SUKSES JADI PENGUSAHA CIRENG KEMASAN VAKUM

CIRENG KAMSIA, BANDUNG

Saji - - Artikel - TEKS & FOTO MIFTAKH FARIED • VISUAL TRIANA TANGJONG

Cireng Kamsia adalah merek cireng yang begitu populer saat ini. Meski “hanya” jualan cireng, Fadly sang pemiliknya berhasil menggapai kesuksesan di usia yang terbilang muda. Lelaki dua puluh enam tahun ini berhasil membuat sebuah rumah produksi cireng yang modern dan higienis di Bandung.

Kemasan dan sajiannya serbamodern

Cirengnya dikemas dalam kemasan vakum berstandar tinggi. Karena tak mau tanggung-tanggung, Fadly menggunakan mesin vakum khusus yang standar vakumnya dapat diatur sesuai sifat produk makannnya. Tujuannya agar kualitas kedapnya maksimal menjaga makanan di dalamnya awet alami. Dengan kekedapan maksimal, ia bisa menjual cireng gaya baru, dalam keadaan mentah.

Satu pak cireng beku itu berisi 5 buah cireng yang bisa bertahan hingga 4 bulan dalam freezer. Satu buah cireng rata-rata berbobot 60 gram sehingga cukup mengenyangkan. Di luar kemasan, data lengkap berisi identitas produknya turut disertakan. Mulai dari keterangan jenis cireng, cara penyajian, bahkan informasi gizi. Luar biasa bukan? Harganya bervariasi mulai dari Rp 12 ribu sampai Rp 24 ribu.

Jika dilihat secara keseluruhan mulai dari kemasan dan kelengkapan informasi pada produknya mengingatkan kita pada nugget. “Padahal isinya cireng,” ujar Fadly sambil terkekeh.

Pelopori cireng bersaus hingga dalam kuah

Dengan konsep produk yang dirancang Fadly, cireng ini menjadi kudapan praktis yang bisa disetok. Bahkan layak dibawa ke mana-mana sebagai bekal maupun oleh-oleh. Keistimewaan lainnya, Cireng Kamsia memiliki aneka isian. Ragam isinya mencapai 6 varian. Ada sosis, ayam, maupun bakso. Ketiganya punya citarasa pedas dan diolah dulu sebelum diselipkan sebagai isian. Misalnya, sosis dan bakso diiris tipis-tipis lalu dibumbui cabai dan rempah-rempah.

Untuk isi ayam, Fadly memilih menggunakan ayam cincang yang juga diolah dengan tingkat kepedasan tertentu karena ketiga pilihan isi ini memang dirancang bagi penyuka pedas. Namanya pun unik yaitu sosis rudal, bakso granat, dan ayam seuhah.

Ada juga cireng yang bebas cabai, Fadly mengonsepkan ayam cincang yang diolah dengan bumbu gurih-manis, juga cireng berisi keju. Uniknya, semua cireng dilengkapi saus mayo pedas sebagai cocolannya.

Kreativitas memang kawan baik sebuah kesuksesan. Tak hanya cireng bersaus mayo yang diciptakannya kala itu, Fadly juga membuat terobosan baru yang tak kalah laris di pasaran. Yaitu cireng berkuah yang nikmat disantap seperti saat kita makan semangkuk bakso. Nama cireng ini adalah cireng ngambang. Isinya, cireng dipadu isi ayam dan keju yang renyah, dan disajikan bersama siraman kuah kaldu yang nikmat.

Terinspirasi chicken cordon bleu

Kesuksesan usaha cireng ini tak semata-mata terletak pada varian isi dan kemasannya yang begitu praktis dan modern. Saat pertama kali berani memasarkan produknya, Fadly memang berpikir keras untuk mencari rasa cireng yang tak hanya enak, namun komposisinya pun tepat. Tidak mau gegabah melangkah, cireng buatannya diciptakan melalui analisis sederhana yang dibuatnya sendiri sebelum menerjuni usaha ini.

Caranya, ia melihat kekurangan cireng yang ada di pasaran sebelum melakukan uji coba di dapurnya sendiri. Misalnya, produk cireng di pasaran, setelah digoreng dan didiamkan sebentar, teksturnya alot hingga keras saat digigit. Lalu kerenyahannya juga hilang seiring penurunan suhu cireng jika dibiarkan di wadah terbuka dalam waktu tertentu. Berbagai riset inilah yang melengkapi analisa, sekaligus modal awal usahanya, yaitu resep yang diturunkan sang ibu.

Melalui analisisnya, Fadly jadi mengerucutkan konsep produknya agar bisa bersaing di pasaran. Ia ingin menciptakan tekstur cireng yang renyah, namun empuk bagian dalamnya. Ternyata rahasianya terletak pada acinya. Cireng tradisional, sejak dulu memang tidak memakai campuran tepung lain. Harus aci murni agar teksturnya tetap kenyal dan lembut. Ia pun mulai membuat komposisinya agar pas betul.

Beres adonan cirengnya, ternyata tak cukup membuat cireng bisa renyah maksimal jika hanya mengandalkan adonan aci yang digoreng begitu saja. “Mencari cara agar renyah bukan hal mudah,” ujar Fadly.

