INSPIRASI DARI KOMIK & KARTUN JEPANG

Di lahan minim, pemilik rumah ini berhasil mewujudkan tempat tinggal yang nyaman sesuai imajinasi mereka.

Rumah - - RUMAH KITA - TEKS TIYA SEPTIAWATI FOTO YANNIS RUDOLF PRATASIK

Inspirasi membangun rumah bisa datang dari mana saja. Contohnya pasangan Riza Harumukti dan Astri Puji Lestari. Berawal dari kegemarannya membaca komik dan nonton anime Jepang, Atit, panggilan akrab Astri, terinspirasi dengan gaya rumah tinggal khas Jepang yang berkesan clean.

Setelah kunjungannya ke Muji House, Yurakucho, Jepang, 2011 lalu, Atit semakin mantap berniat punya rumah dengan konsep seperti di komik-komik yang ia baca. Menurutnya, konsep tersebut cocok diterapkan di lahan rumah yang saat ini sudah semakin terbatas.

MEMBANGUN DARI NOL

Riza dan Atit, yang mengawali kisah keluarga kecil mereka di sebuah rumah indekos, mulai mencari lahan terbaik yang sesuai bujet. Setelah menghabiskan waktu 5—6 bulan, pilihan mereka pun jatuh pada lahan kosong seluas 65 m2 di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Proses pembangunan rumah mungil mereka, yang juga terinspirasi karya-karya arsitek dan desainer Jepang seperti Kenya Hara, Nobuhiro Suzuki, dan Iizuka Yutaka, dimulai pada Januari 2017 dan memakan waktu 4,5 bulan. Desain bangunan rumah dikerjakan langsung oleh Atit yang memang berprofesi sebagai arsitek.

“Hal yang paling menarik adalah kami benar-benar mengikuti semua prosesnya dari nol dan ini pertama kalinya saya dan Riza mengurus sesuatu yang besar bersama. Menyiasati bujet yang minim, luasan tanah yang kecil, waktu yang terbatas, dan keinginan yang super banyak adalah hal yang sangat menarik untuk didiskusikan dengan Riza,” ujar lulusan ITENAS Bandung ini.

FORM FOLLOW FUNCTION

Rumah-rumah di Jepang memang identik dengan segala sesuatu yang simpel dan multifungsi. Inilah yang kemudian diterjemahkan Atit ke dalam desain huniannya dengan menerapkan konsep “form follow function”. “Teori ini yang menginspirasi saya untuk mendesain, ketika semuanya berangkat dari kemampuan dan kebutuhan,” jelasnya.

Atit mengatakan, “Sebagai contoh, saya banyak menghabiskan waktu di dapur sementara Riza banyak menghabiskan waktu di meja kerja atau di depan TV. Karena itu saya membuat desain open space antara dapur, ruang kerja, dan ruang TV. Selain karena menyiasati luas yang minim, kami juga jadi bisa berbagi pemakaian lampu, AC, TV, speaker, dan lain-lain, sehingga konsumsi listrik pun jadi lebih hemat.”

Karena luas rumah yang terbatas, penyimpanan barang adalah sebuah hal yang Atit pikirkan betul. Untuk menyimpan berbagai barang, Atit banyak menggunakan boks-boks yang diletakkan pada rak terbuka ( open storage).

MEMBUAT TAMAN VERTIKAL

Atit dan Riza baru tinggal di rumah ini selama 4 bulan, namun keduanya sudah memiliki cita-cita yang panjang, yaitu memperlakukan rumah ini menjadi bangunan yang sustainable atau berkelanjutan. “Ini belum selesai, nantinya di teras samping itu akan saya tanami tanaman secara vertikal, yaitu tanaman yang bisa dipanen untuk dikonsumsi penghuni rumah ini,” tutup Atit.

Antara ruang TV, ruang makan, dan dapur menyatu tanpa adanya sekat.

Pemilik rumah ini sengaja tidak memberi sekat antara dapur dan ruang makan agar ruang tak terasa sempit.

Semua ruang didominasi warna putih agar berkesan clean.

Karena ukuran ruang terbatas, Riza dan Atit tidak menggunakan lemari besar yang memakan tempat. Sebagai solusi, pakaian hanya digantung pada ceruk dinding.

Dari lantai dua rumah, penghuni bisa melihat ke arah ruang TV.

Bagian pojok ruang antara kamar mandi dan dapur dimanfaatkan untuk meletakkan berbagai barang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.