SUKSES JUAL KUPAT TAHU KHAS BANDUNG DI CIKARANG ma t... la A

Menjadi pelopor merupakan salah satu kunci sukses dalam usaha. Hal ini diyakini Ato Sunarto, ketika merintis usaha kupat tahu 11 tahun lalu. Berbekal kenekatannya, ia sukses berjualan Kupat Tahu Bandung di kota Cikarang. Di kota ini, nama Kupat Tahu Bandu

Saji - - Artikel - TEKS MIFTAKH • FOTO DOK. PRIBADI • VISUAL BENYAMIN W.

Beberapa usaha makanan yang sukses awalnya justru lahir dari sajian khas keluarga. Begitu juga dengan usaha milik Ato, pemilik Kupat Tahu Bandung Bang Oman. Meski namanya kupat tahu bandung, namun ia sukses menjualnya di kawasan Cikarang, Jawa Barat.

Ato mengawali usahanya dari sebuah ketidaksengajaan ketika mengadakan acara selamatan saat ia pindah dari Ciamis ke Cikarang pada tahun 2003. Dalam acara tersebut, salah satu sajiannya adalah kupat tahu bandung buatan sang paman, Mang Oman. Ternyata kelezatan kupat tahunya banyak diacungi jempol. Akhirnya setelah mencicipi, banyak tamu lantas menyarankan untuk menjualnya. “Saya pikir, ‘kenapa tidak?’,” kenang Ato.

Pakai Modal Seadanya

Meski hanya berencana menjual kupat tahu, namun Ato mempersiapkan kelengkapan usahanya dengan sebaik mungkin. Meski tak jago masak, Ato tak habis akal. Ia lantas berguru pada sang paman untuk membuat kupat tahu yang enak. Berbekal resep dan ujicoba berkali-kali, Ato memberanikan diri untuk memulai usaha kupat tahu di kota tempat tinggalnya, Cikarang.

Keinginan Ato tak neko-neko. Ia hanya ingin mempunyai usaha untuk menambah penghasilan. Modal usahanya juga berasal dari barang-barang yang ada di rumah, termasuk lokasi jualannya. “Rumah saya pakai saja buat lokasi jualan,” kenangnya.

Bermodalkan uang Rp 200 ribu, meja, dan peralatan seadanya yang ada di rumah, Ato mulai membuka lapak kupat tahu di teras beratapkan terpal. “Saya berusaha memanfaatkan saja apa yang sudah ada di rumah,” ujarnya.

Menu yang ditawarkan Ato adalah kupat tahu yang dipelajari resepnya dari sang paman, Mang Oman. Nama ini pula yang akhirnya dikenal sebagai merek dagangnya. Sajian kupat tahunya terdiri dari irisan ketupat, tahu kuning yang digoreng, dan taoge rebus. Kemudian kuah kacang yang kental disiramkan dalam porsi melimpah. Sebagai pamungkasnya, menu ini ditaburi bawang goreng, kerupuk, dan kecap manis. Seporsi kupat tahu saat pertama kali berjualan adalah Rp 5 ribu.

Harga jual ini bukan dipatok Ato secara asal-asalan. Harga ini sengaja dipasang oleh Ato agar sama dengan makanan yang dijajakan penjual lain, seperti bubur ayam atau nasi uduk di daerah tersebut. Hasilnya, harga jugalah yang membuat kupat tahunya diminati orang karena dengan harga terjangkau orang jadi berani mencoba.

Meski hanya memanfaatkan bagian depan rumah, Ato sudah mengonsepkan usaha yang begitu jeli dan terukur. Misalnya dengan mengincar waktu sarapan untuk menjajakan kupat tahunya. Makanya ia membuka warung kecil di depan rumahnya mulai pukul 06.00 – 09.00. Agar calon pembeli tahu ia berjualan makanan sejak pagi buta, lampu-lampu di warung sudah ia nyalakan sejak pukul 05.00. “Itu untuk woro-woro pada orang yang melintas kalau warung saya ini sudah buka sejak pagi sekali dan siap melayani pembeli yang mencari sarapan,” ujarnya cerdik.

Kembangkan Usaha dengan Kreativitas

Untuk membuat usahanya berkembang, Ato lalu memikirkan langkah selanjutnya agar porsi yang dijual bisa lebih banyak setiap hari. Jam buka yang pendek tentu saja membuat sisa waktu kosong lebih panjang dan tidak produktif.

Ia lalu memutuskan untuk membuka usahanya dengan jam operasional yang lebih panjang.

Di tahun 2007, Ato memberanikan diri membuka warungnya mulai pukul 06.00 hingga 21.00. “Jadi waktunya lebih panjang, dan tentu saja transaksi lebih banyak,” ujar Ato. Konsekuensinya, ia harus menaikkan harga jual untuk menutupi biaya operasional. Kali pertama menaikkan harga, ia membanderol kupat tahu Rp 7 ribu per porsi.

Agar konsumen merasa tidak dirugikan karena harganya jadi lebih mahal, Ato memberikan pelayanan yang lebih baik untuk seluruh konsumennya. Misalnya pada kualitas hidangan ia menggunakan tahu premium bermerek Yunyi yang sudah terkenal kelezatannya di Bandung.

