berkelok menyerupai labirin. Konon di Kampung Kalang terdapat rumah saudagar berisi barang koleksi bak museum, layaknya di museum ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.