MENYEWAKAN RUMAH SEWA KEPADA PIHAK KETIGA

Rumah - - PROPERTI -

Saya seorang wiraswasta yang bekerja pada sebuah bank swasta di Jakarta. Pada akhir tahun lalu, saya bersama istri dan anakanak mengontrak sebuah rumah untuk jangka waktu 2 tahun. Beberapa bulan terakhir, saya menyewakan satu kamar dengan jangka waktu sewa 6 bulan. Setelah berjalan beberapa minggu, pemilik rumah mengetahui hal tersebut dan mewajibkan saya membayar denda dengan alasan tidak boleh menyewakan kepada orang lain.

Bagaimana pengaturan mengenai hal tersebut menurut hukum? Apakah saya wajib membayar denda terhadap pemilik rumah tersebut?

AApakah Bapak membuat perjanjian sewamenyewa dengan pemilik rumah? Bila ya, Bapak perlu mempelajari perjanjian sewa-menyewa tersebut, apakah terdapat ketentuan mengenai menyewakan kembali bangunan, baik seluruhnya atau sebagian, kepada pihak ketiga.

Sewa-menyewa berdasarkan Pasal 1548 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (” diatur sebagai berikut.

”Sewa menyewa adalah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan diri untuk memberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak lain selama waktu tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut terakhir itu. Orang dapat menyewakan pelbagai jenis barang, baik yang tetap maupun yang bergerak”

Pada dasarnya KUHPER tidak melarang penyewa untuk menyewakan sebagaian obyek sewa kepada pihak ketiga, sepanjang tidak diatur dalam perjanjian sewa yang dapat mengatur sebaliknya. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 1559 KUHPER sebagai berikut.

”Penyewa, jika tidak diizinkan, tidak boleh menyalahgunakan barang yang disewanya atau melepaskan sewanya kepada orang lain, atas ancaman pembatalan persetujuan sewa dan penggantian biaya, kerugian dan bunga sedangkan pihak yang menyewakan, setelah pembatalan itu, tidak wajib menaati persetujuan ulang sewa itu. Jika yang disewa itu berupa sebuah rumah yang didiami sendiri oleh penyewa, maka dapatlah ia atas tanggung jawab sendiri menyewakan sebagian kepada orang lain jika hak itu tidak dilarang dalam persetujuan.”

Jika tidak terdapat perjanjian sewa-menyewa, tindakan menyewakan kembali sebagian dari rumah tersebut sah menurut hukum. Namun demikian, dalam hal terjadi kerusakan terhadap kamar yang disewakan tersebut, Bapak tetap bertanggung jawab kepada pemberi sewa.

Sedangkan dalam hal terdapat perjanjian sewa-menyewa yang mengatur sebaliknya, maka dalam hal pemilik rumah tidak memberikan izin kepada Bapak untuk menyewakan kembali rumah tersebut kepada pihak ketiga, maka konsekuensi dari tindakan Bapak tersebut tergantung dari pengaturan dalam perjanjian, termasuk saja misalnya diatur tentang pembayaran denda kepada Bapak.

Demikian kami sampaikan, semoga penjelasan tersebut dapat bermanfaat bagi Bapak.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.