Memasak dan Bersantap Tanpa Sekat

Rumah - - SERAMBI - Mahandis Yoanata Thamrin Editor-in-chief mahandis.yoanata@gramedia-majalah.com

Kita memang hidup di lanskap yang sedang berubah. Kediaman kakek dan nenek saya, yang bergaya rumah limasan Jawa, memiliki ruang makan yang terpisah dari dapur. Mereka merupakan keluarga besar, sehingga membutuhkan ruang bersantap yang mencukupi untuk tujuh anak mereka—salah satunya adalah Ibu saya. Pada suatu masa, Ibu bercerita kepada saya tentang masa kecilnya, “Di ruang makan itu kami menyantap sebesek nasi berkat dan lauk pauknya yang dibagi adil.”

Kehidupan mereka sungguh berbeda dengan para cucu dan cicitnya. Kami—saya dan sepupu-sepupu—memiliki rumah yang lebih mungil di pinggiran Jakarta. Keluarga kami juga lebih ringkas: Pasangan suami-istri muda dengan satu atau dua anak.

Siasat jitu perlu disiapkan untuk menghadapi keterbatasan lahan. Bagaimana generasi kami menyajikan suasana dapur yang berfungsi juga sebagai ruang makan? Bagaimana sang arsitek mengolah inspirasi sebuah rumah yang sebagian ruangannya didesain tanpa sekat? Kehidupan digital di era milenium ketiga telah meluluhkan sekat sosial dan budaya.

Kawan-kawan Rumah mencoba untuk menyajikan empat desain yang menyatukan dapur dan ruang makan. Semuanya dikemas cantik dan hangat. Bayangkanlah sejenak, kita memasak dan bersantap dengan pemandangan taman. Atau, tempat penyimpananan yang ringkas, juga untuk menyesap kopi saat memulai hari.

Konon kabarnya, cinta dalam sebuah rumah bersemi dari dapur dan sajian di meja makannya. Mengapa kita tidak mencoba memuliakan dapur dan ruang makan dalam satu arena nan harmonis?

“Architecture starts when you carefully put two bricks together. There it begins.” Ludwig Mies van der Rohe (arsitek dari Jerman)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.