Lalu soal pelayanan dan tempat makan, Ato merelakan ruang tamu rumahnya sebagai ruang makan yang lebih nyaman. Foto-foto menu mulai dipampang di dinding, lalu jumlah meja makan ditambah, hingga pelayanan pun ditingkatkan. “Dengan cara ini, saya berhasil meningkatkan omset,” tambahnya.

Pembelinya tak lagi hanya karyawan kantoran yang berburu sarapan di pagi hari saja, melainkan hingga ibu rumah tangga, anak sekolah, dan pesanan untuk berbagai acara.

Tambah Varian Menu

Jam operasional yang panjang ini juga membuat Ato harus berpikir keras agar warungnya tetap ramai. Tak mungkin sepanjang hari ia hanya menyediakan menu berupa kupat tahu saja. “Pasti konsumen lama-lama akan jenuh,” ujarnya.

Dengan cerdik, ia pun terpikir memberi tambahan menu sebagai pilihan agar konsumen tak jenuh. Pilihannya jatuh pada deretan menu jajanan yang banyak digemari orang. Mulai dari siomay, mi ayam, batagor, es cendol, hingga ayam goreng serundeng. Tak semua menu ia produksi sendiri. Ada cara praktis untuk menyediakan menu lain tanpa harus membuatnya. Misalnya untuk es cendol, ia menggaet rekannya sesama penggiat UKM (Usaha Kecil Menengah) yang memproduksi es cendol. “Jadi saya cari menu khas yang cocok dengan hidangan sunda. Salah satunya es cendol ini karena wilayah Cikarang cukup panas,” imbuhnya.

Sedangkan ayam gorengnya lebih unik lagi. Ato “mengimpor” ayam serundeng ini dari kampungnya di Ciamis dengan bekerja sama dengan pelaku UKM di kota tersebut. Seporsi menu yang dibanderol Rp 17 ribu ini sudah dilengkapi nasi, sepotong ayam goreng, lalapan, sambal, dan taburan serundeng kelapa yang gurih.

Usaha yang berkembang pun tentu membutuhkan tambahan karyawan. Untuk masalah ini, Ato mempelajari betul kelemahan usaha kecil yang sering jatuh bangun karena masalah karyawan sering keluar-masuk seenaknya. “Karyawan itu harus nyaman bekerja, tercukupi kebutuhannya. Maka dia akan loyal bekerja pada kita,” tegasnya.

Untuk itulah Ato berani memberikan standar gaji yang lebih tinggi daripada karyawan lainnya pada usaha sejenis di sekitar rumahnya. Begitu juga soal fasilitas makan dan tempat tinggal yang ia sediakan. Tak heran jika 4 karyawannya bertahan sejak mulai ia pekerjakan 7 tahun lalu.

Memperluas Pergaulan

Untuk mempromosikan usahanya agar mendatangkan pembeli, Ato tak mau mengandalkan orang yang hanya melintas di depan kedainya saja. Ato secara aktif ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan dan tak ragu bergabung dalam beragam komunitas. Misalnya ikut bersepeda bersama, aktif dalam kegiatan rutin komplek perumahan, hingga bergabung dalam komunitas usaha seperti Tangan Di Atas (TDA). Melalui pergaulan, ia aktif mempromosikan kedainya dengan cara memberi icip-icip hingga memakai kaos khusus yang dicetak dengan logo usahanya. “Jadi ke berbagai acara saya selalu pakai kaos ini,” paparnya.

Promosi kreatif pun tak luput dibidiknya. Misalnya khusus hari Ibu, ia menggratiskan para ibu untuk bersantap kupat tahu di kedainya. “Tapi anak, suami, dan mahasiswi, tentu tetap harus membayar. Cara ini tak akan membuat usaha rugi. Karena yang gratis hanya kupat tahunya, sedangkan minumnya tetap harus beli.

Kembangkan Usaha Lain

Usaha kupat tahunya kini menjadi sebuah rumah makan yang terkenal di Cikarang. Ato dan keluarganya lalu mencari tempat tinggal lain agar tempat tersebut bisa sepenuhnya dipakai untuk usaha. Keuntungan yang dikumpulkannya dari usaha kupat tahu, lalu dipakai Ato untuk membidik usaha lainnya. Antara lain warteg yang didirikannya tak jauh dari lokasi pabrik yang tersebar di kawasan Cikarang.

Kawasan Cikarang tentu dipenuhi kaum pekerja yang membutuhkan makan murah meriah. Itulah mengapa Ato memilih warteg sebagai pilihan bisnis barunya. Selain berinvestasi di bidang kuliner, Ato kini melebarkan sayap bisnisnya hingga ke bidang pendidikan yakni lembaga kursus bahasa Inggris, dan dunia penjualan properti bersama sejumlah teman-temannya.

Siapa sangka dari sepiring kupat tahu, Ato berhasil membuktikan bahwa menjadi pengusaha seperti cita-citanya dapat diwujudkan asalkan berani, jeli, dan kreatif. Bravo!

KUPAT TAHU BANDUNG

MANG OMAN Jl. Rusa Raya No. 47, Cikarang Baru, Bekasi

Telp (021) 89832309

www.kupattahubandung.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.