Hingga pada suatu hari ia melihat sajian chicken cordon bleu yang bagian luarnya renyah, namun bagian dalamnya tetap empuk. Lantas Fadly menguji coba menerapkan konsep chicken cordon bleu pada adonan cirengnya. Setelah diisi dan dibentuk, cireng digulingkan ke dalam timbunan tepung panir, baru dibekukan. Cara ini pula yang menjadi keunggulan produknya tak hanya pada teksturnya yang renyah maksimal, namun juga menjaga penyerapan minyak tak masuk ke dalam adonan hingga teksturnya bebas lumuran minyak.

Kalau soal varian isinya, Fadly menciptakan sesuai namanya, yaitu Kamsia yang berarti “cireng kampung isi kota”. Agar bisa naik kelas, paduan pilihan isi keju, ayam, sosis, baso, hingga cocolan saos mayo berhasil dikonsepkannya sesuai misi dan tujuan usahanya tadi, yaitu menaikkan derajat cireng.

Jatuh merugi tak padamkan tekad

Percaya diri dengan produknya, Fadly lantas menyewa lahan di depan Indomart untuk membuka usahanya dengan menggunakan gerobak. Tak lama setelahnya, ia beralih tempat untuk berjualan setiap minggu di acara Car Free Day (CFD) di kawasan Dago, Bandung. Bisnis cirengnya berlangsung menggembirakan pada awalnya. Dalam 3 jam cirengnya ludes terjual setiap kali jualan di kawasan CFD.

Saking larisnya, ia tak berpikir panjang untuk mencari lokasi jualan lain. Ia juga mengabaikan manajemen keuangan dan pengaturan karyawan tak jadi perhatiannya. Hingga suatu hari pemerintah kota Bandung melarang penjualan di sepanjang acara CFD. Fadly yang tak siap dengan kondisi ini lantas jatuh bangkrut karena penyokong utama pendapatannya ditutup.

Banyak kebocoran yang terjadi, misalnya ketidakseimbangan penjualan dari uang yang masuk, hingga pegawai yang tak diarahkan dan diawasi. Fadly pun terpaksa pinjam sana-sini, termasuk pada orang tuanya untuk menutup biaya gaji dan produksi. Sebagian besar karyawannya pun menyatakan keluar. “Wah, saya malu dan hancur pada saat itu,” tuturnya.

Keuntungan yang besar sempat membuat Fadly terlena dan tidak siap ketika ada hal yang tak terduga.

Bangkit dan bikin konsep baru

Di tengah kebuntuannya tanpa karyawan dan modal produksi, Fadly bertekad meneruskan usaha yang sudah susah-susah dirintisnya. Menurutnya bukan pengusaha namanya kalau hancur namun tak mampu bangkit. Ia lalu mengingat kembali konsep awal usahanya, yaitu keinginan cireng ini naik kelas, dan menjangkau pasar yang luas. Kalau soal rasa, produk ini sudah terbukti enak dan disukai,” tegasnya yakin.

Fadly pun kembali pada semangat positif. Ia pun meminta masukan kepada teman-temannya yang sama-sama memiliki usaha. “Ada masukan dari teman yang menyebutkan jika produk saya ini lebih cocok dijual dengan sistem agen, bukan dijual menggunakan gerai,” tuturnya.

Kelebihan jualan melalui agen juga memudahkan Fadly dalam mencari lokasi jualan. Tanpa gerobak apalagi mencari lokasi jualan, usahanya bisa terus jalan.

Ia lantas mengonsepkan kemasan cireng dalam kemasan kedap udara (vakum) dan dijual mentah dan beku. Selain menyebarkan melalui keluarga dan teman, Fadly juga aktif berpromosi melalui facebook dan juga membuat website. Menurutnya, sangat penting saat ini untuk berpromosi secara online.

Cara ini terbukti ampuh. Dalam waktu setahun, kini Fadly sudah mampu memproduksi hingga 1.000 pak per hari. Luar biasa, bukan? Agen penjualannya pun sudah mencapai 90 orang dan tersebar di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Di bawah agen, masih terdapat ratusan reseller lagi yang sudah diserahkan pengelolaannya kepada agen. “Jadi saya berhubungan dengan tingkat agen saja agar lebih mudah mengontrolnya,” imbuh lelaki cerdik ini.

Untuk menjadi agen pun tak sulit. Setidaknya, Anda harus membeli 60 pak untuk dijual sendiri, atau disebarkan pada reseller. Setelah itu, jumlah pembelian tidak dibatasi lagi, boleh dibawah 60 pak, atau lebih.

Kesuksesan Cireng Kamsia tentu berefek juga pada proses produksi yang meningkat. Jika awalnya Fadly membuat cireng di rumah orang tuanya, kini ia berani menanamkan investasi dengan menyewa sebuah rumah sebagai kantor sekaligus rumah produksi. Untuk mengaduk adonan cireng, Fadly juga memesan mesin khusus yang dapat memproduksi hingga 1.000 pak per hari. Jumlah karyawannya yang tinggal 2 orang, kini berkembang menjadi 18 orang.

Fadly kini telah membuktikan, meskipun cireng banyak dijual, namun bisa diolah menjadi produk yang berbeda, dan memiliki keunggulan dibandingkan para pesaingnya. Kreativitas, inovasi, dan semangat juang menjadi kunci kesuksesannya. Buah kerja kerasnya juga diganjar dengan sebuah anugerah Pangan Award dari Kementrian Perdagangan untuk kategori camilan, dan inovasi pangan pada Cireng Kamsia pada tahun 2013. Hebat bukan?

Alamat...

CIRENG KAMSIA Jl. Moh Yunus No. 14, Bandung Telp. 085722224535 /

085659604292 www.cirengkamsia.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.